21.9.17

gbr.baik dunia akhirat

Baik Dunia Baik Akhirat
Oleh: Den Herians
Kita disyari’atkan supaya berdo’a kepada Allah memohon kebaikan dunia dan akhirat. Adapun kebaikan dunia, AlMaraghi menjelaskan:
وَحَسَنَةُ الدُّنيَا هِىَ العَافِيَةُ أَوِ الْمَرأَةُ الصَّالِحَةُ أَوِ الأَولَادُ البَرَرَةُ أَوِ العِلمُ وَالْمَعرِفَةُ.
Dan makna hasanatuddunya adalah al’aafiyah yaitu kehidupan yang sehat sejahtera, serta almar'atusshalihah yaitu seorang istri yang shalihah serta al-aulaadulbararah yaitu anak-anak yang berbakti,  dan juga ilmu dan ma’rifat.(Tafsir alMaraghi)
Al 'Afiyah
          Lafazh ‘afiyah  mencakup kesehatan jasmani dan rohani sebagaimana dijelaskan dalam salah satu kitab syarah, yaitu :
عَن طَارِقِ بنِ أَشيَمَ قَالَ ( كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسلَمَ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ الصَّلَاةَ ثُمَّ أَمَرَهُ أَن يَدعُوَ بِهَؤُلَاءِ الكَلِمَاتِ : اَللَّهُمَّ اغفِر لِي وَارحَمنِي وَاهدِنِي وَعَافِنِي وَارزُقنِي ) رواه مسلم .
وَعَافِنِي : أَي مِن كُلِّ مَرَضٍ .وَالأَمرَاضُ نَوعَانِ : مَرَضُ قَلبِي كَمَا قَالَ تَعَالَى (فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً) وَمَرَضُ جِسمِي فِي الأَعضَاءِ وَالبَدَنِ.[1]
Dari Thariq bin Asyam ia berkata: Bila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi saw mengajarinya sholat kemudian memerintahkannya supaya berdo’a dengan kalimat-kalimat ini: " Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'." (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki). H.R. Muslim
Dan lafazh عَافِنِي , yaitu dari setiap penyakit. Adapun penyakit-penyakit ini terdapat 2 macam :
1.     Penyakit hati 
Sebagaimana Firman Allah Ta’ala : "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya" .
2.      Penyakit Jasmani  
Dalam fungsi-fungsi organ dan badan. 
(Iqazhul Ahkam Fi Syarhi ‘Umdati Al Ahkam Juz 4 hal 59_ Maktabah Syamilah)
          Dengan demikian jika seseorang yang badannya sehat namun ia enggan untuk bangkit dan beramal shalih, enggan untuk beriman kepada Allah Ta’ala sebagaimana orang-orang kafir, fasik, dan munafiq. Maka dapat dipastikan bahwa orang yang demikian itu tidaklah berada dalam keadaan ‘afiyat. Oleh karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan agar kita memohon kepadaNya agar kita diberikan nikmat ‘afiyat, yaitu sehat jasmani dan rohani.
Al Mar’atushshalihah
          Wanita / Istri yang shalihah ini merupakan kebaikan dunia yang didambakan setiap laki-laki yang normal. Untuk bersanding dengan wanita yang shalihah tentu saja seorang pria harus berjuang agar dirinya menjadi orang yang shalih, sebab wanita yang shalihah diperuntukan untuk laki-laki yang shalih  demikian pula sebaliknya, sebagaimana Firman-Nya:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
"wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).." ( Q.S. AnNuur:26) [2]
Demikian pula pada ayat 3 surat AnNuur , Allah berfirman :
الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
" laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin”[3]
Adapun Istri yang shalilah, Allah ta’ala telah menjelaskan sifat-sifatnya dalam AlQuran , FirmanNya:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
" sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).." ( Q.S. AnNisaa:34)
Karakter istri sholihah ini dijelaskan pula dalam hadits riwayat Abu Dawud, yang suatu ketika Rasulullah saw bersabda kepada ‘Umar :
أَلاَ أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ, الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ [4]
"Maukah aku beritahukan simpanan paling baik yang disimpan oleh seseorang? Yaitu istri yang shalihah yang apabila suaminya melihatnya maka ia akanmenyenangkannya, dan apabila ia memerintahkannya, maka diapun mentaatinya, dan kalau suaminya pergi maka dia akan menjaga amanahnya"
Ketika kita mulai memahami begitu teramat berharga dan pentingnya berkeluarga Islami, maka men-shalih-kan diri kita adalah satu-satunya jalan demi menggapai harapan tersebut. Tentu saja modalnya adalah ilmu dan keta’atan kepadaNya, sebab dengan kedua hal inilah perjuangan hidup berumah tangga dapat diwarnai keshalihan, sehingga berbuah kecintaan kepada Allah Ta’ala.
          Sebagai keteladanan bagi para wanita yang ingin menjadi Istri shalihah, baginda Rasulullah saw telah mencukupkan dengan empat wanita istimewa di dunia yang patut dicontoh, yaitu :
 1325 - حَدَّثَنَا عَبدُ اللهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي نَا عَبدُ الرَّزَاقِ أَنَا مَعمَرُ عَن قَتَادَةَ عَن أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : حَسبُكَ مِن نِسَاءِ العَالَمِينَ مَريَمُ ابنَةُ عِمرَانَ وَخَدِيجَةُ بِنتُ خُوَيلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امرَأَةُ فِرعَونَ - فضائل الصحابة - أحمد بن حنبل - ج 2 / ص 755
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah ia berkata telah menceritakan kepadaku Bapakku :telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq : telah mengabarkan kepadaku Ma’mar dari Qatadah dari Anas bahwa sesungguhnya Nabi saw bersabda: " Cukuplah bagi kamu keteladanan dari wanita di dunia  adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad serta Asiyah istrinya Fir’aun".( Fadlailushshahabah, Ahmad bin Hambal ).
          Dengan demikian hendaklah para wanita mempelajari bagaimana sifat dan kehidupan para Ummi yang disebutkan oleh Rasulullah saw tersebut, yang mudah-mudahan menjadi motivasi bagi keshalihan para wanita. Kemudian para istri agar berhati-hati dengan sikap dan perbuatan yang  menyebabkan dirinya mengingkari  segala kebaikan suaminya,  sebab bagi perempuan yang kufur atas kebaikan suaminya, maka tempat tinggal mereka di neraka, sebagaimana sabda Nabi saw :
29 - حَدَّثَنَا عَبدُ اللهِ بنُ مَسلَمَةَ عَن مَالِكٍ عَن زَيدِ بنِ أَسلَمَ عَن عَطَاءِ بنِ يَسَارٍ عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَ سَلَّمَ ( أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكثَرُ أَهلِهَا النِّسَاءُ يَكفُرنَ ) . قِيلَ أَيَكفُرنَ بِاللهِ ؟ قَالَ ( يَكفُرنَ العَشِيرَ وَيَكفُرنَ الإِحسَانَ لَو أَحسَنتَ إِلَى إِحدَا هُنَّ الدَّهرَ ثُمَّ رَأَت مِنكَ شَيئًا قَالَت مَا رَأَيتُ مِنكَ خَيرً قَطُّ )   [5]
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atho' bin Yasar dari Ibnu 'Abbas  ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering Kufur". Ditanyakan: "Apakah mereka mengingkari Allah?" Beliau bersabda: "Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadapseseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: 'aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpundarimu". (H.R. Bukhari).
Anak yang berbakti
          Amaliah yang shalih merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap hamba, baik dia memiliki anak ataupun tidak, sebab amal yang shalih inilah yang lebih baik menjadi harapan sebagai jalan meraih ampunan dan cinta Allah Ta’ala, adapun anak-anak merupakan perhiasan dunia sebagaimana FirmanNya:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
" harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Q.S. AlKahfi:46)
Memiliki anak-anak yang shalih merupakan dambaan setiap orang tua, kendatipun orang tua tersebut merasa bahwa mereka bukanlah orang tua yang shalih. Adapun anak-anak yang shalih sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi saw, dapat menjadi amaliah yang senantiasa mengalir ketika orangtuanya telah meninggal, karena anak-anak shalih tersebut senantiasa berdo’a untuk mereka.
4310 - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ - يَعْنِى ابْنَ سَعِيدٍ - وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ - هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ - عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ    [6]
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah -yaitu Ibnu Sa'id- dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al 'Ala' dari Ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya." (H.R. Muslim)
          Dan diantara pendidikan anak yang paling utama adalah mendidik anak supaya mereka mengenal dan mencintai Allah, sebagaimana Luqman mendidik anaknya, Firman Allah Ta’ala:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
" dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".( Q.S. Luqman:13)
          Rasulullah saw pun mengajarkan kepada anak-anak untuk ta’at kepada Allah, yaitu sewaktu beliau saw mendidik Ibnu ‘Abbas, sebagaimana dalam hadits:
2516 -..... عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ  _ سنن الترمذي - (ج 4 / ص 667)
.....dari Ibnu Abbas berkata: Aku pernah berada di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pada suatu hari, beliau bersabda: "Hai 'nak, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Ia menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemui-Nya dihadapanmu, bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. (maksudnya takdir telah ditetapkan) " Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.(H.R. AlTirmidzi)
          Demikianlah hendaknya kita sebagai orangtua agar mendidik anak-anak terlebih dahulu mengenal Allah dan memahami kewajiban menta’ati Nya. Kemudian selanjutnya untuk kebaikan dunianya barulah kita arahkan mereka sesuai dengan karakternya.
Ilmu dan Ma’rifat
          Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwasanya didalam alQuran terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang berilmu, sehingga orang beriman yang berilmu akan dilebihkan derajatnya oleh Allah Ta’ala.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Q.S. AlMujadilah:11)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
" Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu) Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (Q.S. Faathir:28)
          Dengan ilmu manusia dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil, oleh karena itulah demikian penting kedudukan thalab ilmu ini. Orang-orang yang berilmu mampu melihat bahwa wahyu yang diturunkan Allah itu adalah mutlaq benar dari Nya, sebagaimana FirmanNya:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
" dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji" ( Q.S. Saba:6)
          Allah Ta’ala pun menyebutkan martabat ahli ilmu bahwa mereka itu adalah orang-orang yang yakin akan kebasaranNya, bahwasanya hanya Allah lah yang berhak disembah          , sebagaimana FirmanNya:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
" Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(Q.S. Ali Imran:18).
Allah swt pun membedakan kedudukan orang yang  berilmu dengan yang tidak, FirmanNya:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
"(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah:"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidakmengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (Q.S.Azzumar:9)
Pada ayat diatas Allah Ta’ala menunjukkan sifat-sifat orang yang berilmu, bahwa mereka senantiasa beribadat diwaktu malam dengan melaksanakan qiyamulail, mereka ahli ilmu itu sangat takut akan adzab Allah Ta’ala, maka mereka senantiasa mengharapkan rahmat Allah swt.
Maka sebagai salah satu kebaikan di dunia yang mesti kita harapkan dan mohonkan kepada Allah adalah ilmu, yaitu kita mampu difahamkan agama, yang dengan ilmu tersebut kita mampu ma’rifat yaitu mengenal Allah dan RasulNya sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang ta’at dengan segala ketentuan Allah dan RasulNya.
Sabda Rasulullah saw :
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ .[7]
"Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah akan memahamkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah". (H.R. Bukhari)
          Orang-orang yang faham terhadap ilmu agama merupakan pewaris Nabi. Dan kita diajarkan hendaklah berilmu terlebih dahulu sebelum beramal, sebab bagaimana mungkin seseorang akan dapat melaksanakan ibadah sedangkan ilmu mengenai peribadatan tersebut tidak jelas sandarannya kemana. Bahkan rasulullah saw menyebutkan keutamaan orang yang berilmu dari ahli ibadah.
 3643 -حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ». [8]
 Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud aku mendengar 'Ashim bin Raja bin Haiwah menceritakan dari Daud bin Jamil dari Katsir bin Qais ia berkata, "Aku pernah duduk bersama Abu Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, "Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu." Abu Ad Darda lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak." ( H.R. Abu Dawud).
          Demikian Rasulullah saw mengajarkan umatnya agar meringankan langkah untuk menghadiri majelis ilmu sehingga beliau menyebutkan seorang yang ‘alim lebih utama dari ahli ibadah. Hakikatnya adalah seorang yang ‘alim yang dimaksud oleh rasulullah saw pasti ahli ibadah, dan tidak setiap ahli ibadah pasti ahli ilmu.
"Ya Allah berilah kami ilmu yang dengan ilmu tersebut kami termasuk golongan hamba-hamba yang mencintaiMu"
          Adapun kebaikan akhirat, Ibnu Katsir menjelaskan:
فَأَعْلَى ذَلِكَ دُخُولُ الْجَنَّةِ وَتَوَابِعُهُ مِنَ الْأَمْنِ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ فِي الْعَرَصَاتِ، وَتَيْسِيرِ الْحِسَابِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أُمُورِ الْآخِرَةِ الصَالِحٍةِ،.[9]
Maka yang paling tinggi itu adalah masuk surga dan yang berkaitan dengannya berupa keamanan dari ketakutan yang sangat besar ketika dipadang mahsyar, dan mendapat kemudahan dalam proses hisab, dan lain sebagainya  dari segala urusan akhirat yang baik-baik.
قَالَ الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: «مَنْ أُعْطِيَ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَجَسَدًا صَابِرًا، فَقَدْ أُوتِيَ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَوُقِيَ عَذَابَ النَّارِ» .[10]
Telah berkata AlQasim bin ‘Abdurrahman:  "Siapa saja yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, kemudian jasad yang senantiasa bersabar, maka sungguh ia telah diberikan kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan ia dijaga dari ‘adzab neraka"
                Rasulullah saw pun biasa berdo’a memohon kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana yang dijelaskan dalam redaksi hadits:
 4250-حَدَّثَنَا أَبُو مَعمَرَ حَدَّثَنَا عَبدُ الوَارِثِ عَن عَبدِ العَزِيزِ عَن أَنَسٍ قَالَ  :كَانَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ( اَللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّاَرِ(صحيح البخاري -(ج 4 / ص 1644( [11]
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar : telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abdul Aziz dari Anas dia berkata: Nabi saw berdo'a:
 اَللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّاَرِ
 "Ya Allah Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab neraka".(H.R. Bukhari).
 6026 -حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبدُ الوَارِثِ عَن عَبدِ العَزِيزِ عَن أَنَسٍ قَالَ :كَانَ أَكثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ - صحيح البخاري - ج 5 / ص 2347
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abdul Aziz dari Anas dia berkata; "Do'a yang paling banyakdipanjatkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah: "Ya Allah Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan hindarkanlahkami dari siksa api neraka." (H.R. Bukhari).
          Do’a tersebut diatas mencakup seluruh makna do’a-do’a yang berkaitan dengan segala urusan dunia dan akhirat.[12]


[1] .المكتبة الشاملة إيقاظ الأفهام في شرح عمدة الأحكام - (ج 4 / ص 59)
[2] . Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.
[3] Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman menikah dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.
[4] . سنن أبى داود - ج 2 / ص 50
[5] . ( صحيح البخاري - (ج 1 / ص 19
[6] .( صحيح مسلم - (ج 5 / ص 73
[7] . ( صحيح البخاري - (ج 1 / ص 39
[8] .( سنن أبى داود - (ج 3 / ص 354
[9] . تفسير القرآن العظيم (ابن كثير)
[10] . Ibid
[11] . المكتبة الشاملة
[12] . Lihat: Fathul baari

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik