23.10.18

Islam dan Dua Kalimat Syahadat
Islam dan Dua Kalimat Syahadat
"Persaksian sakral dalam jiwa setiap orang yang beriman (mukmin) lagi berserah diri (muslim), benteng pertahanan bagi jiwa yang merindukan Rabbnya, api  semangat yang tak akan pernah padam dalam jiwa para mujahid..."   
Syahadat An Laa Ilaaha Illallah (Tiada Tuhan Kecuali Allah)
Syahadat :
أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
mengandung pengertian :
اَلِاعتِقَادُ وَالإِقرَارُ
 keyakinan dan pengakuan, yaitu meyakini dan mengakui bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah semata, kemudian:
اِلتِزَامُ ذَلِكَ وَالعَمَلُ بِهِ
yaitu berkomitmen (terikat) dengannya serta mengamalkannya. Adapun lafazh : لا إله merupakan نفي (peniadaan), yaitu peniadaan hak kepada selain Allah untuk disembah, dan lafazh :  إلّا الله  merupakan إثباتٌ  (penetapan), yaitu menetapkan bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah semata.
Kemudian makna لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  seutuhnya yaitu :
لَا مَعبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ
“ Tiada Tuhan yang patut disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah”
Dan khobar لَا  ,  secara taqdir wajib dengan lafazh :  بِحَقٍّ , dan tidak diperbolehkan takdirnya dengan lafazh : بِمَوجُودٍ  , karena ini menyelisihi kenyataan sebenarnya.  [1]
Adapun penafsiran yang lain, yaitu yang dimaknai dengan : لَا مَعبُودَ إِلَّا اللهُ, kemudian لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ , kemudian  لَا حَاكِمِيَّةَ إِلَّا اللهُ , maka ini merupakan penafsiran yang bathil menurut penjelasan syaikh Shalih ibn Fauzan, sebab jika dimaknai dengan lafazh :  لَا مَعبُودَ إِلَّا اللهُ  menunjukkan makna :
أَنَّ كُلَّ مَعبُودٍ بِحَقٍّ أَو بَاطِلٍ هُوَ اللهُ
Bahwa setiap yang disembah baik dengan haq ataupun bathil dia-lah Allah.
Selanjutnya jika dimaknai: لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ  , maka ini hanya sebagian dari makna لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, dan tentu bukan begitu yang dimaksud, karena pernyataan tersebut tidak menetapkan seluruhnya, melainkan hanya menunjukkan rububiyahnya Allah saja, memahami sebatas ini tidaklah cukup, dan ini merupakan akidahnya orang-orang musyrik.
Begitu juga jika dimaknai : لَا حَاكِمِيَّةَ إِلَّا اللهُ, ini pun hanya sebagian dari makna, artinya semua penafsiran yang demikian itu tidak tepat. Adapun tafsir yang shahih menurut ‘ulama salaf dan tidak diragukan lagi , yaitu :
لَا مَعبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ
Syahadat : Anna Muhammadan Rasuulullaah (Muhammad adalah Rasul Allah)
Syahadat : أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ  ,
 yaitu :
الِاعتِرَافُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا أَنَّهُ عَبدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً، وَالعَمَلُ بِمُقتَضَى ذَلِكَ مِن طَاعَتِهِ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصدِيقُهُ فِيمَا أَخبَرَ، وَاجتِنَابُ مَا نَهَى عَنهُ وَزَجَرَ، وَأَلَّا يُعبَدَ اللهُ إِلَّا بِمَا شَرَعَ.[2]
Pengakuan secara lahir dan batin bahwa sesungguhnya beliau saw adalah hamba Allah dan rasul-Nya bagi manusia seluruhnya, dan perbuatan(amal) harus sesuai dengan itu dengan cara mena’atinya pada apa yang telah beliau perintahkan, dan membenarkannya pada apa yang telah beliau beritakan, dan menjauhkan diri dari apa yang telah beliau larang dan peringatkan dari mengerjakannya, dan supaya Allah tidak diibadahi kecuali dengan apa yang telah beliau syari’atkan.
Rukun-rukun Dua Kalimat Syahadat [3]
a.      لا إله إلا الله,  mempunyai dua rukun yaitu : النَّفِي وَالإِثبَاتُ (peniadaan dan penetapan). Rukun yang pertama : النفي, yaitu: لا إله , menghilangkan syirik dan segala macamnya, dan divonis kafir bagi orang yang menyembah selain Allah. Dan rukun yang kedua :  الإِثبَاتُ, yaitu: إلّا الله, menetapkan bahwa sesungguhnya tidak ada yang mempunyai hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan wajib beramal dengan meyakininya.  
Allah Ta’ala berfirman :
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ
"Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus". (Q.S. AlBaqarah:256).
Maka Firman-Nya : فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ  , ini adalah makna rukun yang pertama yaitu: لا إله  dan Firman-Nya: ويؤمن بالله  , ini adalah makna rukun yang kedua, yaitu : إلا الله  . Demikian juga dalam Firman-Nya :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku".(Q.S. AzZukhruf:26-27).
Maka Firman-Nya : إِنَّنِي بَرَاءٌ  , adalah makna an-nafi. dan Firman-Nya:  إِلا الَّذِي فَطَرَنِي , adalah makna al-itsbat.
b.     أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ , juga mempunyai dua rukun, yaitu : عَبدُهُ وَرَسُولُهُ  (hamba-Nya dan rasul-Nya), keduanya ini merupakan penyangkalan dan peniadaan terhadap penilaian yang berlebihan dan melampaui batas kepada Rasulullah saw.
Sesungguhnya beliau saw hanyalah seorang hamba-Nya dan rasul-Nya. Beliau hanyalah manusia yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulya tersebut (عبدُه ورسوله). Makna العبد disini yaitu : الْمَملُوكُ العَابِدُ  , yakni beliau saw adalah manusia biasa yang diciptakan sebagaimana manusia lainnya. Sebagaimana Firman-Nya:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (Q.S. AlKahf:110).
Dan sungguh beliau saw telah menyempurnakan penghambaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya penghambaan. Kemudian makna الرسول  disini yaitu :
 الْمَبعُوثُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً بِالدَّعوَةِ إِلَى اللهِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
Yang diutus kepada seluruh manusia dengan membawa risalah dakwah ke jalan Allah, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Ketentuan-ketentuan Syahadatain [4]
A.     شروط لا إله إلا الله / Ketentuan-ketentuan Tahlil.
     Wajib ada bagi setiap orang ketika bersyahadat لا إله إلا الله , tujuh syarat, yang mana tidak akan bermanfa’at bagi orang yang mengucapkan syahadat tersebut, kecuali terdapat tujuh syarat ini, yaitu :
1.      العِلمُ الْمُنَافِي لِلجَهلِ :   Al-Ilmu yang menjadi lawan al-Jahlu.
Yaitu mengetahui makna yang dimaksud pada syahadat, pada apa yang di nafikan-nya dan apa di itsbatkan-nya, yang menjadi lawan bagi kebodohan. Firman-Nya Ta’ala :
 إِلا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Kecuali orang yang mengakui yang haq (tauhid) dan mereka mengetahuinya" (Q.S. AzZukhruf:86).
Lafazh شَهِدَ  , yaitu bersaksi dengan kalimat لا إله إلا الله, kemudian وَهُمْ يَعْلَمُونَ  : yaitu mereka mengetahui dengan hati mereka (yakin) terhadap apa yang mereka persaksikan dengan lisan mereka. Dan jika mengucapkan syahadat tersebut tanpa mengetahui maknanya, maka tidak akan bermanfa’at baginya, sebab ia tidak meyakininya.
2.      اليَقِينُ الْمُنَافِي لِلشَّكِّ : Yakin yang menjadi lawan keraguan.
Yaitu orang yang mengucapkannya benar-benar yakin dengan apa yang ditunjukan atasnya. Demikian pula tidak akan bermanfa’at lafazh syahadat tersebut, jika hatinya dalam keadaan ragu. Firman-Nya Ta’ala :
 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu" (Q.S. AlHujurat:15).
3.      القَبُولُ الْمُنَافِي لِلرَّدِّ :  Menerima sepenuh hati yang menjadi lawan menolak.
Yaitu dia bersyahadat hanya demi menghambakan diri kepada-Nya semata, dan meninggalkan beribadah kepada selain-Nya.  Manakala menolak syahadat maka termasuk kepada golongan orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ  
"Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila ?" (Q.S. AsShaafaat:35-36).
4.      الِانقِيَادُ الْمُنَافِي لِلتَّركِ : Kepatuhan yang menjadi lawan ketidakpedulian. Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
"dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan".(Q.S. Luqman:22).
Lafazh : العُروَةُ الوُثقَى  (Tali yang sangat kuat),  yaitu : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ , dan makna lafazh : يُسلِم وَجهَهُ  (menyerahkan diri), yaitu tunduk patuh dengan mengikhlashkan diri hanya kepada Allah.
5.      الِإخلَاصُ الْمُنَافِي لِلشِّركِ : Ikhlash yang menjadi lawan kemusyrikan.
Yaitu تَصفِيَةُ العَمَلِ  (memurnikan amal) dari segala macam keburukan syirik. Tidak memiliki tujuan mengucapkan kalimat syahadat untuk ketamakkan kepada dunia, tidak riya' dan tidak sum’ah. Rasulullah saw pernah bersabda :
فإنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَن قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، يَبتَغِي بِذَلِكَ وَجهَ اللهِ
"Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ  (Laa Ilaaha Illallaah) demi mengharap ridla Allah" (H.R. Bukhari & Muslim).
6.      الصِّدقُ الْمُنَافِي لِلكَذِبِ : Kejujuran yang menjadi lawan dari dusta.
Yaitu mengucapkan kalimat syahadat yang disertai dengan hati yang membenarkannya. Sebab jika hanya lisan membenarkan sementara hatinya tidak, maka inilah orang munafik lagi pendusta. Sebagaimana Firman Allah dalam surat AlBaqarah ayat 8-10:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
"dan di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman, mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta".
7.      الْمَحَبَّةُ الْمُنَافِيَّةُ لِضِدِّهَا وَهُوَ البُغضَاءُ : Kecintaan yang menjadi lawan bagi kebalikannya yaitu kebencian.
Maka bagi pemeluk Laa Ilaaha illallaah, yang mengamalkan kalimah ini sesuai dengan yang dimaksud, mereka mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta penuh keikhlasan. Sedangkan penganut Syirik, mereka mengaku mencintai Allah, dan mereka mencintai selain Allah seperti mencintai Allah, maka inilah makna yang tidak sesuai dengan maksud Laa Ilaaha illallaah. Allah Ta’ala berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
"dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah." (Q.S. Albaqarah:165).
B.      Ketentuan  Syahadat Muhammad Rasulullah.
Diantara syarat-syaratnya, yaitu :
1.      الاِعتِرَافُ بِرِسَالَتِهِ، وَاعتِقَادُهَا بَاطِنًا فِي القَلبِ  
Yaitu mengakui kerasulan Beliau saw dan meyakininya secara batin didalam qolbu.
2.      النُّطقُ بِذَلِكَ، وَالِاعتِرَافُ بِهِ ظَاهِرً بِاللِّسَانِ
Mengucapkannya dan mengakuinya secara zhahir dengan lisannya.
3.      الْمُتَابَعَةُ لَهُ؛ بِأَن يَعمَلَ بِمَا جَاءَ بِهِ مِنَ الحَقِّ، وَيَترُكُ مَا نَهَى عَنهُ مِنَ البَاطِلِ
Mengikutinya dan mengamalkan al-haq yang beliau saw datang dengannya, serta meninggalkan apa yang beliau saw melarangnya dari perbuatan batil.
4.      تَصدِيقُهُ فِيمَا أَخبَرَ بِهِ مِنَ الغُيُوبِ الْمَاضِيَّةِ وَالْمُستَقبَلَةِ
Membenarkannya pada apa-apa yang beliau saw beritakan tentang hal-hal ghaib mengenai masa lalu dan masa depan.
5.      مَحَبَّتُهُ أَشَدُّ مِن مَحَبَّةِ النَّفسِ وَالمَالِ وَالوَلَدِ وَالوَالِدِ وَالنَّاسِ أَجمَعِينَ, Lebih mencintai beliau saw daripada kecintaan kepada diri sendiri, harta, anak, orang tua dan manusia seluruhnya.
6.      تَقدِيمُ قَولِهِ عَلَى قَولِ كُلِّ أَحَدٍ، وَالعَمَلُ بِسُنَّتِهِ
Mendahulukan perkataan beliau saw diatas perkataan seseorang, dan beramal sesuai dengan sunnah beliau saw.
Demikian keharusan bersyahadat :
أنَّ محمدًا رسولُ الله
yang maksud kepentingannya yaitu:
طَاعَتُهُ وَتَصدِيقُهُ، وَتَركُ مَا نَهَى عَنهُ، وَالِاقتِصَارُ عَلَى العَمَلِ بِسُنَّتِهِ، وَتَركُ مَا عَدَاهَا مِنَ البِدَعِ وَالْمُحدَثَاتِ، وَتَقدِيمُ قَولِهِ عَلَى قَولِ كُلِّ أَحَدٍ[5]
Mena’ati beliau saw dan membenarkannya, dan meninggalkan apa yang beliau saw melarangnya dan mencukupkan diri dengan amal yang sesuai dengan sunnahnya, dan meninggalkan amal selain sunnahnya yang termasuk bid’ah-bid’ah dan perkara-perkara yang baru, serta mendahulukan perkataan beliau saw  daripada perkataan seseorang.
          Kesimpulannya bahwa pernyataan dua kalimat syahadat tidaklah cukup dengan lisan saja, melainkan yang kokoh yang kuat adalah berada didalam qolbu tiap-tiap orang yang berbuah keta'atan dalam menjalani perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Wallaahu A'laam..


[1]  . Lihat :(المكتبة الشاملة ) عقيدة التوحيد لفضيلة الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله آل فوزان
[2]  .(المكتبة الشاملة ) عقيدة التوحيد لفضيلة الشيخ صالح بن فوزان بن عبد الله آل فوزان
[3] . Ibid.
[4]  . Ibid.
[5] . Ibid.
Baca juga: Kenapa sih harus Tauhid dalam Islam ?

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik