Mengingat Kematian
Oleh : Den Herians
Kenapa kita harus selalu mengingat kematian?, Sebab Allah Yang Maha Menyaksikan tentu saja Maha Mengetahui apa yang direncanakan manusia, setiap lintasan hati dan gerak-geriknya selalu berada dalam pengawasan Allah swt, sangat mudah bagi Allah untuk berbuat apa saja yang Dia kehendaki atas makhluq-Nya...termasuk mengambil ruh setiap makhluknya tanpa harus memberinya tau lebih dulu, oleh karena itulah setiap manusia harus menyiapkan diri dengan mengusahakan kesalihan demi menjelang husnul khatimah.
Akan tetapi .... kita sebagai manusia sering kali lupa atas ke-Maha Kuasaan Allah..., padahal DIA lah yang senantiasa mengurus diri kita... hembusan nafas, penglihatan, pendengaran... detak jantung disaat kita bangun, disaat kita tidur....rambut yang tumbuh, yang rontok dan mulai beruban....kulit yang tidak cerah lagi.. bukankah itu semua Allah swt yang mengaturnya?.. DIA yang mengatur semua program kehidupan, sementara manusia terlalu sibuk membanggakan dirinya, membanggakan aktivitas keduniaanya..”sibuk”.. ”sibuk”.. dan ”sibuk!”.
Mana jatah waktu untuk kehidupan akhirat ?....bermanfaatkah ilmu kita ?...bereskah sholat kita ?...sholihkah amalan kita?.. shahihkah ibadah kita ?...Ridlakah Allah terhadap jalan hidup kita ?...
Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikitnya kita dapat merenungi perjalanan hidup ini... kita perbaiki hati yang gersang disebabkan kehidupan dunia yang menipu. Sementara itu... perjalanan hidup dari waktu ke waktu, setiap yang kita kerjakan senantiasa dicatat dan di abadikan oleh Allah Ta’ala yang mana semuanya akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Firman Allah Ta’ala:
َََูููุฏْ ุฎَََْูููุง ุงْูุฅِْูุณَุงَู ََููุนَْูู
ُ ู
َุง ุชَُูุณِْูุณُ ุจِِู َْููุณُُู ََููุญُْู ุฃَْูุฑَุจُ ุฅَِِْููู ู
ِْู ุญَุจِْู ุงَْููุฑِูุฏِ
( Walaqod kholaqnal insaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil wariid )
“ dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”
ุฅِุฐْ َูุชَََّููู ุงْูู
ُุชَََِّูููุงِู ุนَِู ุงَْููู
ِِูู َูุนَِู ุงูุดِّู
َุงِู َูุนِูุฏٌ
( Idz yatalaqqol mutalaqqiyaani ‘anilyamiini wa ‘anisysyimaali qo’iid )
“(yaitu) ketika dua Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri ”
ู
َุง َِْูููุธُ ู
ِْู ٍَْููู ุฅَِّูุง َูุฏَِْูู ุฑَِููุจٌ ุนَุชِูุฏٌ
( Maa yalfizhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid )
“ tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir”.
َูุฌَุงุกَุชْ ุณَْูุฑَุฉُ ุงْูู
َْูุชِ ุจِุงْูุญَِّู ุฐََِูู ู
َุง ُْููุชَ ู
ُِْูู ุชَุญِูุฏُ
( Wa Jaa-at sakrotul mauti bilhaqqi dzaalika maa kuรฑta minhu tahiid )
“dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”.
( Q.S Qaaf : 16-19 ).
Allah Ta’ala mengabarkan tentang kekuasaan-Nya atas seluruh makhluq-Nya karena sesungguhnya DIA lah yang telah menciptakannya. Pengetahuan Allah Ta’ala meliputi semua urusan, bahkan sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui semua yang disembunyikan dalam jiwa bani Adam apakah itu kebaikan ataupun keburukan. Namun Allah Ta’la Yang Maha Penyayang memberikan keringanan, sehingga setiap sesuatu yang terlintas dihati manusia untuk melakukan satu keburukan selama ia tidak sampai mengucapkan dan melakukannya, Allah memberikan keleluasaan agar malaikat tidak mencatatnya sebagai satu keburukan [1].
Perintah Allah kepada malaikat -Nya untuk mengawasi manusia, ini menunjukkan kekuasaan Allah atas semua makhluq-Nya, dan Allah menjadikan malaikat-Nya sangat dekat kepada manusia dari urat lehernya, yang mencatat setiap perbuatan manusia sehingga tidak ada satu pun perbuatan mereka yang luput dari pengawasan malaikat... terlebih pengawasan Allah Yang Maha Perkasa.
Demikianlah malaikat pencatat amal menyertai manusia kemanapun dia melangkah.
Ayat:
ู
َّุง َِูููุธُ ู
ِู ٍَููู ุฅِูุงَّ َูุฏَِูู ุฑَِููุจٌ ุนَุชِูุฏٌ
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir”,
ini memberikan penjelasan dan peringatan bahwa kedua malaikat yang disebelah kanan dan kiri senantiasa mengikuti dan mengawasi... sehingga tiada satu pun perbuatan kita yang baik ataupun yang buruk, kecuali semuanya akan di abadikan oleh kedua malaikat tersebut dalam suatu catatan amal.
Kata-kata yang baik, amal-amal yang shalih...semuanya akan dicatat,.. alangkah beruntungnya orang-orang yang senantiasa beramal shalih, sehingga hidupnya mendapatkan keridloan Allah Ta’ala. Dan ucapan-ucapan serta amal-amal yang buruk akan dicatat pula... Alangkah malangnya dikehidupan akhirat kelak jika perbuatan-perbuatan maksiat itulah yang senantiasa menghiasi kehidupan sewaktu didunia... buku catatan amal akan diperlihatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui semua yang telah dikerjakan dan dilalaikannya, Firman-Nya :
ุนَِูู
َุชْ َْููุณٌ ู
َุง َูุฏَّู
َุชْ َูุฃَุฎَّุฑَุชْ
( 'Alimat nafsumm maa qoddamat wa akhkhorot )
“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya”.[2]
Manusia sering lupa kepada asal kejadiannya yang menyebabkan ia lupa kepada Allah Yang Maha Pencipta, syahwatnya kepada kehidupan dunia melalaikan dirinya dari beramal shalih... padahal antrian kematian semakin mendekat... tak perduli masih muda kah ataukah sudah tua... berapa banyak saudara, tetangga, sahabat... mereka yang telah lebih dulu meninggalkan kita...
Semua kelalaian itu pada akhirnya akan sirna dan hari pembalasan pasti terjadi, hari dimana setiap perbuatan akan dibalas dengan seadil-adilnya karena pada saatnya nanti semua urusan akan dipertanggung jawabkan, tiada seorang penolongpun.... kecuali DIA lah Allah Ta’ala, FirmanNya :
َْููู
َ َูุง ุชَู
ُِْูู َْููุณٌ َِْูููุณٍ ุดَْูุฆًุง َูุงْูุฃَู
ْุฑُ َْููู
َุฆِุฐٍ َِِّููู
( Yauma laa tamliku nafsun li nafsin syai-an wal amru yauma-idzin lillaah )
“ (yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain, dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah”.[3]
Oleh sebab itulah... Allah Ta’ala, DIA Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, memerintahkan kepada hamba-hamba Nya yang beriman agar segera menghisab dirinya... bermuhasabah, mempersiapkan diri, berbekal demi menjelang kehidupannya di masa depan yang kekal abadi...
Mengingat mati, Siapkan Diri Untuk "Hari Esok"
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ุงุชَُّููุง ุงََّููู َْููุชَْูุธُุฑْ َْููุณٌ ู
َุง َูุฏَّู
َุชْ ِูุบَุฏٍ َูุงุชَُّููุง ุงََّููู ุฅَِّู ุงََّููู ุฎَุจِูุฑٌ ุจِู
َุง ุชَุนْู
ََُููู [4]
( Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullooha waltanzhur nafsun maa qoddamat lighod, wattaqulloaha innallooha khobiiruรฑ bimaa ta’maluun )
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Allah swt menyeru orang-orang yang beriman yaitu mereka yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, yang beramal sesuai dengan syari’at-Nya. Supaya mereka takut kepada Allah dan berhati-hati terhadap hukuman-Nya dengan cara mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang dari mengerjakannya, supaya masing-masing dari mereka tadabbur (merenung) terhadap apa yang telah mereka kerjakan untuk hari kiamat. Dan sungguh Allah Maha Mengetahui setiap perbuatan makhluq-Nya, tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun, dan Dia pasti akan memberi balasannya.
Pada ayat diatas Allah Ta’ala menggunakan lafazh ุบَุฏٍ (hari esok) yaitu hari yang belum tentu kita masih berada di dunia ini, sementara itu apa yang telah kita kerjakan hari ini? amal shalih kah atau amal yang banyak melalaikan dari mengingat Allah?, dan bila hari esok kita tidak ada di dunia lagi, artinya terputus segala amal dan tiada lagi kesempatan untuk mempersiapkan diri demi menjelang hari penghisaban, dimana setiap amal di dunia dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Yang Maha Perkasa. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Penyayang memperingatkan hamba-hambaNya yang beriman agar senantiasa memelihara diri dengan ketaqwaan, tidak menyia-nyiakan waktu yang sungguh bisa dilalui dengan keta’atan kepada-Nya.
AlMaraghi menjelaskan lafazh ุบَุฏٍ yaitu : َููู
ُ ุงَِูููุงู
َุฉِ (hari kiamat), dinamakan demikian karena begitu dekatnya. Melukiskan tidak akan terasanya kehidupan di dunia, yang tiba-tiba lenyap berganti dengan kehidupan akhirat yang kekal...
Demikian nasihat dan peringatan Allah bagi orang-orang yang beriman, supaya mengisi kehidupan dunia dengan mengerjakan apa saja yang bermanfa’at bagi kehidupan akhirat sehingga mendapatkan pahala disisi Allah berupa kenikmatan yang kekal.
Ingat lah senantiasa ...
Bahwa Setiap Perbuatan Pasti akan Ada Catatannya
ุฅِุฐْ َูุชَََّููู ุงْูู
ُุชَََِّูููุงِู ุนَِู ุงَْููู
ِِูู َูุนَِู ุงูุดِّู
َุงِู َูุนِูุฏٌ ู
َุง َِْูููุธُ ู
ِْู ٍَْููู ุฅَِّูุง َูุฏَِْูู ุฑَِููุจٌ ุนَุชِูุฏٌ َูุฌَุงุกَุชْ ุณَْูุฑَุฉُ ุงْูู
َْูุชِ ุจِุงْูุญَِّู ุฐََِูู ู
َุง ُْููุชَ ู
ُِْูู ุชَุญِูุฏُ [5]
“ ketika dua Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri , tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”.
...Hingga akhirnya manusia sampai kepada ajalnya yang tiada seorang pun dapat memundurkannya atau memajukannya. Oleh karena itu sungguh penting muhasabah mengingat kematian agar kita dapat mempersiapkan diri dengan amal shalih.
Pentingnya Mengingat Kematian
karena Semuanya akan Kembali Kepada Allah
karena Semuanya akan Kembali Kepada Allah
ُُّูู َْููุณٍ ุฐَุงุฆَِูุฉُ ุงْูู
َْูุชِ ََููุจُُْูููู
ْ ุจِุงูุดَّุฑِّ َูุงْูุฎَْูุฑِ ِูุชَْูุฉً َูุฅََِْูููุง ุชُุฑْุฌَุนَُูู
(Kullu nafsiรฑ dzaaiqotul mauti wa nabluukum bisysyarri wal khoiri fitnatan wa ilainaa turja’uun )
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan ”(Q.S. alAnbiya: 35)
Hanyalah Allah Yang Maha Hidup, tidak akan pernah mati, maka semuanya hanya kembali kepada-Nya. Ayat diatas merupakan ungkapan ta’ziyah (belasungkawa) bagi seluruh manusia, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun yang kekal dikehidupan dunia ... melainkan pasti datangnya kematian.
ุฑََูู ุงِูุงู
َุงู
ُ ุฃَุญู
َุฏُ َูู
ُุณِูู
ٌ ุนَู ุนَุจุฏِุงِููู ุจِู ุนَู
ุฑٍู ุจِู ุงูุนَุงุตِ َูุงَู : َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงِููู « ู
َู ุฃَุญَุจَّ ุงَู ُูุฒَุญุฒَุญَ ุนَِู ุงَّููุงุฑِ َُููุฏุฎََู ุงูุฌََّูุฉَ ، َููุชُุฏุฑُِْูู ู
ََِّููุชُُู ََُููู ُูุคู
ُِู ุจِุงِููู َูุงَูููู
ِ ุงูุขุฎِุฑِ ، ََูููุฃุชِ ุงَِูู ุงَّููุงุณِ ู
َุง ُูุญِุจُّ ุงَู ُูุคุชَู ุงَِِููู » [6]
Imam Ahmad dan Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al’Ash , ia berkata: Rasulullah saw bersabda : "Barang siapa diantara kalian yang ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukan ke Surga hendaklah dia menemui kematiannya dalam keimanan kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah dia berjasa kepada ummat manusia sesuai dengan apa yang mereka sukai".
Allah Ta’ala memerintahkan menusia agar bertakwa, hanyalah demi kebahagiaan manusia itu sendiri...
َูุงุชَُّููุง َْููู
ًุง ุชُุฑْุฌَุนَُูู ِِููู ุฅَِูู ุงَِّููู ุซُู
َّ ุชََُّููู ُُّูู َْููุณٍ ู
َุง َูุณَุจَุชْ َُููู
ْ َูุง ُูุธَْูู
َُูู
( Wattaquu yaumaรฑ turja’uuna fiihi ilalloohi tsumma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat wa hum laa yuzhlamuun )
"dan peliharalah dirimu dari (azab) yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)". (Q.S. AlBaqarah: 281)
Hendaklah Takut dan Khawatir dari berbuat Zhalim, sebab ia membawa penderitaan di saat sakrotul maut
ََْููู ุชَุฑَู ุฅِุฐِ ุงูุธَّุงِูู
َُูู ِูู ุบَู
َุฑَุงุชِ ุงْูู
َْูุชِ َูุงْูู
ََูุงุฆَِูุฉُ ุจَุงุณِุทُู ุฃَْูุฏِِููู
ْ ุฃَุฎْุฑِุฌُูุง ุฃَُْููุณَُูู
ُ ุงَْْูููู
َ ุชُุฌْุฒََْูู ุนَุฐَุงุจَ ุงُِْูููู ุจِู
َุง ُْููุชُู
ْ ุชََُُููููู ุนََูู ุงَِّููู ุบَْูุฑَ ุงْูุญَِّู َُْูููุชُู
ْ ุนَْู ุขَูุงุชِِู ุชَุณْุชَْูุจِุฑَُูู
( Wa lau taroo idzizhzhoolimuuna fii ghomarootil mauti walmalaaikatu baasthuu aidiihim : Akhrijuu anfusakumul yauma tujzauna ‘adzaabalhuuni bimaa kuntum taquuluuna ‘ala lloohi ghoirol haqqi wa kuntum ‘an aayati tastakbiruun )
“... Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu!" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”( Q.S. al An’aam :93)
Santunnya Malakal Maut
Ketika Mencabut Ruh Orang Beriman
ุงَّูุฐَِูู ุชَุชَََّููุงُูู
ُ ุงْูู
ََูุงุฆَِูุฉُ ุทَِّูุจَِูู ََُُูููููู ุณََูุงู
ٌ ุนََُْูููู
ُ ุงุฏْุฎُُููุง ุงْูุฌََّูุฉَ ุจِู
َุง ُْููุชُู
ْ ุชَุนْู
ََُููู
( Alladziina tatawaffaahumul malaa-ikatu thoyyibiina yaquuluuna salaamun 'alaikum, udkhulul jannata bimaa kuntum ta'lamuun )
“Ialah orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun´alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan" (Q.S. AnNahl:32)
Dalam salah satu hadits pun dijelaskan bagaimana Rasulullah saw memberitakan tentang kematian seorang yang beriman :
ุนَِู ุงْูุจَุฑَّุงุกِ ุจِْู ุนَุงุฒِุจٍ ุนَِู ุงَّููุจِِّู ุตูู َูุงَู :ุฅَِّู ุงْูู
ُุคْู
َِู ุฅِุฐَุง ุญَุถَุฑَ ุฃَุชَุงُู ู
ٌََูู ِูู ุฃَุญْุณَِู ุตَُูุฑِِู َูุฃَุทَْูุจِ ุฑِْูุญٍ ََููุฌِْูุณُ ุนِْูุฏَُู َِููุจْุถِ ุฑُْูุญِِู َูุฃَุชَุงُู ู
َََููุงِู ุจِุญَُْููุทٍ ู
َِู ุงْูุฌََّูุฉِ ٍََْูููู ู
َِู ุงْูุฌََّูุฉِ. ุฃุฎุฑุฌ ุจู ู
ูุฏู
Dari Al-Barra bin ‘Azib, dari Nabi saw, bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin apabila berada dalam detik-detik kematian, maka malaikat datang dalam bentuk yang sebagus-bagusnya dan seharum wangi-wangian, lalu ia duduk di sisinya untuk mencabut ruhnya, dan datang pula dua malaikat lainnya dengan membawa gandum dari surga dan kafan dari surga”. (H.r. Ibnu Mundih)
ุฌَุงุกَ ِูู ุญَุฏِْูุซِ ุฌَุงุจِุฑٍ ุฑุถู ุฃََّู ุฑَุณَُْูู ุงِููู ุตูู َูุงَู :ุฅَِّู ุงْูู
َูุงَุฆَِูุฉَ ุชَُُْููู ِูุฑُْูุญِ ุงْูู
ُุคْู
ِِู : ุฃُุฎْุฑُุฌِู ุฃََّูุชَُูุง ุงูุฑُّْูุญُ ุงูุทَِّّูุจَุฉُ ِูู ุงْูุฌَุณَุฏِ ุงูุทَِّّูุจِ ุงَّูุฐِู ُْููุชِ ุชَุนْู
َุฑَُِْููู, ุฃُุฎْุฑُุฌِู ุฅَِูู ุฑَْูุญٍ َูุฑَْูุญَุงٍู َูุฑَุจٍّ ุบَْูุฑِ ุบَุถْุจَุงَู. ุฃูุฃูุจูุงุก ูู
ูู ุงูู
ูุช: 28
Terdapat riwayat dalam hadis Jabir r,a. bahwasanya Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya malaikat berkata kepada ruh orang mukmin, ‘Keluarlah wahai ruh yang baik dalam jasad yang baik yang telah kau makmurkan, keluarlah kepada ketentraman dan rezeki dan kepada Tuhan yang tidak marah. (Al-Anbiya wa Malakul Maut: 28)
Yaa Ilaahanaa...masukan kami kedalam golongan hamba-hamba Mu yang husnul khatimah...aamiin.
Kabar Gembira
Surga Bagi Siapa Yang Takut Kepada Allah
َِููู
َْู ุฎَุงَู ู
ََูุงู
َ ุฑَุจِِّู ุฌََّูุชَุงِู [7]
( Wa liman khoofa maqooma Robbihii jaรฑataan )
" Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga ".
Takutnya seorang hamba kepada Allah Ta’ala akan hari penghisaban, menyebabkan ia menahan diri dari perbuatan maksiyat dengan senantiasa mengerjakan keta’atan kepada-Nya. Dan Allah menjanjikan dua surga bagi nya.
Seseorang yang menahan diri dari perbuatan maksiyat ini sebagaimana seorang laki-laki yang bermaksud berbuat maksiyat, kemudian ia ingat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan meninggalkannya karena takut kepada-Nya. Sebagaimana Firman-Nya Ta’ala :
َูุฃَู
َّุง ู
َْู ุฎَุงَู ู
ََูุงู
َ ุฑَุจِِّู َََูููู ุงَّْูููุณَ ุนَِู ุงََْูููู َูุฅَِّู ุงْูุฌََّูุฉَ َِูู ุงْูู
َุฃَْูู [8]
( Wa ammaa man khoofa maqooma Robbihii wa nahannafsa ‘anil hawaa fa innal jannata hiyal ma-waa )
"Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)".
Orang-orang yang seperti ini adalah mereka yang ketika di dunia sangat takut kepada Allah Ta’ala, mereka senantiasa khawatir jatuh kepada perbuatan dosa.
Semoga kita semua di golongkan kepada mereka hamba-hamba Allah yang diberikan kekuatan untuk menjaga diri dari kemaksiyatan.. Wa Allaahul Musta'aan..
[1]. 346 - ุญَุฏَّุซََูุง ุณَุนِูุฏُ ุจُْู ู
َْูุตُูุฑٍ َُููุชَْูุจَุฉُ ุจُْู ุณَุนِูุฏٍ َูู
ُุญَู
َّุฏُ ุจُْู ุนُุจَْูุฏٍ ุงْูุบُุจَุฑُِّู - َูุงَّْูููุธُ ِูุณَุนِูุฏٍ - َูุงُููุง ุญَุฏَّุซََูุง ุฃَุจُู ุนََูุงَูุฉَ ุนَْู َูุชَุงุฏَุฉَ ุนَْู ุฒُุฑَุงุฑَุฉَ ุจِْู ุฃََْููู ุนَْู ุฃَุจِู ُูุฑَْูุฑَุฉَ َูุงَู َูุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู -ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
- « ุฅَِّู ุงََّููู ุชَุฌَุงَูุฒَ ูุฃُู
َّุชِู ู
َุง ุญَุฏَّุซَุชْ ุจِِู ุฃَُْููุณََูุง ู
َุง َูู
ْ َูุชَََّููู
ُูุง ุฃَْู َูุนْู
َُููุง ุจِِู
(ุตุญูุญ ู
ุณูู
ูก- ูจูก ,ุจุงุจ ุชุฌุงูุฒุงููู ุนู ุญุฏูุซ ุงูููุณ,ุงูู
ูุชุจุฉ ุงูุดุงู
ูุฉ )
[2]. Q.S : Al Infithar ; 5
[3] Q.S : Al Infithar ; 19
[4] . Q.S. Al Hasyr:18
[5] . Q.S Qaaf : 17-19
[6] .( ุชูุณูุฑ ุงูุชูุณูุฑ ูููุทุงู - (ุฌ 1 / ุต 253
[7] . Q.S. ArRahman : 46
[8] . Q.S. AnNaazi’at : 40-41

Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik