Menjadi satu keniscayaan dalam satu kelompok manusia tak pernah bisa lepas dari pendahulu dan orang-orang baru, dimana terkadang senioritas membuat batasan dan jarak supaya kehormatannya tak diinjak-injak, disisi lain tak jarang orang-orang baru bila diberi peluang justru menjadi hilang adab, tak heran bila satu kelompok akhirnya berpecah menjadi banyak kelompok akibat luka dan kecewa yang timbul dari buruknya aqidah dan akhlaq, yang paling memilukan lahirnya kelompok baru hanya karena berebut harta dunia, begitulah bila manusia tidak mau dibina dengan hidayah Sang Pemilik semesta.
Jauh Berbeda dengan manusia-manusia yang kokoh dalam aqidah dan akhlaq, mereka hidup dan bergerak dibawah panduan cahaya yang senantiasa memecah kegelapan fitnah dan kejahiliyahan, mereka itulah para salafushshalih, para pendahulu yang berjuang hanya untuk meraih nilai fisabilillah, pantas bila Allah 'Azza wa Jalla meninggikan kedudukan mereka. Maka mengapa para pejuang khalaf tidak mengikuti jejak mereka?
Kedudukan As-Sābiqūnal-Awwalūn di Sisi Allāh Ta’ālā
Sebuah perjuangan tentu menuntut pengorbanan, dan sebuah pengorbanan lahir karena kemurnian cinta, adapun pengorbanan sejati adalah ketika berani menyerahkan segalanya disaat tak banyak orang lain yang melakukannya. Demikianlah yang dilakukan para sahabat As-Sābiqūnal-Awwalūn, betapa... tidak ada keraguan akan cinta mereka kepada baginda Nabi terkasih, mereka rela habis-habisan, tumpah darah dan harta demi perjuangan menegakkan risalah Islam. Tiada ketenangan dan kebahagiaan dalam diri mereka selain kebahagiaan dan kecintaan dalam menemani baginda Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka pantas saja Allāh 'Azza wa Jalla menyanjung mereka, Firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allāh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allāh dan Allāh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar" [1]
Mereka As-Sābiqūnal-Awwalūn adalah para sahabat Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang merupakan orang-orang awalan yang berlomba-lomba bersegera kepada Iman dan Hijrah serta kepada Jihad dan Penegakkan Dĩnullāh. [2]
Adz-Dzahabi menyebutkan dalam tarikh Al-Islam dan Siyaru A'lāmi an-Nubalā', sedikitnya sekitar lima puluhan nama sahabat yang beliau sebutkan termasuk kepada As-Sābiqūnal-Awwalūn, yaitu :
1. Khadijah binti khuwailid radhiyallāhu 'anha.
2. 'Ali bin Abi Thālib radhiyallāhu 'anhu.
3. Abu Bakr Ash-Shiddĩq radhiyallāhu 'anhu.
4. Zaid bin hāritsah radhiyallāhu 'anhu.
5. 'Utsman bin 'Affān radhiyallāhu 'anhu.
6. Az-Zubair bin Al-'Awwam radhiyallāhu 'anhu.
7. Sa'd bin Abi Waqāsh radhiyallāhu 'anhu.
8. Thalhah bin 'Ubaidillāh radhiyallāhu 'anhu.
9. 'Abdur-Rahmān bin 'Auf radhiyallāhu 'anhu.
10. Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrāh radhiyallāhu 'anhu.
11. Abu Salamah bin 'Abdil-Asad Al-Makhzumy radhiyallāhu 'anhu.
12. Al-Arqam bin Abi Al-Arqam bin Asad bin 'Abdillāh bin 'Umar Al-Makhzumy radhiyallāhu 'anhu.
13. 'Utsmān bin Mazh'un Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
14. 'Ubaidah bin Al-Hārits bin Al-Muthallib Al-Muththaliby radhiyallāhu 'anhu.
15. Sa'ĩd bin Zaid bin 'Amr bin Nufail Al-'Adawy radhiyallāhu 'anhu.
16. Asmā' binti Abi Bakr Ash-Shiddĩq radhiyallāhu 'anhuma.
17. Khabāb bin Al-Art Al-Khaza'iy radhiyallāhu 'anhu.
18. 'Umair bin Abi Waqāsh radhiyallāhu 'anhu.
19. 'Abdullāh bin Mas'ūd Al-Hadzaly radhiyallāhu 'anhu.
20. Mas'ūd bin Rabĩ'ah Al-Qarĩ' radhiyallāhu 'anhu.
21. Sulaith bin 'Amr bin 'Abdi Syamsin Al-'Āmiry radhiyallāhu 'anhu.
22. 'Iyāsy bin Abi Rabii'ah bin Al-Mughĩrah Al-Makhzumy radhiyallāhu 'anhu.
23. Asmā' binti Salamah At-Tamĩmiyah radhiyallāhu 'anha.
24. Khunais bin Hudzāfah As-Sahmy radhiyallāhu 'anhu.
25. 'Āmir bin Rabĩ'ah Al-'Anzy radhiyallāhu 'anhu.
26. 'Abdullāh bin Jahsyi bin Riāb Al-Asady radhiyallāhu 'anhu.
27. Ja'far bin Abi Thālib Al-Hāsyimy radhiyallāhu 'anhu.
28. Asmā' binti 'Umais radhiyallāhu 'anha.
29. Haathib bin Al-Haarits Al-Jamhy
30. Fāthimah binti Al-Mujallal Al-'Aamiriyah radhiyallāhu 'anha.
31. Khaththāb bin Al-Haarits Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
32. Fakĩhah binti Yassār radhiyallāhu 'anha.
33. Ma'mar bin Al-Hārits Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
34. As-Sāib anaknya 'Utsmān bin Mazh'ūn radhiyallāhu 'anhuma.
35. Al-Muththalib bin Azhar bin 'Abdi 'Auf Az-Zuhry radhiyallāhu 'anhu.
36. Ramlah binti Abi 'Auf As-Sahmiyah radhiyallāhu 'anha.
37. An-Nihām Nu'aim bin 'Abdillāh Al-'Adawy radhiyallāhu 'anhu.
38. 'Āmir bin Fahĩrah radhiyallāhu 'anhu.
39. Khālid bin Sa'iid bin Al-'Āsh bin Umayyah radhiyallāhu 'anhu.
40. Umayyah binti Khalaf Al-Khuzā'iyyah radhiyallāhu 'anha.
41. Hāthib bin 'Amr Al-'Āmiry radhiyallāhu 'anhu.
42. Abu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabĩ'ah Al-'Absyamy radhiyallāhu 'anhu.
43. Wāqid bin 'Abdillāh bin 'Abdi Manāf At-Tamĩmy Al-Yarbū'i radhiyallāhu 'anhu.
44. Khālid bin Al-Bakĩr bin 'Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
45. 'Āmir bin Al-Bakĩr bin 'Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
46. 'Āqil bin Al-Bakĩr bin 'Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
47. Iyas bin Al-Bakĩr bin 'Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
48. 'Amār bin Yāsir bin 'Aamir Al-'Ansy radhiyallāhu 'anhu.
49. Shuhaib bin Sinān bin Mālik An-Namiry radhiyallāhu 'anhu.
50. Abu Dzar Jundub bin Junādah Al-Gifāry.
51. Abu Nujaih 'Amr bin 'Absah As-Salimy Al-Bajly, namun kedua sahabat ini, yakni Abu Dzar dan 'Amr mereka kembali ke negerinya masing-masing.
Mereka itulah 50 orang As-Sābiqūnal-Awwalūn, yang kemudian setelah mereka masuk Islam pula: "Singa Allāh" Hamzah bin 'Abdil Muthallib dan Al-Fāruq 'Umar bin Al-Kaththāb juga sahabat yang lainnya radhiyallāhu 'anhum ajma'ĩn yang tidak tersebutkan seluruhnya.
Dari sekian nama yang disebutkan diatas setidaknya dapat menuntun kita menelaah bagaimana peran dan perjuangan mereka, sahabat-sahabat yang sebagiannya senantiasa menyertai Nabi dalam lapang ataupun sempit. Maka tidaklah sama orang-orang awalan yang penuh pengorbanan dalam perjuangan merintis dan menegakkan syari'at, dengan mereka yang datang kemudian. Sebab merekalah yang pertama-tama menerima syari'at lagi patuh kepada Allāh dan Rasul-Nya disaat orang lain memandang sebelah mata terhadap dakwah Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka habiskan banyak waktu, tenaga dan harta disaat belum banyak bahkan tidak ada orang lain yang berdiri disamping Rasulullāh Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Pantas saja baginda Nabi memberi peringatan keras kepada mereka yang mencela sahabat, dalam salah satu hadits diterangkan:
عن أبي هريرة: لا تَسُبُّوا أصْحابِي، لا تَسُبُّوا أصْحابِي، فَوالذي نَفْسِي بيَدِهِ لو أنَّ أحَدَكُمْ أنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، ما أدْرَكَ مُدَّ أحَدِهِمْ، ولا نَصِيفَهُ. صحيح مسلم ٢٥٤٠
Dari Abu Hurairah ra: (Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:) "Janganlah kalian mencaci sahabatku! Janganlah kalian mencaci sahabatku! demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, meskipun salah seorang dari kalian berinfaq dengan emas sebesar Uhud sekalipun, tak kan pernah bisa menyamai satu Mud pun (dari infaq mereka) tidak juga setengahnya". [3]
Dalam hal ini Allāh 'Azza wa Jalla menegaskan bagaimana kedudukan dan derajat mereka para assaabiquunal awwaluun, Firman-Nya:
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"...Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allāh menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allāh mengetahui apa yang kamu kerjakan" [4]
Para Mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mereka As-Sābiqūnal-Awwalūn dari kalangan Muhājirĩn dan Anshār, tentunya melebihi 50 orang yg disebutkan Adz-Dzahabi diatas, mereka menginfakkan harta-harta mereka dan berjihad sebelum Fathu Makkah, sebagian berpendapat Sebelum Shulhul-Hudaibiyyah. Maka mereka ini adalah orang-orang yang Allāh tinggikan kedudukan dan derajatnya karena perjuangan mereka. Sebab mereka berani berkorban disaat Islam masih dalam kondisi lemah, berbeda dengan kaum munafiq yang sangat berat untuk berjihad dan berinfaq. Sebagian juga berpendapat bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakr Ash-Shiddĩq radhiyallāhu 'anhu.
Dalam salah satu riwayat lain, terlepas apakah haditsnya shahih atau perlu ditinjau kembali, namun dalam riwayat ini terlukiskan bagaimana Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga akhir hayatnya begitu menyanjung As-Sābiqūnal-Awwalūn dan berwasiyat agar menjaga kehormatan mereka:
عن عبدالرحمن بن عوف: لما حضرت النبيَّ ﷺ الوفاةُ قالوا يا رسولَ اللهِ أوصِنا قال أوصيكم بالسابقينَ الأولينَ من المهاجرينَ وبأبنائِهم من بعدِهم وبأبنائِهم من بعدِهم إلا تفعلوه لا يُقبلُ منكم صرفٌ ولا عدلٌ
الهيثمي (٨٠٧ هـ)، مجمع الزوائد ١٠/٢٠ • رجاله ثقات
الشوكاني (١٢٥٥ هـ)، در السحابة ٣٩ • إسناده رجاله ثقات
Dari 'AbdurRahman bin 'Auf ra: Ketika hadir waktu dekat kewafatan Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullāh berwasiatlah untuk kami, Nabi bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian dengan As-Saabiquunal Awwaluun dari Muhajirin dan dengan anak-anak mereka dan setelahnya, juga anak-anak mereka dan setelahnya, sekalipun kalian melakukannya tidaklah akan setara dari kalian infaq ataupun tebusan (seperti pengorbanan mereka)". [5]
Cukup kiranya beberapa dalil diatas menunjukkan bahwa orang-orang awalan yang sejak pertama merintis, berkorban dan berjuang untuk mewujudkan sesuatu, lelah dan letihnya mereka berjuang disaat tidak banyak orang lain yang meliriknya sedikitpun, sudah seharusnya mereka mendapatkan kehormatan dan penghargaan yang mendudukkannya diatas kemuliaan lebih daripada mereka yang hadir kemudian dan berjalan diatas alas yang sudah dihamparkan yang sama sekali mereka tidak merasakan sejatinya pengorbanan para awwaluun. Maka sungguh tidak beradab dan tidak berakhlaq, orang yang datang kemudian tiba-tiba mencela As-Sābiqūnal-Awwalūn, padahal merekalah yang mengantarkan generasi berikutnya berada diatas alas yang sudah terbentang.
Demikian itu seyogyanya menjadi pelajaran dan bimbingan bagi kita dalam menetapi amal dan perjuangan sekecil apapun, sebagai catatan yang sangat penting adalah bagaimanapun letih dan lelahnya usaha dan perjuangan kita hari ini, tentu tidak akan pernah dapat menyamai perjuangan para pendahulu kita. Maka sifat tawādhu' harus senantiasa tertanam dalam diri agar kemajuan dan keberhasilan yang kita nikmati tidak lantas kita akui sebagai mutlak hasil jerih payah kita, melainkan semua karena Rahmat Allāh yang memberi kita kesempatan untuk mengambil bagian menjadi hamba-hamba-Nya yang bergerak dalam amal shalih. Begitupun para awwaluun, tidak lantas senioritas menjadikan mereka sombong dan berbangga diri atas karya dan perjuangan, melainkan harus mampu mengayomi sebagaimana Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengayomi para sahabat, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allāh 'Azza wa Jallaa agar bersikap tawādhu’, Firman-Nya:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman".[6]
Dalam ayat diatas, Allāh membimbing Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bagaimana cara bermuamalah dengan para sahabat, yaitu dengan menumbuhkan sifat tawādhu’, lafazh اخْفِضْ جَنَاحَكَ (rendahkanlah sayapmu) merupakan bentuk "kinayah" dari sifat tawādhu’, sebagaimana burung yang mengayomi anak-anaknya dengan sayapnya[7]. Maka ketawādhu’an Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam harus menjadi uswah dan qudwah bagi kita semua. Sebagaimana para sahabat pun meneladani beliau saw, mereka mengayomi dengan ketinggian akhlaq, seperti halnya kisah tawādhu’ nya Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu, dalam satu riwayat:
خرج أبو بكر الصديق ليُودِّع جيش أسامة بن زيد، الذي خرج مجاهدًا إلى الشام، وهو ماشٍ، وأسامة راكب، فقال له أسامة: يا خليفة رسول الله، لتركبن أو لأنزلن! فقال: والله لا نزلت ولا أركب، وما عليَّ أن أُغبِّر قدمي ساعةً في سبيل الله![8]
Abu Bakr AshShiddiiq keluar untuk melepas pasukan Usamah bin Zaid yang akan pergi memimpin untuk berjihad ke Syam, sementara Abu Bakr ikut mengantar dengan berjalan kaki sedangakan Usamah menunggang kuda, lalu Usamah berkata kepada Abu Bakr : "Wahai Khalifahnya Rasulullaah, naiklah keatas kendaraan atau aku yang akan turun", lalu Abu Bakr berkata : "Demi Allāh, engkau tidak perlu turun dan aku tak akan naik kendaraan, saat ini aku tidak berkapasitas untuk memacu ke medan jihad fii sabiilillaah".
Demikian kerendahan hati seorang Abu Bakr, senioritas tidak lantas membuatnya angkuh dan ingin diutamakan. Begitupun kisah akhlaq dan tawādhu’ nya para sahabat yang lain yang tidak perlu banyak diungkap disini. Itulah hasil dari pendidikan Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam sehingga sahabat menjadi generasi terbaik dan menjadi qudwah bagi generasi setelahnya.
Peran dan perjuangan As-Sābiqūnal-Awwalūn serta sifat-sifat dan akhlaq mereka, terlepas dari adanya kekurangan sebagai manusia biasa, mereka tetap memiliki nilai dan derajat yang tinggi di Sisi Allāh Ta'ala. Tepat sekali bila keteladanan Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat dijadikan sebagai kurikulum hidup sepanjang masa, terlebih lagi dalam perjuangan dan pergerakan. Dengan begitu maka suatu sistem akan tetap utuh dan kokoh hingga Allāh berkehendak untuk tetap mengokohkannya atau mencabutnya.
Wa AllaahulMuwaffiq.
[1] QS. At-Taubah 9:100
[2] Lihat Tafsir AsSaadi
[3] HR. Muslim
[4] QS. Al-Hadĩd 57:10
[5] AlHaitsami dalam Majmu AzZawaaid, dan AsySyaukani dalam DarrusSahaabah menyatakan bahwa Sanad-sanadnya memiliki Rijal yang tsiqat
[6] QS. Asy-Syu’arā' :215
[7] Lihat: Tafsir AlBasith
[8] الكامل في التاريخ؛ لابن الأثير، جـ2، صـ 195

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik