Kewajiban Shalat Lima Waktu
Oleh: Den Herians
Mengenai kewajiban sholat 5 waktu, sebelum dibahas mungkin cukup banyak orang-orang yang bertanya terlebih lagi non muslim, apa sebenarnya manfaat dan pentingnya sholat lima waktu? Sampai diwajibkan begitu?, dari segi materialistik apa yang didapat setelah sholat?, apakah tiba-tiba rekening anda langsung bertambah setelah sholat?.. dlsb. Sehingga pertanyaan tersebut terkadang membuat goyah keyakinan seorang muslim yang belum mengetahui arti penting sholat dalam islam. Karena itu alangkah penting setiap muslim mengerti benar alasan wajibnya sholat lima waktu bahkan sangat penting memahami dan mengerti setiap aturan ibadah dalam Islam.
Pelaksanaan sholat wajib 5 waktu dan yang sunnat, tidak tertuju pada nilai materialistik atau demi kepentingan dunia, sebab dalam Islam setiap muslim terkait dengan kewajiban menghambakan dirinya kepada Allah swt semata, yang salah satu bentuk ibadah wajib bagi setiap muslim adalah sholat yang lima waktu tersebut. Adapun setiap perintah ibadah dalam Islam sesungguhnya adalah perwujudan dari pribadi yang bertakwa kepada Allah Ta’ala, sedangkan nilai ketakwaan itu sungguh tidak sebanding dengan harga dunia yang dinilai sedikit dan kecil dalam pandangan Islam, bahkan nilai dunia itu tidaklah lebih baik sama sekali daripada dua rakaat sunnat qobla subuh, sebagaimana dijelaskan dalam hadits :
عَن عَائِشَةَ، قَالَت: قَالَ رَسُولُ اللهِ: رَكعَتَا الفَجرِ خَيرٌ مِنَ الدُّنيَا وَمَا فِيهَا.
Dari ‘Aisyah r.a berkata : Rasulullah saw bersabda : “ Dua raka’at (sebelum) sholat subuh lebih baik daripada dunia dan isinya “. (Shahih Muslim).
Begitu kecil harga dunia, itu baru dibandingkan dengan sholat sunnat qobla subuh saja, apalagi dibandingkan dengan sholat lima waktu dan seluruh kewajiban ibadah dalam Islam. Namun demikian Allah swt tetap menjanjikan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh dalam ketakwaannya kemudahan dalam urusan dunia, sebagaimana Firman-Nya :
وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
" dan siapa saja yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya " (Q.S. athThalaq : 4).
Juga Firman-Nya Ta’ala :
وَمَن يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
" Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya " (Q.S. athThalaq : 2-3).
Maka seorang muslim yang takwa itu sekalipun ia diberi amanat kekayaan dunia yang melimpah, ia tidak lantas menjadikan hartanya itu segala-galanya karena ia yakin yang ada di Sisi Allah jauh lebih bernilai daripada dunia. Jadi jangan anda bandingkan prinsip ibadah seorang muslim sejati dengan kecilnya nilai dunia.
Adapun sholat merupakan barometer akhlak dan kekuatan iman seorang muslim, sebab jika sholatnya benar maka ia termasuk kepada orang yang dijamin tercegah dari perbuatan buruk dan kotor, telah dibahas dalam artikel yang lalu silakan merujuk ke artikel Esensi Sholat.
Sebelum diwajibkannya sholat yang lima waktu, sholat telah diperintahkan kepada Rasulullah saw yang pelaksanaannya hanya 2raka’at saja pada waktu sholat yang telah ditentukan dikala itu, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, diantaranya:
قَالَ قَتَادَةُ : كَانَ بَدءُ الصَّلَاةِ رَكعَتَينِ بِالغَدَاةِ ، وَرَكعَتَينِ بِالعِشَي
Qatadah berkata : "Permulaan pelaksanaan sholat adalah dua roka'at pada waktu subuh dan dua roka'at pada waktu 'isya".
( Fathul bari Ibnu Rajab, kitabushsholah, bab: كيف فرضت الصلوات في الإسراء).
394 - وَعَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا - قَالَتْ: «فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ هَاجَرَ فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا وَتُرِكَتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبُخَارِيُّ.[1]
Dan dari ’Aisyah r.a , ia berkata : "(Pada mulanya) Shalat diwajibkan dua raka'at, kemudian setelahberhijrah, shalat diwajibkan menjadi empat raka'at , dan tetap dilakukan shalat dua raka'at (ketika)dalam perjalanan (safar) sebagaimana ketika pertama kali diwajibkan".(H.R. AlBukhari, dan Ahmad).
Kemudian sebagaimana telah mafhum berdasarkan penjelasan para ’ulama ahli hadits dalam kitab syarahnya, bahwa sholat yang lima waktu diwajibkan pada malam isra' mi’raj Rasulullah saw, dan ini terjadi pada periode Makkah sebelum hijrah[2]. Yang mana asal ketetapannya adalah 50 kali shalat, dan ini menjadi dalil wajibnya sholat lima waktu, berikut ini kutipan hadits dalam kitab Shahih Bukhari :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثُمَّ عُرِجَ بِي حَتَّى ظَهَرْتُ لِمُسْتَوَى أَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ قَالَ ابْنُ حَزْمٍ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى فَقَالَ مَا فَرَضَ اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ فَرَضَ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى قُلْتُ وَضَعَ شَطْرَهَا فَقَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ فَرَاجَعْتُهُ فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ فَقُلْتُ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي...[3]
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemudian aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis". Ibnu Hazm berkata, "Anas bin Malik menyebutkan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembalilah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku...".
Dalam hadits yang cukup panjang tersebut, sangat jelas bahwa Nabi saw mendapat perintah langsung sekaligus keringanan bagi ummatnya untuk melaksanakan wajibnya sholat lima waktu.
Adapun dalam alQuran di jelaskan secara umum mengenai waktu sholat, Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“ ..Sesungguhnya shalat itu adalah (ibadah wajib) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman..”(Q.S.AnNisaa:103).
Adapun kejelasan dalil wajibnya sholat lima waktu kita dapati dalam Sunnah Rasulullah saw, bahwa Rasulullah saw pernah ditanya mengenai waktu sholat, sebagaimana dijelaskan dalam syarah Imam anNawawi :
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ، فَقَالَ لَهُ: «صَلِّ مَعَنَا هَذَيْنِ - يَعْنِي الْيَوْمَيْنِ - فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ الظُّهْرَ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرَ، فَلَمَّا أَنْ كَانَ الْيَوْمُ الثَّانِي أَمَرَهُ فَأَبْرَدَ بِالظُّهْرِ، فَأَبْرَدَ بِهَا، فَأَنْعَمَ أَنْ يُبْرِدَ بِهَا، وَصَلَّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ أَخَّرَهَا فَوْقَ الَّذِي كَانَ، وَصَلَّى الْمَغْرِبَ قَبْلَ أَنْ يَغِيبَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى الْعِشَاءَ بَعْدَمَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، وَصَلَّى الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ بِهَا»، ثُمَّ قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَنَا، يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «وَقْتُ صَلَاتِكُمْ بَيْنَ مَا رَأَيْتُمْ» شرح النووي على مسلم (5/ 114)
Dari Nabi saw , bahwa seseorang bertanya kepada Beliau tentang waktu sholat, kemudian Beliau saw bersabda : “ Sholatlah kamu bersama kami dua hari di sini “, kemudian ketika matahari tergelincir, Beliau saw memerintahkan Bilal , lalu Bilal adzan kemudian Nabi saw memerintahkannya lagi untuk iqomah, kemudian beliau sholat zhuhur, kemudian Beliau saw memerintah Bilal lagi , kemudian Beliau sholat ashar dan ketika itu matahari telah tinggi dengan sinar putih bersih, Kemudian Beliau memerintah Bilal lagi (adzan dan iqomah) kemudian sholat maghrib ketika matahari telah tenggelam, kemudian Beliau memerintahnya lagi, lalu sholat ‘isya ketika asysyafaq (bias sinar merah matahari) telah hilang. Kemudian Beliau memerintah Bilal lagi, lalu Beliau saw sholat subuh ketika terbit fajar. Kemudian di hari kedua Nabi saw memerintahkan agar menunggu cuaca agak dingin untuk sholat zhuhur maka Bilal pun menunggu dinginnya cuaca, demikian Nabi saw memberikan kenikmatan agar cuaca dingin terlebih dahulu kemudian beliau shalat zhuhur, kemudian Beliau saw sholat ashar ketika matahari telah lebih tinggi dari kemarin, selanjutnya Beliau sholat maghrib sebelum asysyafaq menghilang, kemudian nabi sholat ‘isya di sepertiga malam lalu sholat subuh ketika fajar terbit mulai sedikit terang. Kemudian Beliau saw bertanya : “ Mana orang yang bertanya tentang waktu sholat?”. Kemudian orang yang bertanya tersebut berkata: “ Saya wahai Rasulullah”, Rasulullah saw bersabda : “Waktu sholat kalian adalah seperti yang telah kalian lihat”. (Syarah Nawawi atas shahih Muslim juz-5 hal-114).
Demikian dalil wajib sholat lima waktu, dalam penjelasan hadits diatas yang telah menjadi kesepakatan para ‘ulama ahli hadits dan ahli fiqih tentang kesahihannya, dan tidak perlu lagi ada bantahan demi mengurangi waktu sholat yang telah ditetapkan, kemudian dalam hadits diatas dapat kita ketahui bahwa yang pokok pelaksanaan sholat mesti tepat dan di awal waktu, kecuali bila ada udzur dan kedaruratan untuk melambatkannya seperti Nabi saw menunggu agak dinginnya cuaca diwaktu zhuhur dan agak memperlambat sholat ashar, dan Beliau saw meng-akhirkan sholat ‘isya di sepertiga malam untuk dilanjutkan dengan qiyamullail.
Wallaahu a’lam.
Baja juga kaitannya dengan Esensi Sholat dan Perintah Mendirikan Sholat

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik