Ibadah dan Pengertiannya
Oleh: Den Herians
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)".[1]
Rasulullah saw telah mewariskan ilmu Addiinul-Islam kepada para shahabat dengan pemahaman yang sempurna yang tidak perlu lagi ada penambahan dan pengurangan, demikian pula para shahabat melanjutkan perjuangan Beliau saw dalam memelihara risalah yang telah sempurna ini, dengan demikian maka seyogyanya ummat Islam tidak terpecah belah dan berbeda-beda dalam memahami syari’at yang telah sempurna dan jelas setiap aturannya apalagi dalam konteks ibadah yang sudah diatur niyat dan kaifiyatnya secara khusus oleh Allah Ta’ala dan diajarkan kepada Rasul-Nya saw.
Pengertian Ibadah
مَعنَى العِبَادَةِ فِي اللُّغَةِ الطَّاعَةُ مَعَ الخُضُوعِ [2] . وَأَمَّا العِبَادَةُ فِي الشَّرعِيَّةِ فَقَد قَالَ شَيخُ الإِسلَامِ ابنُ تَيمِيَّةَ:" اَلعِبَادَةُ: اِسمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرضَاهُ، مِنَ الأَقوَالِ وَالأَعمَالِ البَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ" [3]
Makna ibadah menurut bahasa adalah keta’atan beserta ketundukan. Adapun Ibadah menurut istilah syara’, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Lafazh اَلعِبَادَةُ merupakan isim jama bagi tiap-tiap hal yang Allah mencintainya dan meridhainya berupa ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan, baik yang batin maupun yang zhahir.
وَقَالَ شَيخُ الإِسلَامِ رَحمَةُ اللهِ عَلَيهِ: اَلعِبَادَةُ هِيَ طَاعَةُ اللهِ بِامتِثَالِ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ عَلَى أَلسِنَةِ الرُّسُلِ.
Dan Syaikhul Islam juga mengatakan : Ibadah adalah menta’ati Allah dengan melaksanakan apa-apa yang Allah perintahkan melalui lisan para Rasul.
Allah Ta’ala berfirman : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ : " hanya kepada Engkaulah Kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan".Terdapat penjelasan dari 'ulama (para ahli ilmu) dalam Tafsir alMuyassar :
وَفِي هَذِهِ الآيَةِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ العَبدَ لَا يَجُوزُ لَهُ أَن يُصَرِّفَ شَيئًا مِن أَنوَاعِ العِبَادَةِ كَالدُّعَاءِ وَالِاستِغَاثَةِ وَالذَّبحِ وَالطَّوَافِ إِلَّا للهِ وَحدَهُ، وَفِيهَا شِفَاءُ القُلُوبِ مِن دَاءِ التَّعَلُّقِ بِغَيرِ اللهِ، وَمِن أَمرَاضِ الرِّيَاءِ وَالعُجُبِ، وَالكِبرِيَاءِ.[4]
Ayat ini menunjukan bahwa seorang hamba itu tidak diperbolehkan untuk merubah apapun diantara macam-macam ibadah yang telah ditetapkan, seperti do’a, istighatsah, ibadah kurban, tawaf, kecuali semuanya hanya bagi Allah semata, yang didalamnya terdapat obat hati dari penyakit ketergantungan kepada selain Allah, dan dari penyakit-penyakit riya, ‘ujub dan kesombongan.
Perbedaan ‘Ibadah dan ‘Adat/budaya
‘Ibadah merupakan suatu cara mendekatkan diri kepada Allah SWT yang aturannya telah ditetapkan oleh-Nya sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya yang mana segala ‘adat istiadat yang ada harus tunduk kepada aturan Allah. Sedangkan ‘Adat merupakan kebiasaan suatu penduduk dalam suatu bentuk atau prilaku yang bukan ditetapkan oleh Syari’at, bahkan sering kali menyelisihi syari’at. Dalam menyikapi masalah ‘adat ini hendaknya didiskusikan bila memang memungkinkan, dengan cara diajak meneliti terlebih dahulu sumber yang jelas dari mana asalnya suatu ‘adat tersebut dan siapa yang membuat ketetapan ‘adat tersebut.
Kesimpulan Pendapat 4 Imam Madzhab
Mereka ke empat Imam Madzhab yang telah dikenal di masyarakat Islam semuanya berpendapat sama, yaitu mereka memerintahkan agar mencocoki AlQuran dan AsSunnah. Imam Hanafi dan Imam Syafi’i mengatakan : “ Apabila Hadits itu shahih maka itulah madzhabku”. Dengan demikian jelas sekali bahwa mereka memerintahkan untuk berpegang pada hadits shahih. Kemudian Imam Malik mengatakan bila ada pendapat beliau yang menyalahi sunnah Rasul saw hendaknya ditinggalkan pendapatnya tersebut. Juga Imam Ahmad memerintahkan agar tidak Taqlid kepada seseorang pun. Dengan demikian keempat Imam Madzhab memerintahkan agar meninggalkan pendapat mereka jika menyalahi Sunnah Nabi saw.[5]
Mengetahui Ilmu terlebih dahulu Sebelum Berkata dan Beramal
Allah Ta’ala berfirman :
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا [6]
“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban”.
وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، مَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ [7]
"Sesungguhnya ‘ulama adalah pewaris para Nabi, dan mereka mewariskan ilmu, barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang besar, dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga".
Sabda Rasulullah saw :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ .[8]
"Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan maka Allah akan memahamkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah". (H.R. Bukhari)
Allah Ta’ala berfirman : إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ : "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘ulama" [9].
Dan Firman-Nya : وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ : " Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu" [10].
Dan Firman-Nya :
... يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ[11]
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan" .
Ilmu merupakan syarat dalam shahihnya suatu perkataan dan perbuatan, namun ilmu juga tidak akan bermanfa’at apa-apa kecuali dengan mengamalkannya. Kita diajarkan hendaklah berilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan beramal, sebab bagaimana mungkin seseorang akan dapat melaksanakan ibadah sedangkan ilmu mengenai peribadatan tersebut tidak jelas sandarannya kemana. Dengan ilmu manusia dapat mengetahui mana yang haqdan mana yang bathil, oleh karena itulah demikian penting kedudukan thalab ilmu ini. Adapun orang-orang yang benar keilmuannya mampu melihat bahwa wahyu yang diturunkan Allah itu adalah mutlaq benar dari Nya, sebagaimana FirmanNya:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [12]
" dan orang-orang yang diberi ilmu melihat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji" .
Bahkan rasulullah saw menyebutkan keutamaan orang yang berilmu dari ahli ibadah :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ ». [13]
Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud aku mendengar 'Ashim bin Raja bin Haiwah menceritakan dari Daud bin Jamil dari Katsir bin Qais ia berkata, "Aku pernah duduk bersama Abu Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, "Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu." Abu Ad Darda lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan serang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak." ( H.R. Abu Dawud).
Demikian Rasulullah saw mengajarkan umatnya agar meringankan langkah untuk menghadiri majelis ilmu sehingga beliau menyebutkan seorang yang ‘alim lebih utama dari ahli ibadah. Hakikatnya adalah seorang yang ‘alim yang dimaksud oleh Rasulullah saw pasti ahli ibadah, dan tidak setiap ahli ibadah pasti ahli ilmu. WallaahulMuwaffiq.

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik