Sifat-sifat Orang Kafir
AlBaqarah ayat 6-7
Dalam artikel yang lalu telah dibahas mengenai sifat orang bertaqwa,
yaitu mereka adalah orang-orang yang beriman, bagi anda yang belum membacanya
silakan rujuk di alBaqarah ayat 1-5.
Dan untuk kali ini kita lanjutkan ke ayat berikutnya tentang sifat-sifat
orang kafir dalam surat alBaqarah ayat 6-7, tentu bagi mereka pun ada balasan
atas kekafirannya. Kafir adalah lawan kata dari Iman, maka sifat-sifatnya pun
senantiasa menyelisihi sifat orang beriman. Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ
كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا
يُؤْمِنُونَ خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى
أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi
mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga
akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan
penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang Amat berat"
Sebagaimana
telah diterangkan sebelumnya, Allah swt memulai surat albaqarah dengan kalam yang menggetarkan dan berita mengenai kondisi manusia terhadap ayat-ayat Allah, Dia menyebutkan bahwa manusia bermacam-macam : maka diantara
mereka ada yang beriman kepada-Nya dan beramal shalih, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan
diantara mereka ada yang kafir dan menyombongkan diri dari kebenaran baik dalam
perkataan maupun perbuatan, mereka itulah orang yang merugi sebagai para penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.
Allah swt menyertakan
ayat tersebut diatas setelah menjelaskan
keadaan orang-orang beriman untuk membuat perbandingan antara pemeluk keimanan dan pemeluk kekafiran, sebab kekafiran
merupakan kebalikan dari keimanan, dan orang-orang beriman itu selamat, sedangkan
orang-orang kafir itu celaka, mereka kekal di neraka
jahannam.
Pendekatan Makna Kosakata
Alkufru (الكفر) , yaitu :
سِترُ الشَّيءِ وَتَغطِيَتُهُ ,Yakni selubung/penutup
sesuatu dan menutupinya.
Maka
siapa yang kafir, artinya ia telah menutupi kebenaran dan menutup nikmat-nikmat
Allah kepadanya dan ia telah menyangkal keimanan. [1]
Aandzartahum (أَأَنْذَرْتَهُمْ )yaitu:
الإِنذَارُ: الإِعلَامُ مَعَ التَّخوِيفِ
al-indzar: Pemberitahuan
yang disertai menakut-nakuti (peringatan).
Khatamallaahu ‘alaa
quluubihim (خَتَمَ اللَّهُ عَلى قُلُوبِهِمْ), yaitu :
طَبَعَ عَلَيهَا بِالخَاتِمِ
Allah menutupnya dengan
suatu penutup.
Hanya saja kata penutup biasanya sering
digunakan pada pintu untuk mencegah masuknya sesuatu melaluinya, adapun yang dimaksud pada ayat ini yaitu hati mereka
dikunci, oleh karena itu maka keimanan tidak
dapat memasukinya dan orang
yang tiada masuk keimanan dalam hatinya maka ia
tidak akan selamat.
Ghisyawah (غِشَاوَةٌ), alghisyawah yaitu الغِطَاءُ (penutup), dan yang
dimaksud dalam ayat tersebut
yaitu mereka pura-pura buta dari perhatian kepada
ayat-ayat Allah. [2]
Pendekatan Balaghah
Sebagaimana yang
dijelaskan Dr.Wahbah Zuhaily dalam almuniir :
ayat سَواءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ ,yakni tiada harapan akan beriman-nya orang-orang kafir disebabkan tiadanya
kecenderungan mereka terhadap keimanan.
خَتَمَ اللَّهُ عَلى قُلُوبِهِمْ , dengan meminjam kata
" Khotama" yang bersifat pendeklarasian/pernyataan. Menyerupakan hati
mereka (orang-orang kafir) akibat penolakannya terhadap kebenaran, dengan satu wadah (qalbun) yang
ditutupi diatasnya.
وَلَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ ,
ungkapan adzab (عَذابٌ)
diberitakan dalam bentuk isim nakirah untuk menunjukan betapa besar dan
mengerikannya adzab tersebut, kemudian Allah mensifatinya dengan menyertakan
lafazh 'azhim (عَظِيمٌ)menunjukan
betapa luar biasanya hukuman siksaan yang dahsyat, yaitu dahsyatnya rasa sakit
dan betapa lama waktunya.
Sababunnuzul ayat
Menurut riwayat yang
paling shahih sebagaimana AthThabari meriwayatkannya dari Ibnu ‘Abbas dan
AlKalbiy bahwa kedua ayat ini turun sehubungan dengan para pemimpin yahudi,
diantaranya Huyay bin Akhthab dan Ka’ab bin alAsyraf dan teman-teman mereka
berdua. [3]
Makna Ayat AlBaqarah ayat 6-7
Sesungguhnya orang-orang
yang kafir dan menyangkal terhadap ayat-ayat Allah serta mendustakan alQuran
dan Muhammad saw, ada dan tidaknya peringatan bagi mereka sama saja hati mereka
tidak terpengaruh dengannya. Karena hatinya tertutup, maka cahaya Ilahi tidak
sampai kepadanya , dan iman tidak dapat menyinarinya disebabkan ta’âmâ
(pura-pura buta) nya mereka dari kebenaran dan ayat-ayat Allah, maka
pengaruh hidayah dan nasihat tidak dapat menembusnya, dan disebabkan mereka
telah mengabaikan wasilah-wasilah pengetahuan, pandangan dan pemikiran, dan
mengabaikan fungsi pendengaran dan penglihatan, sebenarnya mereka dapat melihat
kebenaran namun tidak dapat mengikutinya, dapat mendengarnya namun tidak dapat
memahaminya. Maka balasan mereka adalah adzab yang sangat berat lagi tidak
terputus, disebabkan pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala.[4]
Intisari yang dapat diterapkan dalam kehidupan
Dua ayat tersebut merupakan penglipur lara
bagi Nabi saw dari pendustaan kaumnya terhadap Beliau. Maka tiadalah penyesalan
atas mereka, tiada harapan atas iman mereka dan tiada celaan atas Nabi saw bagaimanapun
keadaan mereka.
Penutup yang ada pada hati orang-orang
kafir bermakna tiadanya kecenderungan mereka terhadap kebenaran. Gaya bahasa الغِشَاوَة yang ditujukan kepada
pendengaran dan penglihatan , bermakna bahwa tiada unsur yang membuat mereka faham
tehadap alQuran ketika dibacakan kepada mereka, kosongnya pandangan mereka
terhadap ciptaan-ciptaan Allah. Ketika mereka diseru untuk mengesakan Allah
swt, mereka tak jua mau beriman, semua itu disebabkan kekafiran dan
pembangkangan mereka, bukan karena sebab alQuran atau kurangnya petunjuk dari
Nabi saw dan 'ulama setelah Beliau saw, mereka sendirilah yang menjadi sabab
musabab semuanya itu, mereka yang berpaling dari wasilah yang dapat membantu
mereka mengetahui jalan keselamatan dalam aqidah yang benar dan mengamalkannya.
Pernyataan khotam (خَتَمَ) ditujukan
kepada hati, pendengaran dan penglihatan, menunjukan bahwa kekafiran telah
menguasai hati mereka, sehingga mereka sengaja mencabut atau menghilangkan
sebab-sebab dan motif pendorong yang dapat membimbing mereka kepada pandangan
dan pemikiran terhadap dalil-dalil keimanan dan kebaikan-kebaikan, dan jadilah
mereka itu dalam tabiat demikian, terbiasa menyangkal dan membangkang
kebenaran.
Disandarkannya pernyataan :
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ
وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ
kepada Allah swt, yakni
sebagai tanbih (peringatan/perhatian) atas sunnatullah dalam
perumpamaan-perumpamaan mereka, bukan Allah yang membuat mereka berada diatas
kekafiran, bukan pula Allah swt menghalang-halangi mereka dari keimanan dengan
membuat mereka demikian, melainkan itu hanyalah perumpamaan bagi sunnatullah
Ta'ala terhadap dampak dari kebiasaan mereka berada diatas kekafiran, dan
perumpamaan perbuatan Allah terhadap hati mereka. Dan perbuatan Allah yang
demikian itu adalah adil terhadap orang yang membiarkan dirinya berada dalam
kesesatan. Sebagai laknat atas mereka, sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat
:
وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ
لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ
"dan mereka berkata: "Hati Kami tertutup".
tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; Maka
sedikit sekali mereka yang beriman". (alBaqarah:88).
Kebanyakan diantara mereka itu berpaling, mereka tak mau
mendengar, sebagaimana Allah melukiskan sifat mereka :
...فَأَعْرَضَ
أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا
إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ ...
"...tetapi kebanyakan mereka
berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: "Hati Kami berada dalam
tutupan , apa yang kamu seru Kami kepadanya dan telinga Kami ada sumbatan dan
antara Kami dan kamu ada dinding..." (Fushshilat:4-5).
Maka disebabkan kesombongan dan kereas
kepalanya mereka, mereka tak akan keluar dari otoritas Allah, sesungguhnya Allah
swt Pencipta segala sesuatu termasuk petunjuk dan kesesatan, kekafiran dan
keimanan. Dan manusia adalah yang dipilih sebagai salah satu ketentuan-Nya.

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik