AlMa’arij ayat 19-22
Dalam menjalani kehidupan ini, boleh jadi kita sebagai manusia tak jarang merasa bosan, jenuh dan malas hingga akhirnya muncul sifat keluh kesah. Dan ini ternyata memang sifat bawaan manusia, sebagai tabiat yang melekat pada kebanyakan manusia. Namun Allah Ta’ala mengecualikannya bagi manusia yang beriman yang senantiasa menegakkan sholat. Dalam alQuran surat alMa’arij ayat 19-22, Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat halu’an “
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
“apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
“dan apabila ia mendapat kebaikan ia sangatlah kikir,
إِلَّا الْمُصَلِّينَ
“kecuali para pelaku shalat”
Manusia diciptakan dari tanah hitam yang keras dan kering sebagaimana tanah liat yang menjadi tembikar/keramik, kemudian ditiupkanlah padanya ruh dari Allah. Inilah manusia yang tidak lepas dari kecenderungan kepada kebaikan dan keburukan. Dan manusia tidak dibebani kecuali untuk diajak dan mengajak kepada kebaikan, yaitu kepada keimanan yang benar hingga dituntut untuk berada diatas agama yang sempurna dan berhukum dengan hukum alQuranulkarim. Dengan diberi karunia akal yang harus difungsikan dengan benar, sebab jika tidak, manusia itu tak ubahnya seperti hewan. Selain itu manusia memang memiliki tabiat materialistis dan lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, lagi cenderung ingin selalu cepat dan tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu. Bahkan karakteristik ini tiada yang dapat mencegah dan mengendalikannya kecuali dengan keimanan dan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan melaksanakan perkara-perkara yang di syari’atkan-Nya.
Dalam ayat diatas, Allah swt menunjukkan kelemahan manusia yang akan menjadi penyebab kesulitan dan keterpurukan dunia akhirat, sekaligus Allah Ta’ala memberikan solusi agar manusia keluar dari tabiat buruk tersebut.
Pendekatan Balaghah
Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan sifat haluu’an, dan Allah sendiri yang menjelaskan makna haluu’an dengan firman-Nya pada ayat 20 dan 21 diatas.
Pendekatan Makna Kosakata
Al-Insan (الإنسان ), merupakan isim jinis yang menunjukkan secara mutlak bagi keumuman manusia, bahwa kebanyakan manusia bersifat haluu’an. Namun yang dimaksud insan dalam ayat ini yaitu manusia yang sesat dari jalan Allah, yang kafir kepada-Nya, kepada Rasul-Nya dan kepada hari akhir, karena itu Allah mengecualikan sifat haluu’an dari الْمُصَلِّينَ , yakni para pelaku sholat.
Haluu’an ( هَلُوعًا ), yaitu :
سَرِيعُ الحَزَنِ وَالجَزَعِ : cepat sedih dan resah.
شَدِيدُ الحِرصِ قَلِيلُ الصَّبرِ : kerasnya hasrat, sedikit kesabaran.
Al-Zamakhsyari menjelaskan, bahwa الهَلَعُ yaitu :
سُرعَةُ الجَزَعِ عِندَ مَسِّ الْمَكرُوهِ وَسُرعَةُ الْمَنعِ عِندَ مَسِّ الخَيرِ
Mudah resah ketika tertimpa sesuatu yang dibenci dan mudah menahan(kikir) ketika mendapat kebaikan.
AsySyarru (الشَّرُّ ) , yaitu : الضُّرُ (madharat)
Jazuu’an (جَزُوعًا ) , yaitu banyak mengeluh(cemas/resah) , yang dimaksud yaitu mudah berputus asa sehingga memalingkannya dari hal-hal yang penting.
AlKhair (الْخَيْرُ ) , yaitu keleluasaan/kelapangan atau harta dan kekayaan.
Manuu’an (مَنُوعًا ), yaitu banyak menolak, berlebih-lebihan dalam menahan harta (Bakhil).
Kecuali Pelaku Sholat ( إِلَّا الْمُصَلِّينَ), yaitu orang-orang beriman yang dikecualikan dari sifat-sifat yang buruk tersebut. Dan karakteristik pelaku sholat ini dijelaskan pada ayat selanjutnya.
Makna Ayat :
Sebagaimana pengertian diatas, bahwa manusia diciptakan dengan sifat haluu’an, yakni kerasnya keinginan dan kurangnya kesabaran, maka ia seringkali tidak bersabar atas cobaan dan tiada bersyukur atas segala nikmat. Dan Allah swt menjelaskannya bahwa jenis manusia ini, ketika kefakiran, kebutuhan, sakit atau keburukan apa saja menimpanya, maka ia banyak sekali mengeluh dan bersedih, namun apabila kebaikan, kecukupan, keleluasaan ,kedudukan tinggi, prestise, kekuatan, kesehatan dan apa saja yang bersifat kesenangan dan kenikmatan, maka ia banyak sekali melupakan, menolak dan menahan dari berbuat baik, bahkan sangat bakhil. Rasulullah saw pernah bersabda :
Sifat terburuk yang ada pada diri seseorang adalah شُحٌّ هَالِعٌ (bakhil lagi pengeluh kesah) dan جُبْنٌ خَالِعٌ (pengecut lagi berhati lemah). [2]
Namun sifat buruk tersebut, Allah kecualikan dari orang-orang beriman yang sifatnya disebutkan pada ayat selanjutnya, yaitu pada Q.S. AlMa’arij ayat 23-35, Allah Ta’ala berfirman :
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25) وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (26) وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (29) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (30) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (31) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (32) وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ (33) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (34) أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ (35)
Dalam ayat diatas terdapat beberapa sifat yang akan menjaga seseorang dari sifat haluu’an, yaitu :
1. Orang yang menunaikan sholat dengan tekun (menjaga) dalam melaksanakannya. Allah Ta’ala menunjukkan pelaku sholatnya dengan kata : دَائِمُونَ , yakni orang-orang yang senantiasa tetap (mendawamkan sholatnya), mereka menjaga waktu-waktu dan kewajiban-kewajibannya, sedikitpun ia tidak meninggalkannya, meskipun dia orang yang sibuk namun tidak menyibukkannya dari sholat tepat waktu, tidak melewatkan yang fardlu-fardlu dan yang sunnahnya. Dan hakikat sholat yang demikian itu mencerminkan hubungannya dengan Allah, ketenangan dan kekhusyu’annya. Maka Allah mengecualikan mereka dari sifat haluu’an. Itu karena keimanan mereka, dan keberadaan addinul haq yang ada dalam diri mereka menjadikannya berada diatas sifat yang terpuji dan mengilangkan segala penyakit hati. Dan ayat ini juga menjadi dalil atas wajibnya tekun dalam beribadah, sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
أَحَبُّ الأَعمَالِ إِلَى اللهِ أَدوَمُهَا وَإِن قَلَّ
“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah mendawamkannya (terus menerus) meskipun sedikit”
‘Aisyah berkata :
وَكَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا دَاوَمَ عَلَيهِ
“Dan Rasulullah apabila beliau beramal satu amalan, beliau tekun mengamalkannya”.
Dan yang tak kalah pentingnya adalah menjaga perkara-perkara yang berkaitan dengan sholat itu sendiri, yakni seperti berwudlu, menutup aurat, menghadap kiblat dsb, juga perkara-perkara yang menyertai sholat seperti khusyu dan menjaga hati dari riyaa’, melaksanakan yang sunnah dan menyempurnakannya. Kemudian menjaga perkara-perkara selanjutnya dengan esensi sholat, seperti menjaga diri dari lalai dan kesia-siaan (meninggalkan sesuatu yang tiada bermanfaat), menjaga diri dari perbuatan yang menyelisihi keta’atan, karena sholat itu harus bisa mencegah keji dan munkar. Maka melakukan maksiyat setelah sholat itu pertanda tidak diterimanya sholat tersebut, wal ‘iyaadzu billaah.
2. Menunaikan zakat dan kewajiban-kewajiban yang bersifat maliyah (harta). Sebagaimana dijelaskan ayat diatas, Firman-Nya :
“dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa”.
Yaitu mereka orang-orang yang memiliki harta kemudian menyisihkannya untuk orang-orang yang membutuhkan dan lemah tak berdaya, baik itu orang yang terpaksa meminta ataupun yang menjaga diri dari meminta-minta. Dan ini termasuk zakat yang wajib dan setiap yang seseorang telah menetapkan nadzar baginya, sodaqoh yang dirutinkan atau dengan memberi bantuan yang terus menerus, dsb. Ini pun sebagai dalil atas wajibnya beribadah dengan harta, sebagai esensi dari tujuan hidup bermasyarakat setelah kewajiban ibadah badaniyah sebagai substansi akhlaq yang memelihara jiwa dan sebagai tujuan agama yang mulia. Dan sifat kedermawanan atas dasar iman ini berlawanan dengan sifat haluu’an.
3. Tashdiiq (meyakini dan membenarkan) adanya hari pembalasan. Yaitu orang-orang yang yakin kepada hari kiamat, adanya hari kebangkitan, penghisaban dan pembalasan. Mereka tidak meragukan dan menyangkalnya, lalu mereka beramal sebagaimana amalnya orang yang mengharapkan pahala dan takut siksaan. Dan ayat ini sebagai dalil bahwa sesungguhnya amalan shalih itu mendorong kepada perbaikan aqidah, perkataan dan perbuatan.
4. Takut akan adzab dari Allah Ta’ala, sebagaimana dilukiskan ayat diatas, Firman-Nya :
“dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, karena sesungguhnya azab Tuhan mereka, tiada orang merasa aman (dari kedatangannya)”
Yaitu mereka orang-orang yang khawatir dan takut diadzab oleh Allah jika mereka meninggalkan yang diwajibkan-Nya dan mengerjakan apa yang dilarang-Nya. Sesungguhnya adzab Allah itu nyata dan pasti, dan tidak seharusnya orang merasa aman dari adzab-Nya.
Ayat ini sebagai dalil, bahwa takut dan khawatir akan adzab Allah adalah pendorong untuk ta’at dan pencegah dari maksiyat.
5. Memelihara dan menjauhkan diri dari fahisyah. Yaitu orang-orang yang menjaga kemaluan mereka dari yang diharamkan dan mencegahnya untuk tidak berbuat selain dari yang di izinkan Allah, karena siapa yang melakukan diluar batas tersebut dialah orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang melampaui batas akan menimbulkan kerusakan bagi diri mereka sendiri dan orang lain.
6. Melaksanakan amanat dan menepati janji. Yaitu orang-orang yang menjaga amanat yang dipercayakan kepadanya untuk di tunaikan kepada yang berhak atasnya. Menepati janji dan tidak sedikitpun melanggar apa yang telah ditetapkannya. Maka ketika ia diamanati ia tidak mengkhianatinya, dan ketika ia janji ia tidak mengingkarinya. Inilah sifat orang-orang mukmin, dan kebalikannya adalah sifatnya orang-orang munafiq, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ [3]
“Tanda orang munafiq itu ada tiga : Jika ia berkata ia berdusta, jika ia berjanji ia ingkar dan jika ia di beri amanat ia khianat”
7. Melakukan persaksian dengan benar. Firman-Nya :
“Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya”, yaitu orang-orang yang dimintai persaksian oleh hakim dengan benar, dan mereka menjaga persaksiannya tanpa menambah dan mengurangi, dengan tanpa melihat status karib kerabat atau bukan, tinggi atau rendah, miskin atau kaya, dan tidak menyembunyikan atau merubah persaksiannya.
8. Dan terakhir yaitu orang-orang yang memelihara sholat secara sempurna. Yakni orang yang memelihara waktunya, rukun-rukunnya, yang wajibnya, yang mustahabnya. Tidak melewatkan sedikitpun darinya, tidak disibukkan dari melaksanakannya, tidak kontradiktif dengan perbuatannya sehingga membatalkan dan menggagalkan pahalanya. Mereka melaksanakan sholatnya dengan senang hati dan penuh semangat, mengosongkan hatinya dari kesibukan dunia. Mereka menafakuri apa yang mereka baca dan mengulang-ulang dzikrullah, hati mereka hadir bersama Allah dan mereka memahami ayat-ayat alQuran. Mengenai penjelasan mendirikan sholat bisa juga anda rujuk diartikel : Perintah Mendirikan Sholat.
Mereka orang-orang yang disifati dengan sifat-sifat tersebut, kelak dikaruniai tempat tinggal yang kekal di surga, dimuliakan dengan berbagai macam kemuliaan, dengan bermacam-macam warna dan tempat peristirahatan dengan aliran-aliran sungai yang tiada terbayangkan saat ini, sebagaimana disebutkan dalam hadits :
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ [4]
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “ Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih apa yang mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya, dan belum pernah pula terlintas dalam hati manusia ”
Dan dalam ayat diatas juga Allah Ta’ala memberi sifat terhadap pelaku sholat dengan dua karakter, yakni yang pertama daaimun (دَائِمُونَ) dan yang kedua yuhaafizhuun (يُحَافِظُونَ ), menurut AlZamakhsyari dalam AlKasyaf makna dawaam yaitu tekun dan rajin melaksanakannya, tidak pernah melewatkannya, dan berbagai kesibukannya tidak pernah melalaikannya dari sholat. Adapun makna yuhaafizhuun yaitu mereka memelihara dan menjaga kesempurnaan wudlu, menyempurnakan waktu-waktunya, menegakkan rukun-rukunnya, menyempurnakan yang sunnahnya berikut adab-adabnya, dan menjaga diri dari ihbath yakni menjaga diri dari berbuat dosa.
Demikian dari penjelasan diatas, dapat kita ambil faidah bahwa ayat-ayat tersebut menjadi bimbingan dan solusi agar kita terlepas dari sifat haluu’an, karena sifat haluu’an ini bukanlah sifatnya orang-orang yang beriman.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمُرَادِهِ
Maraji’ :
التفسير الواضح - الحجازي، محمد محمود
الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل - أبو القاسم محمود بن عمرو بن أحمد، الزمخشري
التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج – أ.د وهبة بن مصطفى الزحيلي
Belum tau dalilnya perintah sholat?, silakan anda kunjungi :
Wajibnya Sholat 5 waktu
[1] Lihat : Musnad ahmad dan Sunan Abi Dawud yang ditahqiq oleh Al Arnauth dan Beliau mengatakan hadits ini shahih.

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik