Sifatnya Orang-orang Munafik
AlBaqarah ayat 8-10
Suka berpura-puranya orang munafik dan kegemarannya berdusta, mencela bahkan menghina orang-orang beriman, sesungguhnya mereka sedang menjatuhkan diri mereka sendiri kedalam kebinasaan didunia dan akhirat.
AlQuran telah menjelaskan diantaranya bagaimana karakter orang munafik yang berikrar kepada Allah, bahwa jika mereka diberikan sebagian karunia Allah maka mereka akan bersedekah dan beramal shalih, tapi pada kenyataannya setelah Allah memberikannya, mereka menjadi kikir dan berpaling dari kebenaran. Maka hati mereka senantiasa berada dalam kemunafikan hingga hari kiamat. Maka Allah Ta’ala akan menimpakan kepada mereka adzab yang pedih, sebagaimana diterangkan alQuran surat atTaubah ayat 79 yang merupakan munasabah dari surat alBaqarah ayat 8-10, Allah Ta’ala berfirman :
سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih".
Dan didalam surat alBaqarah ayat 8 hingga 10, berkaitan dengan orang-orang munafik yang mengatakan dengan lisannya bahwa mereka adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal jauh dalam lubuk hatinya mereka mendustakan dan sama sekali tiada beriman. Allah Ta’ala berfirman :
Dan didalam surat alBaqarah ayat 8 hingga 10, berkaitan dengan orang-orang munafik yang mengatakan dengan lisannya bahwa mereka adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal jauh dalam lubuk hatinya mereka mendustakan dan sama sekali tiada beriman. Allah Ta’ala berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
"dan di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar, dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta".(Q.S. AlBaqarah 8-10)
Ibnul Jauzy dalam Zaadul Masiir menjelaskan, ayat diatas turun berkaitan dengan orang-orang munafik, termasuk munafik dikalangan ahli kitab. Ia mengatakan keimanan dengan lisannya dan hatinya mengingkari, membenarkan dengan lisannya namun perbuatannya menyalahi ucapannya, diwaktu pagi ia begini, di sore hari sudah berbeda lagi, terombang-ambing ibaratnya perahu, kemana angin bertiup maka ia ikut bergerak bersama angin tersebut. Turun juga berkaitan dengan pemimpin munafik yaitu Abdullah bin Ubay dan Mu’attib bin Qusyair juga AlJiddu bin Qais, ketika mereka bertemu dengan orang-orang beriman, mereka berkata : “Kami beriman, dan Kami bersaksi bahwa sahabat kalian (Nabi saw) itu orang yang benar”. Namun ketika mereka telah berpisah dengan para sahabat, mereka kembali mengingkari, lalu turunlah ayat 9 diatas.
Pendekatan Makna Kosakata
Alyaumul Akhir/ الْيَوْمُ الْآخِرُ , yaitu :
مِن وَقتِ الحَشرِ إِلَى مَا لَا يَتَنَاهَى، أَو إِلَى أَن يَدخُلَ أَهلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ، وَأَهلُ النَّارِ النَّارَ
Dari waktu pengumpulan(pengelompokan) manusia sampai tiada batas akhir, atau sampai ahli surga masuk ke surga dan ahli neraka masuk ke neraka.[1]
Yukhaadi’uunallah / يُخادِعُونَ اللَّهَ
الخِدَاعُ , yaitu:
صَرفُ الغَيرِ عَمَّا يَقصِدُهُ بِحِيلَةٍ
Mengalihkan yang lain terhadap apa yang ia tuju dengan cara hilah (tipudaya), dan yang dimaksud pada ayat diatas yaitu :
إِظهَارُ الإِسلَامِ وَ إِضمَارُ الكُفرِ
Memperlihatkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran.[2]
AlMaradh / الْمَرَضُ yaitu: العِلَّةُ (penyakit), dan yang dimaksud yaitu:
شَكٌّ وَنِفَاقٌ وَتَكذِيبٌ وَجُحُودٌ
keraguan, kemunafikan, pendustaan, dan penolakan
فَزادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
Pendekatan Balaghah
وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ , ini adalah inisiator dari ungkapan : وَمَا آمَنُوا , untuk menyesuaikan dengan Firman-Nya : مَنْ يَقُولُ آمَنَّا namun berubah dari fi’il (kata kerja) kepada Isim (kata benda), untuk mengeluarkan mereka (orang-orang munafik) dari penyebutan orang-orang beriman. Dan ditegaskan dengan huruf “ ب ” pada lafazh : بِمُؤْمِنِينَ , sebagai mubalaghah atas pendustaan mereka.
يُخادِعُونَ اللَّهَ (mereka hendak menipu Allah), ini adalah gaya bahasa metafora yang bersifat tamtsil (perumpamaan), menyerupakan kondisi mereka dengan Rabbnya , dalam hal menampakan keimanan dan menyembunyikan kekafiran diserupakan dengan kasus rakyat yang menipu pemimpin/penguasa nya.
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ , ini merupakan kinayah. Di kinayahkan sifat nifaq dengan penyakit didalam hati. Karena penyakit itu merusak jasad, dan kemunafikan itu merusak hati.[4]
Makna Ayat :
Ibnu katsir menjelaskan :
النِّفَاقُ: هُوَ إِظْهَارُ الْخَيْرِ وَإِسْرَارُ الشَّرِّ، وَهُوَ أَنْوَاعٌ: اعْتِقَادِيٌّ، وَهُوَ الَّذِي يَخْلُدُ صَاحِبُهُ فِي النَّارِ، وَعَمَلِيٌّ وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الذُّنُوبِ.
وَهَذَا كَمَا قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: الْمُنَافِقُ يُخَالِفُ قَوْلُه فِعْلَهُ، وسِرُّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَدْخَلُهُ مَخْرَجَهُ، وَمَشْهَدُهُ مَغِيبَهُ.
Nifaq yaitu : Menampakan kebaikan dan menyembunyikan keburukan, dan terdapat beberapa macam, yaitu : ada nifaq i’tiqadi(keyakinan) yakni yang pelakunya kekal di neraka, dan ada nifaq ‘amali (perbuatan) yaitu yang termasuk kepada dosa besar.
Dan ini sebagaimana yang Ibnu Juraij katakan : Munafik itu perkataannya menyelisihi perbuatannya, yang tersembunyi berbeda dengan yang nampak, tempat masuknya berbeda dengan tempat keluarnya, dan apa yang terlihat berbeda dengan apa yang tersembunyi.
Demikian itu orang munafiq, dan ketika mereka mengungkapkan kalimat iman dan menyembunyikan kekafirannya, maka Allah swt menafikan keimanan mereka itu dengan berfirman : وما هم بمؤمنين , maka ini menunjukan bahwa hakikat iman itu tidak hanya di ikrarkan saja.
Dr. Wahbah alZuhaily menjelaskan:
Orang-orang munafik, mereka adalah kategori yang ketiga diantara manusia. Yakni Allah swt telah menyifati keadaan orang-orang kafir dalam dua ayat, dan keadaan orang-orang munafik dalam tiga belas ayat. Didalamnya Allah swt terang-terangan mencela mereka, membalas kebusukan dan kelicikan mereka, membongkar kejelekan mereka, mengejek dan memperlihatkan kesalahannya, membalas cemoohan mereka dan memperolok perbuatan mereka, melaknat mereka tuli, bisu dan buta, dan membuat bagi mereka perumpamaan-perumpamaan.
Maka mereka orang-orang munafik itu sesungguhgnya lebih membahayakan Islam daripada orang-orang kafir yang terang-terangan. Dan kemunafikan tidak dibatasi semasa Nabi saw saja, akan tetapi akan selalu ada di setiap zaman manakala didapati sifat-sifat mereka.
Dan sifat yang pertama adalah mereka mengucapkan iman dengan lisannya, tetapi hatinya dipenuhi kekafiran dan kesesatan. Dan sebagaimana ‘Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai pemimpin orang-orang munafik di masa Rasulullah saw dan yang paling banyak pengikutnya dari orang yahudi, mereka mengaku diri beriman, maka Allah menolak pengakuan mereka, dan sesungguhnya mereka pada hakikatnya bukanlah orang-orang yang beriman sekalipun mereka menampakannya. Dan tidak ada keraguan bahwa sesungguhnya mereka dengan ini digambarkan sebagai orang-orang yang menipu Allah, dan Allah Maha Mengetahui terhadap hal itu, mereka lebih merusak daripada orang kafir, dan bagi mereka di akhirat ada adzab yang amat menyakitkan disebabkan kedustaan mereka dalam pengakuannya beriman kepada Allah dan hari akhir.
Sebagai indikasi atas kekurangan akal mereka, digambarkan bahwa mereka hendak menipu Allah Ta’ala, dan tentu saja Allah jauh dari hal tersebut karena sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun. Dan ini merupakan penjelasan bahwa sesungguhnya mereka tiada menyadarinya, dan kalaupun mereka menyadarinya, mereka tau bahwa sesungguhnya Allah tidak dapat ditipu, dan tidaklah penipuan mereka itu kecuali Allah pasti akan membalasnya, dan Allah Maha Kuasa untuk menyingkapkan perkara mereka kepada kaum muslimin. Bahkan Allah swt memerintahkan untuk melakukan langkah-langkah hukum Islam atas mereka, seakan-akan Allah menipu mereka dengan cara yang sama, meniru dan menyerupai perbuatan mereka, dan seolah-olah kaum muslimin ketika mereka menta’ati perintah Allah, mereka didalamnya melakukan tipuan kepada orang-orang munafik.
Didalam bab tasybih (penyerupaan) dan tamtsil (perumpamaan) tersebut, ini menjadi isyarat bahwa sesungguhnya orang-orang munafik, mereka itu hakikatnya adalah penipu yang tertipu.
Dan terdapat penjelasan yang shahih sebagaimana Ibnu al’Arabi berkata: Bahwa Nabi saw tidak memerangi mereka, dan tidak menghindari mereka, karena demi terjaganya kemaslahatan hati, karena khawatir akan buruknya perkataan-perkataan yang cenderung akan menyebabkan perpecahan, yakni supaya qalbu-qalbu tidak berselisih. Dan sesungguhnya Nabi saw telah memberi isyarat akan makna ini, Beliau saw bersabda :
أَخَافُ أَن يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا صلّى الله عليه وسلّم يَقتُلُ أَصحَابَهُ
" Aku khawatir orang-orang mengatakan bahwa Muhammad saw telah membunuh sahabatnya".
Dan mengenai hal ini terdapat juga bagaimana sikap Beliau saw yang memberi shadaqah kepada orang yang sedang dijinakkan hatinya (muallaf) meskipun Beliau saw mengetahui buruknya aqidah mereka, ini adalah cara untuk melunakkan mereka.
Intisari yang dapat diterapkan dalam kehidupan
Dr. Wahbah Zuhaily juga menjelaskan, bahwa sesungguhnya kemunafikan itu adalah penyakit kronis, dan sungguh orang-orang munafik itu adalah duri yang membahayakan, satu kelompok yang akan menikam dari dalam. Dengan sekuat tenaga kita harus segera mengambil tindakan yang cerdik supaya dapat mencabut sifat munafik dan orang-orang munafik sampai akarnya hingga kedaulatan ini tenang dari mereka. Demikian juga pemerintah harus segera bertindak sekarang juga. Sekalipun begitu, wahyu Ilahi dan Syari’at samawi mempunyai hikmah yang amat besar, menjangkau jauh ke masa depan, memberikan gambaran kejadian-kejadian yang akan datang untuk menampakkan kepada manusia akan terbatasnya pengetahuan mereka dihadapan luasnya pengetahuan Ilahi, memang sangat banyak kerusakan yang Nabi saw temui dari orang-orang munafik, namun Beliau saw pada akhirnya memperoleh kemenangan atas mereka, dan itu merupakan sebenar-benarnya fakta sejarah yang menunjukkan bahwa orang munafik dan yahudi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan: Karena hal itu timbul dari jiwa kepengecutan yang hakiki dan piciknya tabiat. Dan orang munafik itu berbelit-belit ditengah manusia dalam perkataan dan perbuatannya, dia menampakan kelezatan padahal itu seolah-olah seperti racun yang membunuh dalam lemak.
Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa berdusta adalah tandanya orang-orang munafik, oleh sebab itulah Allah swt memperingatkan orang-orang beriman darinya dengan peringatan yang sangat keras.
Maka tidaklah dusta merajalela ditengah-tengah masyarakat kecuali pasti didalamnya akan banyak kejahatan. Nabi saw bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ مُجَانِبٌ لِلْإِيمَانِ
"Jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menjauhkan kalian dari iman"
Dan jika dusta itu sebagai tanda orang munafik, maka kejujuran dalam perkataan, ketekunan dalam amal yang sesuai dengan aqidah merupakan tanda-tandanya orang beriman yang shadiq (benar) yaitu orang-orang yang berhak mendapatkan setiap kemulyaan.
Maka adanya peringatan tersebut, dengan mengemukakan sifat-sifat orang munafik, menjadi atsar yang sangat kuat, lagi memperkuat perkara bagi orang-orang beriman atas diri mereka sendiri ketika mereka dibedakan atas keteguhannya berada diatas kebenaran. Dan orang-orang munafik senantiasa terus-menerus dalam kemunafikan mereka, semakin tidak bisa lepas dari apa yang mereka pijak, mereka menolak keimanan, berpaling dari alQuran, lalu bertambahlah penyakit hati mereka, serta terbakarlah jiwa mereka setelah datang kepada mereka pembawa berita gembira yang memberi peringatan lagi tinggi kemuliaannya serta banyak pengikutnya, terbakar jiwa karena kepemimpinan yang telah sirna dari mereka, lalu bertambahlah kedengkian mereka kepada Nabiyullah saw dan sahabatnya.
Demikian sifat orang-orang munafik, sebagaimana AlMaraghi menjelaskan bahwa mereka hanya mengaku beriman di bibir saja, tidak didalam hatinya, mereka itulah seburuk-buruknya kekafiran, karena mereka berkumpul dalam kekafiran sebagai jalan untuk memperolok-olok dan melakukan tipudaya, menyamarkan dan mengelabui Allah dan orang-orang beriman. Maka pantas saja Allah Ta’ala mengancam mereka, Firman-Nya Ta’ala:
إِنَّ الْمُنافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ
“ Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka...”(Q.S. AnNisaa:145).
Wallaahu A’lam, semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat kemunafikan dan semoga kita dimasukan kedalam golongan orang-orang yang beriman. Wa Allaahulmusta’aan.
Maraji':
زاد المسير في علم التفسير_ جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن علي بن
محمد الجوزي (المتوفى: 597هـ)
تفسير القرآن العظيم _أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي البصري ثم
الدمشقي (المتوفى: 774هـ)
تفسير المراغي _ أحمد بن مصطفى المراغي (المتوفى: 1371هـ)
التفسير الواضح _ الحجازي، محمد محمود
التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج _ د وهبة بن مصطفى الزحيلي(المتوفى: 1436هــ)

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik