31.7.18

sifat orang kafir dalam albaqarah ayat 6 dan 7

Sifat-sifat Orang Kafir
AlBaqarah ayat 6-7
     Dalam artikel yang lalu telah dibahas mengenai sifat orang bertaqwa, yaitu mereka adalah orang-orang yang beriman, bagi anda yang belum membacanya silakan rujuk di alBaqarah ayat 1-5.
     Dan untuk kali ini kita lanjutkan ke ayat berikutnya tentang sifat-sifat orang kafir dalam surat alBaqarah ayat 6-7, tentu bagi mereka pun ada balasan atas kekafirannya. Kafir adalah lawan kata dari Iman, maka sifat-sifatnya pun senantiasa menyelisihi sifat orang beriman. Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang Amat berat"
     Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, Allah swt memulai surat albaqarah dengan kalam yang menggetarkan dan berita mengenai kondisi manusia terhadap ayat-ayat Allah, Dia menyebutkan bahwa manusia bermacam-macam : maka diantara mereka ada yang beriman kepada-Nya dan beramal shalih, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan diantara mereka ada yang kafir dan menyombongkan diri dari kebenaran baik dalam perkataan maupun perbuatan, mereka itulah orang yang merugi sebagai para penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.
     Allah swt menyertakan ayat tersebut diatas setelah menjelaskan keadaan orang-orang beriman untuk membuat perbandingan antara pemeluk keimanan dan pemeluk kekafiran, sebab kekafiran merupakan kebalikan dari keimanan, dan orang-orang beriman itu selamat, sedangkan orang-orang kafir itu celaka, mereka kekal di neraka jahannam.

Pendekatan Makna Kosakata  
 Alkufru (الكفر) , yaitu :
 سِترُ الشَّيءِ وَتَغطِيَتُهُ  ,Yakni selubung/penutup  sesuatu dan menutupinya.
Maka siapa yang kafir, artinya ia telah menutupi kebenaran dan menutup nikmat-nikmat Allah kepadanya dan ia telah menyangkal keimanan. [1]
Aandzartahum (أَأَنْذَرْتَهُمْ )yaitu:
الإِنذَارُ: الإِعلَامُ مَعَ التَّخوِيفِ
al-indzar: Pemberitahuan yang disertai menakut-nakuti (peringatan).
Khatamallaahu ‘alaa quluubihim (خَتَمَ اللَّهُ عَلى قُلُوبِهِمْ), yaitu :
طَبَعَ عَلَيهَا بِالخَاتِمِ
Allah menutupnya dengan suatu penutup.
Hanya saja kata penutup biasanya sering digunakan pada pintu untuk mencegah masuknya sesuatu melaluinya, adapun yang dimaksud pada ayat ini yaitu hati mereka dikunci, oleh karena itu maka keimanan tidak dapat memasukinya dan orang yang tiada masuk keimanan dalam hatinya maka ia tidak akan selamat.
Ghisyawah (غِشَاوَةٌ), alghisyawah yaitu الغِطَاءُ (penutup), dan yang dimaksud dalam ayat tersebut yaitu mereka pura-pura buta dari perhatian kepada ayat-ayat Allah. [2]

Pendekatan Balaghah
Sebagaimana yang dijelaskan Dr.Wahbah Zuhaily dalam almuniir :
ayat  سَواءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ ,yakni tiada harapan akan beriman-nya orang-orang kafir disebabkan tiadanya kecenderungan mereka terhadap keimanan.
خَتَمَ اللَّهُ عَلى قُلُوبِهِمْ , dengan meminjam kata " Khotama" yang bersifat pendeklarasian/pernyataan. Menyerupakan hati mereka (orang-orang kafir) akibat penolakannya terhadap  kebenaran, dengan satu wadah (qalbun) yang ditutupi diatasnya.
وَلَهُمْ عَذابٌ عَظِيمٌ , ungkapan adzab (عَذابٌ) diberitakan dalam bentuk isim nakirah untuk menunjukan betapa besar dan mengerikannya adzab tersebut, kemudian Allah mensifatinya dengan menyertakan lafazh 'azhim (عَظِيمٌ)menunjukan betapa luar biasanya hukuman siksaan yang dahsyat, yaitu dahsyatnya rasa sakit dan betapa lama waktunya.

Sababunnuzul ayat
Menurut riwayat yang paling shahih sebagaimana AthThabari meriwayatkannya dari Ibnu ‘Abbas dan AlKalbiy bahwa kedua ayat ini turun sehubungan dengan para pemimpin yahudi, diantaranya Huyay bin Akhthab dan Ka’ab bin alAsyraf dan teman-teman mereka berdua. [3]

Makna Ayat  AlBaqarah ayat 6-7
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menyangkal terhadap ayat-ayat Allah serta mendustakan alQuran dan Muhammad saw, ada dan tidaknya peringatan bagi mereka sama saja hati mereka tidak terpengaruh dengannya. Karena hatinya tertutup, maka cahaya Ilahi tidak sampai kepadanya , dan iman tidak dapat menyinarinya disebabkan ta’âmâ (pura-pura buta) nya mereka dari kebenaran dan ayat-ayat Allah, maka pengaruh hidayah dan nasihat tidak dapat menembusnya, dan disebabkan mereka telah mengabaikan wasilah-wasilah pengetahuan, pandangan dan pemikiran, dan mengabaikan fungsi pendengaran dan penglihatan, sebenarnya mereka dapat melihat kebenaran namun tidak dapat mengikutinya, dapat mendengarnya namun tidak dapat memahaminya. Maka balasan mereka adalah adzab yang sangat berat lagi tidak terputus, disebabkan pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala.[4]

Intisari yang dapat diterapkan dalam kehidupan
     Dua ayat tersebut merupakan penglipur lara bagi Nabi saw dari pendustaan kaumnya terhadap Beliau. Maka tiadalah penyesalan atas mereka, tiada harapan atas iman mereka dan tiada celaan atas Nabi saw bagaimanapun keadaan mereka.
     Penutup yang ada pada hati orang-orang kafir bermakna tiadanya kecenderungan mereka terhadap kebenaran. Gaya bahasa الغِشَاوَة  yang ditujukan kepada pendengaran dan penglihatan , bermakna bahwa tiada unsur yang membuat mereka faham tehadap alQuran ketika dibacakan kepada mereka, kosongnya pandangan mereka terhadap ciptaan-ciptaan Allah. Ketika mereka diseru untuk mengesakan Allah swt, mereka tak jua mau beriman, semua itu disebabkan kekafiran dan pembangkangan mereka, bukan karena sebab alQuran atau kurangnya petunjuk dari Nabi saw dan 'ulama setelah Beliau saw, mereka sendirilah yang menjadi sabab musabab semuanya itu, mereka yang berpaling dari wasilah yang dapat membantu mereka mengetahui jalan keselamatan dalam aqidah yang benar dan mengamalkannya.
     Pernyataan khotam (خَتَمَ) ditujukan kepada hati, pendengaran dan penglihatan, menunjukan bahwa kekafiran telah menguasai hati mereka, sehingga mereka sengaja mencabut atau menghilangkan sebab-sebab dan motif pendorong yang dapat membimbing mereka kepada pandangan dan pemikiran terhadap dalil-dalil keimanan dan kebaikan-kebaikan, dan jadilah mereka itu dalam tabiat demikian, terbiasa menyangkal dan membangkang kebenaran.
    Disandarkannya pernyataan :
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ
kepada Allah swt, yakni sebagai tanbih (peringatan/perhatian) atas sunnatullah dalam perumpamaan-perumpamaan mereka, bukan Allah yang membuat mereka berada diatas kekafiran, bukan pula Allah swt menghalang-halangi mereka dari keimanan dengan membuat mereka demikian, melainkan itu hanyalah perumpamaan bagi sunnatullah Ta'ala terhadap dampak dari kebiasaan mereka berada diatas kekafiran, dan perumpamaan perbuatan Allah terhadap hati mereka. Dan perbuatan Allah yang demikian itu adalah adil terhadap orang yang membiarkan dirinya berada dalam kesesatan. Sebagai laknat atas mereka, sebagaimana Allah menyebutkan dalam ayat :
وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ
"dan mereka berkata: "Hati Kami tertutup". tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; Maka sedikit sekali mereka yang beriman". (alBaqarah:88).
Kebanyakan diantara mereka itu berpaling, mereka tak mau mendengar, sebagaimana Allah melukiskan sifat mereka :
...فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ ...
"...tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: "Hati Kami berada dalam tutupan , apa yang kamu seru Kami kepadanya dan telinga Kami ada sumbatan dan antara Kami dan kamu ada dinding..." (Fushshilat:4-5).
     Maka disebabkan kesombongan dan kereas kepalanya mereka, mereka tak akan keluar dari otoritas Allah, sesungguhnya Allah swt Pencipta segala sesuatu termasuk petunjuk dan kesesatan, kekafiran dan keimanan. Dan manusia adalah yang dipilih sebagai salah satu ketentuan-Nya.
Baca juga : Ta'rif Surat alBaqarah

[1]  Lihat : ( تيسير التفسير للقطان (1/ 6
[2] Lihat : الحجازي، محمد محمود  ( التفسير الواضح (1/ 16
[3] Lihat : ( تفسير الطبري: 1/ 84، تفسير القرطبي: 1/ 184)
[4] Lihat : ( التفسير المنير للزحيلي (1/ 78

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik