6.11.17

gbr.perjuangan dakwah
Perjuangan Dakwah Tak Kenal Lelah
(Belajar dari Nuh bag-4 tamat)
Oleh: Den Herians
Strategi dakwah terang-terangan dan diam-diam
Demi tugas menyelamatkan umat dari kesesatan dan adzab, secara terang-terangan dan diam-diam Nuh a.s tetap mengajak kaumnya kepada iman yang benar meskipun hasilnya tetap saja kebanyakan kaumnya fasik, ingkar dan menyombongkan diri dari kebenaran. 
ثُمَّ   إِنِّي أَعْلَنْتُ  لَهُمْ  وَأَسْرَرْتُ   لَهُمْ   إِسْرَارًا
"kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam". (Q.S. Nuh:9).
Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk memaksimalkan perjuangan dakwah fii sabiilillaah, yang disisi Allah lah balasannya yang sempurna kelak. Sebab keberhasilan dakwah bukanlah diukur pada banyaknya pengikut, namun sejauh manakah seorang hamba mampu berdakwah dengan seluruh kemampuannya sesuai dengan perintah Allah, maka ketika ia berhasil menjalankannya sesuai dengan petunjuk-Nya, sabar dan istiqamah sehingga pesan-pesan risalah Allah sampai kepada umat, adapun diterima atau tidak, banyak pengikut atau pun sedikit, maka semuanya  kembali bahwa petunjuk Allah itu hanya bagi orang-orang yang menginginkannya, sebab telah jelas bahwa :
مَن يَهدِهِ  اللهُ   فَلَا مُضِلَّ لَهُ،  وَمَن يُضلِل فَلَا هَادِيَ لَهُ
"Siapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk".
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
"Alif Laam Miim. Alkitab (Al Qur'anini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa".
Maka petunjuk itu akan bermanfaat bagi orang yang menginginkannya, adapun orang-orang yang bertakwa mereka itu menginginkannya dan mengambilnya.
Dan Hidayah itu ada dua macam : Hidayatulbayan dan Hidayatuttaufiq[1]. Adapun orang-orang yang bertakwa, mereka mengambil dan mengamalkan dua hidayah ini.
Sedangkan orang-orang kafir, mereka sama sekali tidak mau mengambilnya, sebagaimana kaum Nuh a.s yang tidak mau mengambil petunjuk yang diturunkan Allah kepadanya. Dan terbukti pada sebagian kecil kaum Nuh yang menginginkan keselamatan, maka mereka mengambil dan mengikuti petunjuk Nuh, maka Allah pun menyelamatkan mereka bersama-sama Nuh a.s. Sedangkan yang tidak mau mengambilnya maka mereka tetap didalam kesesatan dan berakhir dengan adzab Allah ‘Azza wa jalla.
Siang dan malam, diam-diam dan terang-terangan Nuh a.s berdakwah dengan hasil hanya sedikit pengikutnya, memberi gambaran betapa kerja kerasnya Nuh yang tidak mengenal lelah, kesungguhan menjalankan perintah Rabbnya dengan penuh ketawakkalan, namun Allah maha mengetahui setiap isi hati manusia, maka kesuksesan dakwah Nuh a.s bukan dilihat dari banyaknya pengikut, akan tetapi dilihat dari berhasilnya menyampaikan risalah Rabbnya sesuai yang diperintahkan Allah, Firman-Nya Ta’ala :
أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
 "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih".
Maka Nuh pun dengan istiqamah, telah menyampaikan risalah Rabbnya tersebut hingga batas waktu yang Allah tetapkan. Maka inipun menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa banyak atau sedikitnya pengikut bukan merupakan ukuran suksesnya dakwah dalam Islam, tetapi sukses itu bila berhasil menyampaikan Ajaran Islam dengan baik dan benar yaitu mengajak ke jalan Allah dengan hikmah, pelajaran yang baik, dialog yang santun dengan akhlak yang mulia, karena setelah ini dilakukan dengan penuh kesabaran, maka hasilnya Allah lah yang maha mengetahui siapa yang mendapat petunjuk dan tidak.
Ajakan Nuh kepada kaumnya secara diam-diam dan terang-terangan supaya kaumnya itu mau beribadah kepada Allah Ta’ala, disetiap waktu menyiapkan diri baik siang ataupun malam, beliau tidak bermalas-malasan mengajak kaumnya disetiap waktu dengan harapan kaumnya memenuhi seruannya. Ketika kaumnya menjauh dari Nuh, dan mereka sedang banyak berkumpul, maka Nuh menyeru mereka secara Jihaaran (terang-terangan) supaya dakwahnya tersebar merata. Dan menyeru mereka secara diam-diam ketika  kaumnya mendekat  dan ketika memasukan jari ke telinganya.[2]
Niyat yang lurus karena Allah dalam berdakwah
Para rasul Allah, mereka tidak pernah mengharapkan imbalan dan kemewahan dunia. Inilah tauladan dari keikhlasan para kekasih Allah. Demikian pula Nuh a.s, perjalanan panjangnya dalam berdakwah hanya demi mengharap Rahmat-Nya, FirmanNya Ta’ala :
وَيَا قَوْمِ  لَا أَسْأَلُكُمْ  عَلَيْهِ مَالًا   إِنْ أَجْرِيَ  إِلَّا عَلَى اللَّهِ  وَمَا أَنَا  بِطَارِدِ  الَّذِينَ  آمَنُوا   إِنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ   وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ  قَوْمًا  تَجْهَلُونَ 
"Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".(Q.S. Hud:29).
Nuh menjawab pernyataan syubhat para pemuka dan orang-orang terpandang dari kaumnya yang menghina dan merendahkan Nuh a.s beserta pengikutnya yang dipandang hina dan miskin, sehingga mereka menganggap Nuh mencari kekayaan dunia.  Maka Nuh menjawab bahwa ia tidak menuntut harta atas penyampaian dakwah risalah Rabbnya, hingga keadaan berubah disebabkan adanya orang-orang yang memenuhi seruannya itu faqir atau pun kaya, tapi Nuh menjalankan keta’atan yang begitu melelahkan tersebut hanyalah untuk menta’ati Rabbal’aalamiin. Dan jika urusan tersebut terjadi demikian, maka sama saja keadaannya itu faqir ataupun kaya, keadaan itu tidak akan berubah. Mereka manakala melihat secara zhahir atas perkara itu dan mendapati Nuh dalam keadaan faqir, mereka menyangka Nuh berbuat itu hanya mencari kesibukan sebagai jalan untuk mendapatkan harta mereka.
Maka ayat diatas menjelaskan bahwa Nuh a.s sebagai pengemban risalah Rabbnya menjawab :
وَهَذَا الظَّنُّ مِنكُم خَطَأٌ  فَإِنِّي لَا أَسئَلُكُم عَلَى تَبْلِيغِ الرِّسَالَةِ   أَجْرًا   إِنْ أَجْرِيَ   إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ  فَلَا تُحَرِّمُوا  أَنْفُسَكُمْ  مِنْ سَعَادَةِ الدِّينِ بِسَبَبِ  هَذَا الظَّنِّ الْفَاسِدِ.[3]
Dan  persangkaan kalian ini adalah salah, sesungguhnya aku tidak meminta upah kepada kalian atas penyampaian risalah ini, melainkan upahku itu hanya dari Rabb semesta alam, maka janganlah kalian mencegah diri kalian sendiri dari kebahagiaan Diinul Islam disebabkan prasangka yang rusak ini.
          Agama tauhid tidak diperuntukan untuk orang-orang kaya saja, melainkan untuk semua manusia. Oleh karena itulah Nuh a.s menolak untuk mengusir orang-orang yang beriman dari majelisnya apapun keadaannya, baik dia faqir sekalipun, karena mereka lebih baik dan lebih terhormat di Sisi Allah dari pada orang-orang kaya yang sombong lagi membanggakan diri dan tamak kepada kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.
          Ayat diatas memberikan ketauladanan seorang rasul yang berdakwah penuh keikhlashan karena Allah swt, sebagai tuntunan bagi para da’i supaya meluruskan niyat dan tidak menjadikan dakwah untuk mencari kehidupan dunia.
Adapun materi yang didapatkan dari hasil dakwah ataupun mengajar agama bukan karena semata-mata mengharap upah dunia, Rasulullah saw pernah bersabda :
إِنَّ  أَحَقَّ  مَا أَخَذْتُمْ  عَلَيْهِ  أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ
"Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) kitabullah." [4]
Hendaklah berilmu, dan jangan meminta sesuatu yang tidak ada pengetahuan terhadapnya.
          Memberi petunjuk dan menetapkannya dalam hati setiap orang, bukan wewenang juru dakwah, melainkan Allah Yang Maha Mengetahui yang menetapkan siapa yang dapat petunjuk dan yang tidak. Meskipun yang kita inginkan kebaikan dan keshalihannya itu adalah kerabat atau keluarga. Sebagaimana Nuh a.s dengan salah satu anaknya yang ternyata tidak mau mengikuti petunjuknya, dan Nuh tidak berdaya untuk memberikan keselamatan padanya. Allah Ta’ala berfirman :
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
"Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (Q.S. Hud:42).
قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
"Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari adzab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan".(Q.S. Hud:43).
Maka Nuh a.s berdoa kepada Rabbnya, sebagaimana Firman-Nya Ta’a :
وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ
"Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." (Q.S. Hud:45).
Namun Allah swt menolak permohonan Nuh terhadap keselamatan anaknya : 
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nyaSesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (Q.S. Hud:46).
Senantiasa berlindung dan memohon ampun kepada Allah swt
Firman-Nya Ta’ala :
قَالَ  رَبِّ   إِنِّي أَعُوذُ بِكَ  أَنْ أَسْأَلَكَ  مَا لَيْسَ لِي بِهِ  عِلْمٌ   وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي  وَتَرْحَمْنِي  أَكُنْ  مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi". (Q.S. Hud: 47).
Setiap perjuangan yang dijalankan dan setiap hasil yang diperoleh serta kemenangan yang diraih adalah semata-mata karena pertolongan dan ampunan Allah swt. Nuh a.s menyelesaikan tugas dari Rabbnya untuk memberi petunjuk dan peringatan. Nuh a.s dan para pengikutnya menyaksikan bagaimana ke Maha Besaran Allah swt dan kebenaran janji-janji Nya.
قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." (Q.S. Hud: 48).

Khatimah
Demikianlah secara ringkas point-point dakwah Nuh a.s yang mudah-mudahan dapat menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua didalam menerapkan unsur-unsur dakwah dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi penambah semangat untuk terus melanjutkan risalah dakwah fisabilillaah. Cukup Allah lah sebagai penolong.
 Maraji’ :
I.            AlQuranulkarim
II.            AlMaktabah AsySyamilah :
1)      قصص الأنبياء - مصدر الكتاب : موقع يعسوب
2)      الجامع لأحكام القرآن - تفسير القرطبي- المؤلف: أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى: 671هـ)  تحقيق: أحمد البردوني وإبراهيم أطفيش, الناشر: دار الكتب المصرية – القاهرةالطبعة: الثانية، 1384هـ - 1964 م
3)      تفسير القرآن العظيم - المؤلف : أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي الدمشقي [ 700 -774 هـ ] -  المحقق :  سامي بن محمد سلامة
4)      تفسير المراغي- المؤلف: أحمد بن مصطفى المراغي (المتوفى: 1371هـ)
5)      التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج - المؤلف : د وهبة بن مصطفى الزحيلي
6)      تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان - المؤلف : عبد الرحمن بن ناصر بن السعدي - المحقق : عبد الرحمن بن معلا اللويحق
7)      تفسير الماتريدي (تأويلات أهل السنة)- المؤلف: محمد بن محمد بن محمود، أبو منصور الماتريدي (المتوفى: 333هـ) - المحقق: د. مجدي باسلوم
8)      مفاتيح الغيب = التفسير الكبير - المؤلف: أبو عبد الله محمد بن عمر بن الحسن بن الحسين التيمي الرازي الملقب بفخر الدين الرازي خطيب الري (المتوفى: 606هـ)
9)      الجامع الصحيح المختصر - المؤلف : محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي- تحقيق : د. مصطفى ديب البغا أستاذ الحديث وعلومه في كلية الشريعة - جامعة دمشق


[1]  . Lihat :  المكتبة الشاملة  ( تفسير السعدي (ص: 40
[2]  Lihat : المكتبة الشاملة تفسير الماتريدي = تأويلات أهل السنة (10/ 225
[3]  .Lihat :  المكتبة الشامل  تفسير الرازي = مفاتيح الغيب أو التفسير الكبير (17/ 339
[4] Lihat Shahih Bukhari, bab syarat meruqyah dengan meminta kambing.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik