Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Pendahulu Tawadhu' Orang Baru Jangan Belagu

Menjadi satu keniscayaan dalam kelompok manusia bahwa kita tak pernah bisa lepas dari figur pendahulu dan generasi baru. Terkadang senioritas menciptakan batasan dan jarak agar kehormatannya tidak diinjak-injak. Di sisi lain, tidak jarang orang-orang baru ketika diberi peluang justru kehilangan etika. Tidak heran bila sebuah kelompok akhirnya berpecah belah akibat luka dan kekecewaan yang timbul dari buruknya akidah dan akhlak. Yang paling memilukan adalah lahirnya kelompok baru hanya karena berebut harta dunia. Begitulah kondisi manusia apabila tidak mau dibina dengan hidayah dari Sang Pemilik Semesta.

Jauh berbeda dengan manusia-manusia yang kokoh dalam akidah dan akhlak. Mereka hidup dan bergerak di bawah panduan cahaya yang senantiasa memecah kegelapan fitnah dan jahiliah. Mereka itulah para salafusshalih, para pendahulu yang berjuang murni demi meraih nilai fisabilillah. Pantaslah jika Allah ‘Azza wa Jalla meninggikan kedudukan mereka. Maka, mengapa para pejuang khalaf tidak mengikuti jejak mereka?

Kedudukan As-Sābiqūnal-Awwalūn di Sisi Allah Ta’ālā

Sebuah perjuangan tentu menuntut pengorbanan, dan pengorbanan lahir karena kemurnian cinta. Pengorbanan sejati adalah ketika seseorang berani menyerahkan segalanya saat tidak banyak orang lain yang melakukannya. Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat As-Sābiqūnal-Awwalūn. Tiada keraguan akan cinta mereka kepada baginda Nabi yang terkasih; mereka rela berkorban habis-habisan, mengorbankan darah dan harta demi menegakkan risalah Islam. Tiada ketenangan dan kebahagiaan dalam diri mereka selain kebahagiaan dan kecintaan dalam menemani baginda Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Maka, pantas saja Allah ‘Azza wa Jalla menyanjung mereka melalui firman-Nya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang agung." [1]

Mereka, As-Sābiqūnal-Awwalūn, adalah para sahabat Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang menjadi pelopor, berlomba-lomba serta bersegera kepada iman, hijrah, jihad, serta penegakkan Dīnullāh. [2]

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan dalam kitab Tarikh Al-Islam dan Siyaru A'lāmi an-Nubalā', sedikitnya ada sekitar lima puluh nama sahabat yang termasuk ke dalam golongan As-Sābiqūnal-Awwalūn, yaitu:

  1. Khadijah binti Khuwailid radhiyallāhu 'anha.
  2. ‘Ali bin Abi Thālib radhiyallāhu 'anhu.
  3. Abu Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu 'anhu.
  4. Zaid bin Hāritsah radhiyallāhu 'anhu.
  5. ‘Utsman bin ‘Affān radhiyallāhu 'anhu.
  6. Az-Zubair bin Al-‘Awwām radhiyallāhu 'anhu.
  7. Sa'd bin Abi Waqāsh radhiyallāhu 'anhu.
  8. Thalhah bin ‘Ubaidillāh radhiyallāhu 'anhu.
  9. ‘Abdur-Rahmān bin ‘Auf radhiyallāhu 'anhu.
  10. Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrāh radhiyallāhu 'anhu.
  11. Abu Salamah bin ‘Abdil-Asad Al-Makhzumy radhiyallāhu 'anhu.
  12. Al-Arqam bin Abi Al-Arqam bin Asad bin ‘Abdillāh bin ‘Umar Al-Makhzumy radhiyallāhu 'anhu.
  13. ‘Utsmān bin Mazh'un Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
  14. ‘Ubaidah bin Al-Hārits bin Al-Muthallib Al-Muththaliby radhiyallāhu 'anhu.
  15. Sa'īd bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawy radhiyallāhu 'anhu.
  16. Asmā' binti Abu Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu 'anhuma.
  17. Khabāb bin Al-Art Al-Khaza'iy radhiyallāhu 'anhu.
  18. ‘Umair bin Abi Waqāsh radhiyallāhu 'anhu.
  19. ‘Abdullāh bin Mas'ūd Al-Hadzaly radhiyallāhu 'anhu.
  20. Mas'ūd bin Rabī'ah Al-Qarī' radhiyallāhu 'anhu.
  21. Sulaith bin ‘Amr bin ‘Abdi Syamsin Al-‘Āmiry radhiyallāhu 'anhu.
  22. ‘Iyāsy bin Abi Rabii'ah bin Al-Mughīrah Al-Makhzumy radhiyallāhu 'anhu.
  23. Asmā' binti Salamah At-Tamĩmiyah radhiyallāhu 'anha.
  24. Khunais bin Hudzāfah As-Sahmy radhiyallāhu 'anhu.
  25. ‘Āmir bin Rabĩ'ah Al-‘Anzy radhiyallāhu 'anhu.
  26. ‘Abdullāh bin Jahsyi bin Riāb Al-Asady radhiyallāhu 'anhu.
  27. Ja'far bin Abi Thālib Al-Hāsyimy radhiyallāhu 'anhu.
  28. Asmā' binti ‘Umais radhiyallāhu 'anha.
  29. Hāthib bin Al-Hārits Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
  30. Fāthimah binti Al-Mujallal Al-‘Aamiriyah radhiyallāhu 'anha.
  31. Khaththāb bin Al-Hārits Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
  32. Fakīhah binti Yassār radhiyallāhu 'anha.
  33. Ma'mar bin Al-Hārits Al-Jamhy radhiyallāhu 'anhu.
  34. As-Sāib (putra dari ‘Utsmān bin Mazh'ūn) radhiyallāhu 'anhuma.
  35. Al-Muththalib bin Azhar bin ‘Abdi ‘Auf Az-Zuhry radhiyallāhu 'anhu.
  36. Ramlah binti Abi ‘Auf As-Sahmiyah radhiyallāhu 'anha.
  37. An-Nihām Nu'aim bin ‘Abdillāh Al-‘Adawy radhiyallāhu 'anhu.
  38. ‘Āmir bin Fahīrah radhiyallāhu 'anhu.
  39. Khālid bin Sa'iid bin Al-‘Āsh bin Umayyah radhiyallāhu 'anhu.
  40. Umayyah binti Khalaf Al-Khuzā'iyyah radhiyallāhu 'anha.
  41. Hāthib bin ‘Amr Al-‘Āmiry radhiyallāhu 'anhu.
  42. Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabĩ'ah Al-‘Absyamy radhiyallāhu 'anhu.
  43. Wāqid bin ‘Abdillāh bin ‘Abdi Manāf At-Tamĩmy Al-Yarbū'i radhiyallāhu 'anhu.
  44. Khālid bin Al-Bakĩr bin ‘Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
  45. ‘Āmir bin Al-Bakĩr bin ‘Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
  46. ‘Āqil bin Al-Bakĩr bin ‘Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
  47. Iyas bin Al-Bakĩr bin ‘Abdi Yalyal Al-Laitsi radhiyallāhu 'anhu.
  48. ‘Amār bin Yāsir bin ‘Aamir Al-‘Ansy radhiyallāhu 'anhu.
  49. Shuhaib bin Sinān bin Mālik An-Namiry radhiyallāhu 'anhu.
  50. Abu Dzar Jundub bin Junādah Al-Gifāry radhiyallāhu 'anhu.
  51. Abu Nujaih ‘Amr bin ‘Absah As-Salimy Al-Bajly radhiyallāhu 'anhu (dua sahabat terakhir ini sempat kembali ke negeri masing-masing).

Mereka itulah sekumpulan sahabat yang tergolong dalam As-Sābiqūnal-Awwalūn. Setelah mereka, masuk pula ke dalam agama Islam tokoh-tokoh besar seperti "Singa Allah" Hamzah bin ‘Abdil-Muthallib dan Al-Fāruq ‘Umar bin Al-Khaththāb, serta sahabat-sahabat mulia lainnya radhiyallāhu ‘anhum ajma'ĩn yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Dari sekian banyak nama yang disebutkan di atas, setidaknya hal itu dapat menuntun kita untuk menelaah bagaimana peran dan perjuangan mereka—para sahabat yang sebagian besarnya senantiasa menyertai Nabi dalam keadaan lapang maupun sempit. Tentu tidaklah sama orang-orang pertama yang penuh pengorbanan dalam merintis dan menegakkan syariat dengan mereka yang datang kemudian. Merekalah yang pertama kali menerima syariat serta patuh kepada Allah dan Rasul-Nya di saat orang lain memandang sebelah mata terhadap dakwah Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan harta di saat belum banyak (bahkan belum ada) orang lain yang berdiri di samping Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Pantaslah jika baginda Nabi memberikan peringatan keras kepada siapa saja yang mencela para sahabat, sebagaimana diterangkan dalam hadis:

عن أبي هريرة: لا تَسُبُّوا أصْحابِي، لا تَسُبُّوا أصْحابِي، فَوالذي نَفْسِي بيَدِهِ لو أنَّ أحَدَكُمْ أنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، ما أدْرَكَ مُدَّ أحَدِهِمْ، ولا نَصِيفَهُ
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Janganlah kalian mencaci sahabatku! Janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya salah seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan bisa menyamai satu mud (infak) pun dari salah seorang dari mereka, tidak pula setengahnya.'" [3]

Dalam hal ini, Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan kedudukan dan derajat para As-Sābiqūnal-Awwalūn melalui firman-Nya:

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"...Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." [4]

Para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah As-Sābiqūnal-Awwalūn dari kalangan Muhajirin dan Ansar—tentunya mencakup lebih dari 50 orang yang disebutkan oleh Imam Adz-Dzahabi di atas. Mereka menginfakkan harta dan berjihad sebelum terjadinya Fathu Mekah (sebagian berpendapat sebelum Perjanjian Hudaibiyah). Mereka adalah orang-orang yang Allah tinggikan kedudukan dan derajatnya karena keberanian mereka berkorban di saat Islam masih dalam kondisi lemah, sangat kontras dengan kaum munafik yang merasa sangat berat untuk berjihad dan berinfak. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakr Ash-Shiddīq radhiyallāhu 'anhu.

Dalam riwayat lain, terlepas dari perdebatan status sahih atau tidaknya, terlukiskan bagaimana Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga akhir hayatnya begitu menyanjung As-Sābiqūnal-Awwalūn dan berwasiat agar umat menjaga kehormatan mereka:

عن عبدالرحمن بن عوف: لما حضرت النبيَّ ﷺ الوفاةُ قالوا يا رسولَ اللهِ أوصِنا قال أوصيكم بالسابقينَ الأولينَ من المهاجرينَ وبأبنائِهم من بعدِهم وبأبنائِهم من بعدِهم إلا تفعلوه لا يُقبلُ منكم صرفٌ ولا عدلٌ
"Dari ‘Abdur-Rahmān bin ‘Auf radhiyallāhu 'anhu: Ketika menjelang wafatnya Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, berwasiatlah untuk kami.' Beliau bersabda: 'Aku wasiatkan kepada kalian terhadap As-Sābiqūnal-Awwalūn dari kalangan Muhajirin, serta anak-anak mereka setelah mereka, dan anak-anak mereka setelahnya. Jika kalian tidak melakukannya, maka tidak akan diterima dari kalian tebusan maupun amalan apa pun.'" [5]

Cukuplah beberapa dalil di atas menunjukkan bahwa orang-orang pertama yang sejak awal merintis, berkorban, serta berjuang—yang lelah letihnya tercurah di saat tidak banyak orang meliriknya—sudah sepatutnya mendapatkan kehormatan dan penghargaan tertinggi. Mereka menduduki kemuliaan di atas orang-orang yang hadir kemudian, yang tinggal berjalan di atas hamparan permadani kemudahan tanpa merasakan langsung beratnya pengorbanan para *awwalūn*. Sungguh tidak beradab dan tidak berakhlak jika ada orang yang datang kemudian, lalu dengan lancang mencela As-Sābiqūnal-Awwalūn, padahal merekalah yang telah mengantarkan generasi setelahnya berada di atas pijakan yang kokoh.

Hal tersebut seyogianya menjadi pelajaran dan bimbingan bagi kita dalam meniti amal serta perjuangan sekecil apa pun. Catatan yang sangat penting adalah: bagaimanapun letih dan lelahnya usaha kita hari ini, tentu tidak akan pernah dapat menyamai pengorbanan para pendahulu kita. Oleh karena itu, sifat tawaduk harus senantiasa tertanam dalam diri agar kemajuan dan keberhasilan yang kita nikmati tidak lantas diakui sebagai hasil jerih payah mutlak diri kita, melainkan semata-mata karena rahmat Allah yang memberi kita kesempatan mengambil bagian dalam amal salih.

Begitu pula bagi para *awwalūn*, senioritas tidak lantas menjadikan mereka sombong dan berbangga diri atas karya serta perjuangan masa lalu, melainkan harus mampu mengayomi—sebagaimana Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengayomi para sahabatnya—sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wa Jalla untuk bersikap tawaduk. Allah berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." [6]

Dalam ayat tersebut, Allah membimbing Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengenai cara bermuamalah dengan para sahabat, yaitu dengan menumbuhkan sifat tawaduk. Lafazh اخْفِضْ جَنَاحَكَ (rendahkanlah sayapmu) merupakan bentuk majas *kinayah* (kiasan) dari sifat tawaduk, sebagaimana seekor burung yang mengayomi anak-anaknya dengan sayapnya. [7]

Ketawadukan Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam harus menjadi uswah dan qudwah bagi kita semua. Sebagaimana para sahabat pun meneladani beliau, mereka mengayomi sesama dengan ketinggian akhlak. Contoh nyata adalah kisah ketawadukan Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

خرج أبو بكر الصديق ليُودِّع جيش أسامة بن زيد، الذي خرج مجاهدًا إلى الشام، وهو ماشٍ، أسامة راكب، فقال له أسامة: يا خليفة رسول الله، لتركبن أو لأنزلن! فقال: والله لا نزلت ولا أركب، وما عليَّ أن أُغبِّر قدمي ساعةً في سبيل الله!
"Abu Bakr Ash-Shiddīq keluar untuk melepas pasukan Usamah bin Zaid yang akan berangkat berjihad ke Syam. Abu Bakr berjalan kaki sementara Usamah menunggang kuda. Usamah berkata kepadanya, 'Wahai Khalifah Rasulullah, naiklah (ke kendaraan) atau aku yang akan turun!' Abu Bakr berkata, 'Demi Allah, engkau tidak perlu turun dan aku tidak akan naik kendaraan. Tidak mengapa atasku jika aku menorehkan debu pada kedua kakiku sesaat di jalan Allah!'" [8]

Demikianlah kerendahan hati seorang Abu Bakr; senioritas tidak lantas membuatnya angkuh dan ingin diistimewakan. Begitu pula kisah akhlak dan tawaduk para sahabat lainnya yang tidak perlu diungkapkan satu per satu di sini. Itulah hasil didikan langsung dari Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, menjadikan para sahabat sebagai sebaik-baik generasi sekaligus qudwah bagi generasi setelahnya.

Peran dan perjuangan As-Sābiqūnal-Awwalūn beserta seluruh sifat dan akhlak mulia mereka—terlepas dari adanya kekurangan sebagai manusia biasa—menempatkan mereka pada nilai dan derajat yang sangat tinggi di sisi Allah Ta'ala. Tepat sekali jika keteladanan Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dijadikan sebagai kurikulum hidup sepanjang masa, terutamanya dalam ranah perjuangan dan pergerakan dakwah. Dengan begitu, suatu sistem akan tetap utuh dan kokoh hingga Allah berkehendak untuk terus mengokohkannya atau mencabutnya.

Wa Allāhul-Muwaffiq ila Aqwamith-Tharīq.

[1] QS. At-Taubah [9]: 100.

[2] Lihat Tafsir As-Sa'di.

[3] HR. Muslim.

[4] QS. Al-Hadīd [57]: 10.

[5] Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawa'id dan Asy-Syaukani dalam Darrus-Sahābah menyatakan bahwa sanad-sanadnya memiliki perawi (*rijāl*) yang tsiqat.

[6] QS. Asy-Syu'arā' [26]: 215.

[7] Lihat: Tafsir Al-Basith.

[8] *Al-Kāmil fi At-Tārikh* oleh Ibnu Al-Atsir, jilid 2, hlm. 195.

Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik