Determinasi Hakikat Iman, Islam dan Ihsan
Oleh : Den Herians
Menjadi seorang muslim artinya menjadi seorang hamba yang secara utuh berserah diri kepada Allah swt, taat dan patuh kepada-Nya, terikat dengan tanggung jawab amal.. baik lahir maupun batin.. dan itu semua tercakup dalam hakikat iman, islam dan ihsan yang penjelasannya dapat kita temukan dalam salah satu hadits Rasulullah saw melalui riwayat Umar bin alKhatab, yakni:
عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَ لَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ [1]
'Umar bin al-Khaththab berkata: " Pernah satu ketika kami berada di sisi Rasulullah saw, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi saw lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi saw, kemudian ia berkata, 'Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam? ' Rasulullah saw menjawab: "Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadlan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya" Dia berkata, 'Kau benar.' Umar berkata:" Maka kami merasa heran terhadapnya karena dia menanyakannya dan ia membenarkannya". Dia bertanya lagi, 'Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu? ' Beliau saw menjawab: "Engkauberiman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk". Dia berkata, 'Kamu benar', Dia bertanya lagi: 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan ' Beliau saw menjawab: "Engkau menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu...." (alHadits, dengan redaksi aslinya yang cukup panjang).
Sungguh hadits yang agung ini mencakup semua perbuatan, baik itu lahir ataupun batin. Dan ilmu-ilmu syari'at serta cabang-cabangnya diuraikan dalam hadits tersebut. Terdapat faidah dari hadits ini, bahwasanya Islam dan Iman itu pada hakikatnya berbeda dalam konteks bahasa maupun istilah, demikian Ibnu Daqiq menjelaskan.
Yang pertama hakikat Iman, menurut bahasa bermakna : التَّصدِيقُ (meyakini, membenarkan). Adapun Iman dari segi istilah para 'ulama salaf yaitu : اِعتِقَادٌ بِالقَلبِ (meyakini dengan hati), نُطقٌ بِاللِّسَانِ(mengucapkan dengan lisan), عَمَلٌ بِالجَوَارِحِ (beramal dengan anggota badan). Ini merupakan makna yang tidak dapat dipisahkan dan harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Dengan demikian dalam hadits tersebut Rasulullah saw menjawab makna Iman dengan 6 landasan pokok yang kita kenal dengan Rukun Iman, bahwa itulah hakikat Iman yang benar di Sisi Allah swt , yang menuntut kita untuk meyakini sepenuh hati, berikrar dan mengamalkannya, maka itulah hakikatnya Iman. Rincian Rukun Iman dapat anda baca di artikel Pokok-pokok Aqidah Islam.
Selanjutnya makna Islam, secara bahasa yaitu : الِاسْتِسْلَامُ (berserah diri). Adapun menurut istilah yaitu :
النُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَالْعَمَلُ بِالْفَرَائِضِ
Mengucapkan dua kalimah syahadat dan mengerjakan semua yang wajib. [2]
Menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arob , bahwa Islam secara bahasa yaitu : الإِستِسلَامُ وَ الإِنقِيَادُ (tunduk patuh, berserah diri), adapun menurut syari'at yaitu:
إِظهَارُ الخُضُوعِ وَإِظهَارُ الشَّرِيعَةِ، وَ اِلتِزَامُ مَا أَتَى بِهِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم
(Menunjukkan ketundukan dan syari'at, serta terikat/berkomitmen terhadap risalah yang di bawa oleh Rasulullah saw).[3]
Dan menurut pendapat lain yaitu :
الاِستِسلَامُ للهِ بِالتَّوحِيدِ وَالاِنقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَالخُلُوصُ مِنَ الشِّركِ وَ مُعَادَاةُ أَهلِهِ
Berserah diri kepada Allah dengan bertauhid (mengesakan), mematuhi-Nya dengan penuh keta'atan dan bersih dari syirik serta mengingkari pelaku syirik.
Sebagaimana diperintahkan Allah Ta'ala, Dia berfirman :
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama beserah diri(Muslim)kepada Allah". (Q.S. AlAn'am:162-163)
Demikian hakikat Islam adalah berserah diri sepenuhnya, taat dan patuh terhadap aturan Islam, sehingga Allah swt tidak menerima selain Islam, perhatikan FirmanNya :
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
" Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi".(Q.S. Ali Imran:85).[4]
Dengan demikian seorang yang beraqidah Islam, dia terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagaimana dijelaskan pada hadits diatas yang menunjukan bahwa Islam dibangun diatas lima perkara yang kita kenal dengan rukun Islam, yang itulah hakikat Islam yang mendasar, sebagaimana juga terdapat dalam hadits dari riwayat Ibnu 'Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda :
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ [5]
"Islam dibangun diatas lima dasar; persaksian tidak ada Ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan shaum Ramadlan".
Kemudian ketiga yaitu hakikat Ihsan, yang secara bahasa bermakna : الْإِتْيَانُ بِمَا هُوَ حَسَنٌ : melaksanakan kebaikan. Dan menurut istilah yaitu :
الْإِتْيَانُ بِالْحَسَنَاتِ، وَالْحَسَنَاتُ هِيَ: فِعْلُ الْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ، وَتَرْكُ الْمُحَرَّمَاتِ وَالْمَكْرُوهَاتِ، وَفِعْلُ أَوْ تَرْكُ الْمُبَاحَاتِ لِأَنَّهَا مُبَاحَاتٌ، مَعَ التَّصْدِيقِ بِذَلِكَ للهِ تَعَالَى وَالْإِخْلاَصِ لَهُ فِيهِ، وَمَعَ اسْتِحْضَارِ رُؤْيَةِ اللهِ تَعَالَى لَهُ وَاطِّلاَعِهِ عَلَى ظَاهِرِهِ وَبَاطِنِهِ.[6]
Mengerjakan kebaikan-kebaikan, adapun kebaikan disini adalah : mengerjakan yang wajib-wajib dan yang di sunnahkan, meninggalkan segala yang diharamkan dan segala yang dibenci (makruh), mengerjakan atau meninggalkan yang mubah (yang boleh) karena hukum mubahnya, semua itu disertai tashdiq (meyakini benar) karena Allah Ta'ala, dan mengerjakannya penuh keikhlashan disertai hadirnya hati merasakan pengawasan Allah Ta'ala kepadanya dan pengawasan-Nya kepadanya baik yang nampak atau yang tersembunyi.
Dalam salah satu ayat, kata Islam (berserah diri) diiringi dengan kata muhsin (orang yang ihsan), Allah Ta'ala berfirman :
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون
"Bahkan Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia muhsin (berbuat kebajikan), Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati".(Q.S.AlBaqarah : 112).
Kata Ihsan juga dicerminkan dengan ketakwaan dan kesabaran, Firman-Nya Ta'ala :
إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِين
" Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik (muhsinin)" (Q.S. Yusuf:90).
Dan hakikat makna Ihsan yang paling singkat padat dan jelas namun bermakna sangat luas, yakni sabda Nabi saw pada hadits Jibril diatas, yakni :
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك
"Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika pun engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia melihat engkau".
Maka ini menunjukan sifat muroqqobahnya (merasa diawasi) seorang hamba yang ihsan, bahkan Imam nawawi pun memasukan hadits ini pada kitab riyadhushsholihin dalam bab muroqqobah.
Dari penjelasan diatas secara lebih sederhana, hakikat Iman, Islam dan Ihsan , dapat ditegaskan yakni bahwa Iman orientasinya keyakinan atau aqidah, Islam orientasinya pengamalan ibadah atau syari'at, sedangkan Ihsan orientasinya manajemen diri atau akhlaq. Oleh karenanya, jika hanya percaya adanya Allah (iman) tapi tidak mau mengikuti syari'at Nabi (islam) sebagaimana halnya musyrikin Jahiliyyah, maka itu tidak bisa disebut beragama Islam. Atau, jika hanya mengikuti syari'at Nabi (islam) tanpa meyakininya (iman) seperti halnya orang munafiq, itu pun tidak beragama Islam. Pun demikian jika hanya percaya dan beribadah (iman dan islam), tapi tidak berakhlaq mulia (ihsan), tidak dapat dikategorikan beragama Islam yang benar. Yang dua pertama (tidak iman-islam) dikategorikan kafir, sementara yang terakhir (tidak ihsan) dikategorikan fasiq, tidak sampai kafir. Islam sebagai agama dengan demikian harus mencakup iman, islam, dan ihsan. Jika tidak, tunggu saja kiamat yang semakin mendekat.[7] Demikian ungkap Dr. Nashruddin dalam Konsep Agama.
Dengan demikian maka setiap muslim mesti berjuang agar senantiasa berkumpul dalam dirinya hakikat Iman, Islam dan Ihsan. Demi meraih kehidupan yang sempurna dunia dan akhirat.
Wallaahulmuwaffiq..
0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik