11.9.18

alQuran surat Al An'am
Ta’rif (Definisi) Surat Al An’aam
سورة الأَنْعَام
Sababu Tasmiyah  (Sebab Penamaan) Surat al An’aam
     Dinamakan surat al An’aam  karena terdapat penyebutan lafazh al an’aam didalamnya , Allah Ta’ala berfirman :
وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا ...
“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan al an’aam (hewan ternak) yang telah diciptakan Allah...”. (Q.S. 6 :136).
Dan juga karena lebih banyak hukum-hukum yang menjelaskan tentang jahiliyahnya orang-orang musyrik, karena mereka menjadikan binatang ternak sebagai jalan untuk taqarrub kepada berhala-berhala mereka. Disebutkan didalamnya berupa kekhususan-kekhususan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas :
نَزَلَت ‏سُورَةُ ‏الأَنعَامِ ‏بِمَكَّةَ ‏لَيلًا ‏جُملَةً ‏وَاحِدَةً ‏حَولَهَا ‏سَبعُونَ ‏أَلفَ ‏مَلَكٍ ‏يَجأَرُونَ ‏بِالتَّسبِيحِ
Surat al An’aam turun di Makkah pada satu malam sekaligus, disekelilingnya terdapat 70 ribu malaikat , mereka berdo’a dengan bertasbih.
  Ta’rif Surat
1. Merupakan Surat Makiyyah, kecuali beberapa ayat : 20,23,91,93,114,141,151,152,153. Maka ini termasuk surat Madaniyah.
2.      Termasuk kepada surat-surat yang panjang.
3.      Jumlah ayatnya 165 ayat.
4.      Surat yang ke-6 berdasarkan tartib Mushaf.
5.      Turun setelah surat alHijr.
6.      Dimulai dengan salah satu gaya bahasa sanjungan yaitu “الحمد لله “.
7.      Juz (8), Hizb (13,14,15), Rubu’ (1,2,3,4).
Pokok-pokok Pembahasan
     Surat alAn’aam merupakan salah satu surat makiyyah yang panjang, yang pokok-pokok pembahasannya seputar permasalahan aqidah dan ushulul iman, yaitu yang maksud dan objektifitasnya berbeda dengan surat madaniyah sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya seperti surat albaqarah, ali Imran, annisa dan almaidah, yakni tidak menyinggung sedikitpun tentang hukum-hukum yang bersifat aturan dan tatatertib terhadap jamah Muslimin seperti shaum dan haji, mengenai akibat-akibat, hukum-hukum rumah tangga, juga tidak menyebutkan perkara-perkara pembunuhan dan peperangan yang keluar dari dakwah islam, sebagaimana juga tidak menjelaskan mengenai ahlul kitab Yahudi dan Nashrani, tidak juga menjelaskan tentang orang-orang munafiq. Melainkan hanya menjelaskan perkara-perkara yang besar sebagai asas bagi pokok-pokok aqidah dan iman. Dan perkara-perkara ini secara ringkas mengokohkan perkara berikut :
1.      قَضِيَّةُ الأُلُوهِيَّةِ  (Perkara Uluhiyah).
2.      قَضِيَّةُ الوَحيِ وَالرِّسَالَةِ (Perkara wahyu dan kerasulan).
3.      قَضِيَّةُ البَعثِ وَالجَزَاءِ (Perkara hari berbangkit dan pembalasan amal).
Sebab Turunnya Surat
قَالَ الْمُشرِكُونَ : يَا مُحَمَّدُ اَخبِرنَا عَنِ الشَّاةِ إِذَا مَاتَت مَن قَتَلَهَا قَالَ : اللهُ قَتَلَهَا قَالُوا : أَفَتَزعُمُ أَنَّ مَا قَتَلتَ أَنتَ وَأَصحَابُكَ حَلَاٌل وَمَا قَتَلَ الكَلبُ وَالصَّقرُ حَلَالٌ وَمَا قَتَلَهُ اللهُ حَرَامٌ ، فَأَنزَلَ اللهُ تَعَالَى هَذِهِ الآيَةَ. وَقَالَ عِكرِمَةُ : إِنَّ الْمَجُوسَ مِن أَهلِ فَارِسَ لَمَّا أَنزَلَ اللهُ تَعَالَى تَحرِيمَ الْمَيتَةَ كَتَبُوا إِلَى مُشرِكِي قُرَيشٍ وَكَانُوا أَولِيَاءَهُم فِي الَجاهِلِيَّةِ وَكَانَت بَينَهُم مُكَاتَبَةٌ أَنَّ مُحَمَّدًا وَأَصحَابَهُ يَزعَمُونَ أَنَّهُم يَتَّبِعُونَ أَمرَ اللهِ ثُمَّ يَزعَمُونَ أَنَّ مَا ذَبَحُوا فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا ذَبَحَ اللهُ فَهُوَ حَرَامٌ فَوَقَعَ فِي أَنفُسِ نَاسٍ مِنَ الْمُسلِمِينَ مِن ذَلِكَ شَئٌ فَأَنزَلَ اللهُ تَعَالَى هَذِهِ الآيَةَ.  
Orang-orang musyrik berkata : “ Hai Muhammad... kabarkan kepada kami tentang domba ketika ia mati, siapakah yang telah membunuhnya?”, Nabi menjawab : “Allah telah membunuhnya”. Mereka berkata: “ Apakah kau anggap hewan yang telah engkau dan sahabatmu bunuh, itu adalah halal? Dan yang dibunuh anjing atau elang itu halal ?, sedangkan yang dibunuh oleh Allah adalah haram?. Kemudian Allah menurunkan ayat ini.  Dan Ikrimah berkata : “Sesungguhnya orang-orang majusi dari penduduk Persia, ketika Allah menurunkan ayat yang mengharamkan bangkai, mereka mencatatnya untuk disampaikan kepada musyrikin Quraisy sedangkan mereka adalah wali-wali nya. Dan diantara mereka ada orang-orang yang mencatat: bahwa Muhammad dan para sahabatnya mengklaim bahwa mereka itu adalah orang-orang yang menta’ati perintah Allah, kemudian menganggap bahwa apa yang mereka sembelih adalah halal sedangkan apa yang Allah “sembelih” adalah haram. Maka karena hal tersebut kemudian terjadilah sesuatu yang mempengaruhi jiwa orang-orang muslim, lalu Allah swt menurunkan ayat ini. [1]
قَالَ ابنُ عَبَّاسٍ يُرِيدُ حَمزَةَ بنَ عَبدِ الْمُطَلِّبِ وَأَبَا جَهلٍ وَذَلِكَ أَنَّ أَبَا جَهلٍ رَمَى رَسُولَ اللهِ بِفَرثٍ وَحَمزَةُ لَم يُؤمِن بَعدُ فَأُخبِرُ حَمزَةُ بِمَا فَعَلَ أَبُو جَهلٍ وَهُوَ رَاجِعٌ مِن قَنصِهِ وَبِيَدِهِ قَوسٌ فَأَقبَلَ غَضبَانَ حَتَّى عَلَا أَبَا جَهلٍ بِالقَوسِ وَهُوَ يَتَضَرَّعُ إِلَيهِ وَيَقُولُ : يَا أَبَا يَعلَي أَمَّا تَرَى مَا جَاءَ بِهِ سَفَّهَ عُقُولَنَا وَسَبَّ آلِهَتَنَا وَخَالَفَ اَبَاءَنَا قَالَ حَمزَةُ : وَمَن أَسفَهَ مِنكُم تَعبُدُونَ الحِجَارَةَ مِن دُونِ اللهِ أَشهَدُ أَن لَّا اِلَهَ اِلَّا اللهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ فَأَنزَلَ اللهُ تَعَالَى هَذِهِ الآيَةَ . 
Telah berkata Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau bermaksud menemui Hamzah bin ‘Abdilmuthallib dan Abu Jahl, dan ketika itu  Abu Jahl melempar Rasulullah saw dengan kotoran hewan, dan Hamzah waktu itu belum beriman, kemudian Hamzah diberitahu tentang apa yang dilakukan Abu Jahl saat itu Hamzah telah pulang dari berburu dan ditangannya masih menggenggam busur panah, kemudian Hamzah menghadap Abu Jahl dalam keadaan marah hingga memukul Abu Jahl dengan busur, lalu Abu jahl menghiba kepada Hamzah, ia berkata : “Hai Abu Ya’la, tidak kah engkau melihat apa yang dibawa olehnya(nabi muhammad saw)?, ia telah menganggap bodoh pemikiran kita, mengutuk tuhan-tuhan kita dan menyelisihi nenek moyang kita?. Lalu Hamzah berkata : “ Siapa yang lebih bodoh dari kalian yang menyembah batu selain daripada Allah?, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya ”. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini.


[1]   yakni surat al-an’am :121

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik