Istighotsah Penghuni Neraka kepada Penghuni Surga
Q.S. al-A’raf ayat 50-52
Allah Ta’ala Yang Maha Perkasa mengabarkan betapa sengsaranya para penghuni neraka, selain di adzab dengan panasnya api neraka, mereka juga menderita kelaparan dan kehausan yang teramat sangat, sehingga mereka meminta bantuan (istighotsah) kepada penghuni surga agar dibagi makanan dan minuman surga. Namun Allah telah mengharamkannya bagi penghuni neraka, sebagai siksaan akibat kelakuan mereka sewaktu di dunia yang tidak mau ta’at kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka mengingkari perintah-Nya, mereka enggan melaksanakan kewajiban harta terhadap hak-hak orang miskin, tidak mau menunaikan zakat dan shodaqoh. Allah Ta'ala berfirman :
وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ
Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizqikan Allah kepadamu". Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.(Q.S.AlA'raaf:50)
الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (Q.S.AlA'raaf:51)
Mereka itulah orang-orang yang kafir kepada Allah dan para Rasul-Nya (dan sebagian ciri-cirinya udah dibahas dalam artikel : sifat orang kafir), yakni orang-orang yang terhadap agama yang telah Allah perintahkan, malah mereka jadikan permainan, ejekan dan senda gurau. Sebagaimana yang dijelaskan AlThobari dari Ibnu ‘Abbas sehubungan dengan Firman-Nya :
الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا
Ibnu ‘Abbas berkata :
وَذَلِكَ أَنَّهُم كَانُوا إِذَا دُعُوا إِلَى الإِيمَانِ سَخِرُوا مِمَّن دَعَاهُم إِلَيهِ وَهَزَؤُوا بِهِ، اِغتِرَارًا بِاللهِ.
Begitulah, mereka ketika diajak beriman malah mengejek orang yang mengajak mereka kepada keimanan dan malah memperolok-oloknya, sebagai tipudaya kepada Allah. (Lihat : Tafsir AlThobari).
Maka pantaslah adzab bagi yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya. Betapa malang dan tersiksanya ahli neraka menyaksikan kenikmatan yang diperoleh ahli surga, alBaghawi menjelaskan :
قَالَ عَطَاءٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: لَمَّا صَارَ أَصْحَابُ الْأَعْرَافِ إِلَى الْجَنَّةِ طَمِعَ أَهْلُ النَّارِ فِي الْفَرَجِ، وَقَالُوا: يَا رَبِّ إِنَّ لَنَا قَرَابَاتٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَأْذَنْ لَنَا حَتَّى نَرَاهُم وَنُكَلُّمُهُم، فينظرون إِلَى قَرَابَتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَمَا هُمْ فِيهِ مِنَ النَّعِيمِ فَيَعْرِفُونَهُمْ وَلَمْ يَعْرِفْهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ لِسَوَادِ وُجُوهِهِمْ، فَيُنَادِي أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ بِأَسْمَائِهِمْ. وَأَخْبَرُوهُمْ بِقَرَابَاتِهِمْ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ
Telah berkata ‘Atha dari Ibnu ‘Abbas : Ketika penghuni A’raaf (Tempat tertinggi, batas antara surga dan neraka) datang ke surga, maka ahli neraka mengharapkan kesenangan surga, lalu mereka (ahli neraka) berkata : “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya kami mempunyai kerabat diantara penghuni surga, maka izinkanlah kami sehingga kami melihat mereka dan berbicara kepada mereka. Kemudian mereka melihat karib kerabatnya di surga yang mana mereka (ahli surga) berada ditempat yang penuh kenikmatan, lalu mereka(ahli neraka) mengenalnya, namun ahli surga tidak mengenal mereka karena hitam legamnya wajah-wajah ahli neraka. Lalu para penghuni neraka memanggil para penghuni surga dengan nama-namanya. Kemudian mereka menceritakan kepedihan mereka kepada kerabatnya tersebut dan meminta : "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizqikan Allah kepadamu". (Tafsir alBaghawi).
Demikianlah Ahli neraka memohon agar penghuni surga memberikan makanan dan minuman surga, sungguh mereka menderita karena siksaan panasnya api neraka yang membakar perut mereka, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Mafaatiihul Ghaib :
وَإِنَّمَا طَلَبُوا الْمَاءَ خَاصَّةً لِشِدَّةِ مَا فِي بَوَاطِنِهِمْ مِنَ الِاحْتِرَاقِ وَاللَّهِيبِ بِسَبَبِ شِدَّةِ حَرِّ جَهَنَّمَ. وَقَوْلُهُ: أَفِيضُوا كَالدَّلَالَةِ عَلَى أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ أَعْلَى مَكَانًا مِنْ أَهْلِ النَّارِ.( تفسير الرازي = مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير )
Dan sesungguhnya mereka hanya meminta air yang khusus untuk menghilangkan dahsyatnya siksaan yang ada dalam perut mereka akibat terbakar dan api yang menyala-nyala disebabkan teramat panasnya neraka Jahannam. Perkataan : أَفِيضُوا(limpahkanlah / curahkanlah), seakan menunjukan bahwa penghuni surga berada ditempat tertinggi daripada penghuni neraka.
Permohonan dan harapan mereka sesungguhnya disertai dengan keputus asaan, karena mereka tahu bahwa siksa neraka telah tetap atas mereka dan tak akan dikurangi sedikitpun. Allah Ta'ala membiarkan mereka kelaparan kemudian ditambah lagi siksaan atas mereka. Lalu mereka memohon dan menghiba, mereka beristighotsah lalu mereka "dibantu" dengan diberi makanan dari pohon berduri yang tidak akan menggemukan dan tidak akan menghilangkan lapar, yang menyumbat tenggorokan, lalu mereka dipaksa meminum air yang sangat panas dan nanah, lalu digunting dengan gunting besi hingga berantakanlah isi perut mereka. Tiada yang dapat memberi mereka bantuan, sia-sia saja mereka meminta tolong kepada penghuni surga, karena Allah telah mengharamkan segala kenikmatan bagi penghuni neraka. (Lihat : Tafsir alRazi).
AlQurtuby menjelaskan, ayat tersebut juga sebagai dalil bahwa memberi minum adalah amal yang utama, sebagaimana Ibnu 'Abbas pernah ditanya :
أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: الْمَاءُ، أَلَمْ تَرَوْا إِلَى أَهْلِ النَّارِ حِينَ اسْتَغَاثُوا بِأَهْلِ الْجَنَّةِ"
Shodaqoh apakah yang paling utama ?, Ibnu 'Abbas menjawab : "Air, apakah kalian tidak melihat bagaimana ahli neraka, ketika mereka beristighotsah kepada ahli surga?". (lihat: Tafsir alQurtuby).
Pada ayat diatas Allah Ta'ala mensifati orang-orang kafir atas apa yang mereka lakukan sewaktu didunia dengan kelakuan mereka, yang menjadikan agama sebagai permainan dan ejekan, padahal mereka telah diperintahkan untuk beramal shalih demi kehidupan akhirat. Namun mereka menjadikan la'ibun dan lahwun sebagai agama bagi diri mereka, juga menjadikan adat/kebiasaan mereka sebagai amalan yang tidak dapat mensucikan jiwa dan tidak berfaidah. Mereka tertipu oleh kehidupan dunia dengan berbagai kelezatannya, syahwat dan hiasannya, tiada mempedulikan halal dan haramnya. Akhirnya mereka melupakan kehidupan akhirat, melupakan pertemuan dengan Allah 'Azza wa Jalla. Maka Allah pun melupakan mereka, meninggalkan mereka dalam keadaan disiksa dalam neraka jahannam sebagaimana mereka sewaktu di dunia meninggalkan amal shalih yang sejatinya adalah bekal untuk bertemu dengan Allah pada hari kiamat.
Dari surat Al A'raaf ayat 50 dan 51 diatas, sedikitnya dapat kita jadikan pelajaran sebagai berikut:
1. Makanan dan minuman ahli surga selamanya diharamkan bagi ahli neraka, itu sebagai hukuman atas kekafiran mereka. Makanan dan minuman ahli neraka hanyalah makanan dan minuman yang akan menambah pedihnya siksaan di neraka.
2. Kelak orang-orang kafir akan meminta tolong kepada penghuni surga yang pernah mereka kenal sewaktu didunia, namun tiada seorang pun yang dapat dimintai pertolongan.
3. Sifat orang-orang kafir senantiasa melalaikan diri dan mengingkari adanya adzab jahannam, serta muammalahnya orang-orang kafir adalah muammalah yang melupakan kehidupan akhirat.
4. Firman Allah : وَغَرَّتْهُمُ الْحَياةُ الدُّنْيا : "dan kehidupan dunia telah menipu mereka", menurut AlRazi ini merupakan majaz (kiasan), sebab dunia pada hakikatnya tidak menipu, namun yang dimaksud adalah kehidupan dunia ini jadi memperdaya manakala manusia rakus dalam kehidupan dunia, sehingga ia menjadi tamak, ingin berumur panjang bahkan takut mati, rakus akan kehidupan yang bagus lagi banyak harta, kuatnya prestise (gengsi).
Disebabkan kuatnya hasrat untuk mencapai kehidupan yang demikian, maka itu menjadi penghalang dari tuntutan kewajiban agama, akibatnya semakin tenggelam dalam kehidupan dunia dan melupakan kehidupan akhirat.
5. Sesungguhnya Allah Ta'ala Yang Maha Menyaksikan tidak akan pernah lupa atau melewatkan sesuatu sedikitpun. Firman Allah :فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ : "Maka pada hari ini(hari kiamat), Kami melupakan mereka.." , ungkapan ini adalah sebagai balasan atas mereka yang selalu melupakan dan mengingkari Allah dan RasulNya, maka Allah Ta'ala membiarkan mereka tersiksa dan terhina dalam adzab neraka.
6. Sifat hubbuddunya merupakan sumber dari segala malapetaka, sebagaimana sabdanya Rasulullah saw : حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ:" Cinta dunia adalah pangkalnya segala dosa". Sungguh hubbuddunya itu menuntun kepada kekafiran dan kesesatan. (AlRazi,Mafaatiihul Ghaib).
Pengingkaran dan melalaikan dirinya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Allah, pada akhirnya akan bertemu dengan penyesalan yang kekal abadi di hari kiamat, penyesalan yang tiada lagi berguna. Padahal Allah Ta'ala telah menjelaskan petunjuk yang lurus di dunia demi kebahagiaan akhirat, sebagaimana pada ayat selanjutnya yakni ayat ke 52 surat alA'raaf, Allah Ta'ala bersumpah dan menegaskan :
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan satu Kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang senantiasa beriman".
Maksudnya yaitu Allah Ta'ala telah menjelaskan didalam alQuran mana yang haq dan yang batil, mana kesesatan dan mana petunjuk, halal dan haram, perintah dan larangan-Nya, janji dan ancaman-Nya, segala ketentuan dan hukum-hukum Nya, berdasarkan pengetahuan Allah Ta'ala Yang Maha Luas Ilmu-Nya.
Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa alQuran menerangkan hukum-hukum Allah dengan ilmu yang sempurna demi lurusnya aqidah dan bersihnya jiwa yang menjadi sebab kebahagiaan, juga sebagai petunjuk dan rahmat. Supaya manusia mengamalkan hukum-hukum-Nya.
AlQuran menjelaskan pokok-pokok agama yang lurus, serta mengutuk perbuatan syirik dan penyembahan berhala. AlQuran juga sebagai program bagi kemashlahatan manusia.
Wallaahu a'lam .
Semoga Allah Ta'ala menggolongkan kita kepada golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa beriman dan bertaqwa.
_______________________
Maraji’
- تفسير الطبري
- الجامع لأحكام القرآن = تفسير القرطبي
- تفسير البغوي - إحياء التراث
- مفاتيح الغيب = التفسير الكبير
- التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج
0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik