16.3.18

Gbr. Terikatnya Akhlak dengan Aqidah & Syari'ah
Terikatnya Akhlak Dengan Aqidah dan Syari'ah
Oleh : Den Herians
   Sejatinya akhlak, aqidah dan syari'at Islam tidak bisa dipisahkan, harus menyatu dalam diri setiap muslim, sebab akhlak adalah buah daripada lurusnya aqidah dan tegaknya syari'at.
     Secara bahasa, kata akhlak (أخلاق) merupakan bentuk jamak dari khuluq ( خلق ) yang bermakna : السَّجِيَّةُ dan الخَلِيقَةُ    , yaitu : الطَّبِيعَةُ  (tabiat) dan الخِلقَةُ  yakni  الفِطرَةُ (watak) baik ataupun buruk.  Sebagaimana perkataan Ibnu Manzhur:
الخُلُقُ  هُوَ الدَّيِّنُ وَالطَّبعُ  وَالسَّجِيَّةُ، وَحَقِيقَتُهُ أَنَّ صُورَةَ الإِنسَانِ البَاطِنَةُ وَ هِيَ  نَفسُهُ وَأَوصَافُهَا وَمَعَانِيهَا الْمُختَصَّةُ بِهَا بِمَنزِلَةِ الخُلُقِ لِصُورَتِهِ الظَّاهِرَةِ  وَأَوصَافِهَا وَمَعَانِيهَا
Alkhuluq (akhlak) yaitu kearifan tingkah laku, tabiat dan watak, yang hakikatnya adalah: bahwa sesungguhnya figur aslinya seseorang itu adalah batinnya, yaitu hawa nafsunya, sifat-sifatnya dan perasaannya, yang secara khusus tergantung kepada tingkat moralnya sebagai gambaran lahiriahnya, sifat-sifatnya dan perasaannya.
Adapun secara istilah , akhlak adalah :
الصُّورَةُ البَاطِنَةُ  لِلإِنسَانِ  وَالَّتِي يُمكِنُ أَن تَظهَرَ لِلآخَرِينَ بِأَشكَالٍ مُختَلِفَةٍ  عَلَي جَوَارِحِهِ  الظَّاهِرَةِ  لِلنَّاسِ
Gambaran batin bagi seseorang, yang mungkin saja diperlihatkan kepada orang lain dengan tampilan yang berbeda dengan fisiknya secara lahir dihadapan manusia. 
       Adapun alkhuluq menurut al-Jurjani, beliau mengatakan:
عِبَارَةٌ عَن هَيئَةٍ لِلنَّفسِ رَاسِخَةٍ  تَصدُرُ عَنهَا الأفعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسرٍ مِن غَيرِ حَاجَةٍ  إِلَى فِكرٍ وَ رَوِيَّةٍ،  فَإِن كَانَ الصَّادِرُ عَنهَا الأَفعَالَ الحَسَنَةَ كَانَت الهَيئَةُ  خُلُقًا حَسَنًا، وَإِن كَانَ الصَّادِرُ مِنهَا الأَفعَال َالقَبِيحَةَ سُمِّيَت الهَيئَةُ الَّتِي هِيَ  مَصدَرُ ذَلِكَ خُلُقًا سَيِّئًا
Adalah perwujudan dari sikap bagi jiwa yang tidak dapat dipisahkan darinya, yang segala perbuatan muncul darinya dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan perencanaan. Maka jika muncul darinya perbuatan-perbuatan yang baik, itu adalah perwujudan akhlaq yang baik, dan jika muncul darinya perbuatan-perbuatan yang buruk, disebutlah sikap yang muncul tersebut akhlaq yang buruk.  [1]
     Adapun akhlak yang islami, yaitu :
مَجمُوعَةُ الأَقوَالِ وَالأَفعَالِ الَّتِي يَجِبُ أَن تَقُومَ عَلَي أُصُولٍ وَقَوَاعِدَ وَفَضَائِلَ مُرتَبِطَةٍ اِرتِبَاطًا وَثِيقًا بِالعَقِيدَةِ وَالشَّرِيعَةِ الإِسلَامِيَّةِ مِن خِلَالِ القُرآنِ الكَرِيمِ  وَسُنَّةِ  الأَكرَمِ  صلي الله عليه وسلم.
 رسول الله صلي الله عليه وسلم يَقُولُ : إِنَّمَا بُعِثتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ  الأَخلَاقِ.( رواه أحمد عن أبي هريرة بلفظ صالح الأخلاق ورواه الإمام مالك في الموطأ بلفظ حسن الأخلاق ) [2]
Kumpulan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang mesti dilaksanakan diatas ushul, kaidah-kaidah dan fadhilah-fadhilah yang saling berkaitan, terikat kuat dengan aqidah dan syari'at Islam melalui alQuran alKarim dan Sunnahnya yang mulia saw.
Rasulullah saw bersabda : " Sungguh hanya sanya aku diutus, untuk menyempurnakan kemulyaan akhlak".
      Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti yang  agung.” (QS. Al Qolam (68): 4).
Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari Rahimahullah  menafsirkan ayat diatas :
وَإِنَّكَ يَا مُحَمَّدُ  لَعَلَى أَدَبٍ  عَظِيمٍ ، وَذَلِكَ  أَدَبُ القُرآنِ  الَّذِي  أَدَّبَهُ اللهُ بِهِ،  وَهُوَ  الإِسلَامُ  وَشَرَائِعُهُ.
“Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar di atas akhlak yang mulia, itulah akhlak alQuran yang dengannya Allah telah mendidiknya, yakni Islam dan syariat-syariatnya.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an)
Pentingnya Akhlak
A. Hubungan akhlak dengan pembinaan kepribadian manusia.
      Manusia terdiri dari jasad dan ruh, lahir dan batin. Dan akhlak yang Islami merupakan simbol  dari gambaran manusia secara batin yang kedudukannya bertempat didalam qolbu, dan gambaran batin ini merupakan hakikat seorang muslim. Dan manusia tidak di ukur dengan perawakan dan tampilannya, atau warna kulit dan kecakapannya, kaya atau miskinnya, akan tetapi diukur dengan moral dan amalnya yang menunjukan kualitas akhlaknya sebagai buah dari ketaqwaan. Allah swt berfirman :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
" ...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal".(Q.S. AlHujurat:13).
Dan sabdanya Rasulullah saw :
إِنَّ اللهَ لَا يَنظُرُ  إِلَى أَجسَادِكُم، وَلَا إِلَى صُوَرِكُم ، وَلَكِن  يَنظُرُ  إِلَى قُلُوبِكُم  وَأَعمَالِكُم
" Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada jasad kalian dan tidak juga memandang tampilan kalian, akan tetapi Dia memandang qolbu dan amal-amal kalian". [3]
B. Terikatnya akhlak dengan aqidah dan syari'at Islam.
     Islam telah menjadikan aqidah sebagai fondasi awal yang akan melahirkan akhlaq yang utama. Ikatan akhlak dengan aqidah merupakan perkara yang sudah diberitahukan bagi setiap orang yang berpikir dan peduli kepada urusan-urusan dalam Islam, inilah ikatan yang mendasari terjaminnya kestabilan akhlak dan keistiqomahannya, dan meniadakan kesia-siaan.
      Syaikh Muhammad Saltut mengungkapkan :
إِنَّ العَقِيدَةَ دُونَ خُلُقٍ شَجَرَةٌ لَا ظِلَّ لَهَا وَلَا ثَمَرَةَ، وَإِنَّ الخُلُقَ دُونَ عَقِيدَةٍ ظِلٌّ لِشَبحٍ غَيرُ مُستَقَرٍّ   [4]   
" Sesungguhnya aqidah tanpa akhlak ibarat pohon yang tidak bisa dipakai berteduh dan tidak berbuah, dan sesungguhnya akhlak tanpa aqidah adalah naungan khayalan yang tidak bisa dipakai berteduh".
     Adapun keterikatan akhlak dengan syari'ah, maka syari'at diantaranya itu adalah ibadah-ibadah dan muammalah-muammalah.

Pengertian Syari'ah
     Allah swt berfirman :
... لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ....
"...Bagi tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan Syir'ah/Syarii'ah(aturan) dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan...."(Q.S. AlMaaidah:48).
            AlQurtuby dalam tafsirnya menjelaskan :
الشِّرْعَةُ وَالشَّرِيعَةُ الطَّرِيقَةُ الظَّاهِرَةُ الَّتِي يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى النَّجَاةِ. وَالشَّرِيعَةُ مَا شَرَعَ اللَّهُ لِعِبَادِهِ مِنَ الدِّينِ، .[5]
AsySyir'ah dan Syarii'ah yaitu Al-Thoriiqoh Al-Zhahirah (jalan/cara yang terang) yang dihubungkan dengannya kepada keselamatan. Dan Syari'at adalah apa yang Allah tetapkan kepada hambaNya dalam agama.
            Dr. Wahbah bin Musthfa alZuhaily menjelaskan dalam tafsirnya :
شِرْعَةً شَرِيعَةً وَهِيَ مَا شَرَعَهُ اللهُ لِعِبَادِهِ مِنَ الدِّينِ وَنِظَامِهِ وَ أَحكَامِهِ [6]
Syir'ah syarii'ah yaitu apa yang Allah tetapkan kepada hambaNya berupa addiin dan aturan  serta hukum-hukumnya.
Pembagian Syari'at
وَالشَّرِيعَةُ تَنقَسِمُ إِلَى قِسمَينِ : اِعتِقَادِيَّاتٍ وَعَمَلِيَّاتٍ.
فَالِاعتِقَادِيَّاتُ : هِيَ اَلَّتِي لَا تَتَعَلَّقُ بِكَيفِيَّةِ العَمَلِ، مِثلُ اعْتِقَادِ رُبُوبِيَّةِ اللهِ وَوُجُوبِ عِبَادَتِهِ، وَاعتِقَادِ بَقِيَّةِ أَركَانِ الإِيمَانِ اَلْمَذكُورَةِ. وتُسَمَّى أَصلِيَّةً.
وَالعَمَلِيَّاتُ : هِيَ مَا يَتَعَلَّقُ بِكَيفِيَّةِ العَمَلِ مِثلُ الصَّلاَةِ وَالزكَّاَةِ وَالصَّومِ وَسَائِرِ الأَحكَامِ العَمَلِيَّةِ، وَتُسَمَّى فَرعِيَّةً.[7]
Syari’at itu terbagi kepada dua bagian , yaitu : I’tiqadiyat (Keyakinan-keyakinan) dan ‘Amaliyat (Perbuatan-perbuatan).
Adapun I’tiqadiyat : yaitu yang tidak berkaitan dengan kaifiyat (tatacara) amal, seperti keyakinan kepada Rububiyahnya Allah dan wajibnya menyembah-Nya, dan keyakinan kepada ketetapan rukun-rukun iman yang telah disebutkan. Dan dinamakanlah pokok-pokok Iman. Silakan merujuk ke artikel : Aqidah,dan Pokok-pokok Aqidah.
Dan ‘Amaliyat : yaitu apa yang berkaitan dengan kaifiyat amal, seperti sholat, zakat, shaum dan semua ketentuan-ketentuan amaliyah. Dan ini dinamakan cabang-cabang Iman.
       Sedangkan hubungannya akhlak dengan ibadah tidak perlu kepada ikrar/ pernyataan, dan hubungannya dengan muammalat juga tidak bisa dipisahkan. Karena ibadah-ibadah dan muammalah-muammalah jika dilepaskan dari akhlak, maka keduanya tidaklah akan sampai kepada kesempurnaan.
      Rasulullah saw pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukan manusia ke surga.
Beliau bersabda : حُسْنُ الْخُلُقِ  : "akhlaknya baik".[8]
C. Pengaruh akhlak terhadap  individu dan sosial.
            Konsekwensi akhlak islamiyah akan nampak manakala dimiliki oleh setiap pribadi atau kelompok. Adapun pengaruhnya terhadap kepribadian perseorangan, ketika tertanam dalam dirinya sifat rohmah, adil, sidiq, amanah, rasa malu, pemaaf, penolong, bertanggung jawab, ikhlash, tawadhu', dsb. Maka akhlak perseorangan ini merupakan akar keberuntungan dan kesuksesan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا [الشمس: 9 - 10]
"Sungguh beruntung orang yang mensucikan(jiwa)nya dan sunggguh merugi orang yang mengotorinya".
Juga FirmanNya Ta'ala :
 قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى  
 "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sholat".(Q.S. Al A'la:14-15).
Diantara makna tazkiyah pada ayat-ayat diatas yakni membina akhlak secara lahir dan batin dalam gerak dan diamnya.           
            Selanjutnya pengaruh akhlak yang membekas secara mujtami' (kelompok sosial), maka akhlak pun menjadi dasar bagi terbangunnya masyarakat sosial seluruhnya, baik itu masyarakat Islam ataupun bukan. Hal ini telah diberitakan oleh Allah swt dalam FirmanNya :
وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر: 1 - 3].
" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran".
            Rasulullah saw bersabda : 
 اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bertakwalah engkau kepada Allah di mana saja berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, dan bergaullah terhadap manusia dengan akhlak yang baik."  [9]
            Demikian erat terikatnya akhlak dengan aqidah dan syari'ah sehingga Nabi saw berpesan kepada ummatnya agar senantiasa mengiringi kesehariannya dengan takwa dan akhlak yang baik.. Aduhai alangkah indahnya pesan baginda tercinta kepada ummatnya.. sementara diri ini begitu faqir..teramat jauuh dari melaksanakan pesanmu yaa Rasulallaah...
Yaa ilaahanaa hiasilah kami dengan karunia Rahmat-Mu sehingga kami dapat bersama hamba-hamba terkasih-Mu...

[1]  . Lihat :  - المكتبة الشاملة- الكتاب: مكارم الأخلاق لمن أراد الخلاق, الكتاب: موسوعة الأخلاق الإسلامية
[2]  . Lihat : الكتاب: مكارم الأخلاق لمن أراد الخلاق- المكتبة الشاملة-
[3] . رواه مسلم (2564)
[4] الكتاب: موسوعة الأخلاق الإسلامية
[5] . ( تفسير القرطبي (6/ 211
[6]  .( التفسير المنير للزحيلي (6/ 214
[7]  . الكتاب : مباحث في العقيدة- المكتبة الشاملة-
[8] . Lihat :Musnad ahmad , Hadits No - 7566.
[9]  . Lihat : Sunan AdDarimi , Hadits No - 2671.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik