Oleh : Den Herians
Perlu kita ketahui bahwa awamil i’rab itu terbagi 2 macam, yaitu : لفظية (lafzhiyah) dan معنوية (maknawiyah). Adapun awamil lafzhiyah dibagi 3 macam, yaitu : الحُرُوفُ(huruf-huruf), الأَفعَالُ (fi’il-fi’il), الأَسمَاءُ (isim-isim). Dan fasal-fasalnya terbagi 3 bab, in syaa Allah Ta’la.
Fasal pertama mengenai penjelasan huruf-huruf yang beramal pada isim, dan terbagi kepada 5 macam, yaitu :
1. الحُرُوفُ الجَارَّةُ (huruf-huruf jar).
yaitu berjumlah 17 huruf , yakni :
اَلْبَاء (ب) ، مِنْ ، إِلَى، حَتَّى، فِيْ، اللَّام (ل)، رُبَّ ، واو القسم (و)، تاء القسم (ت) ، عَن ، عَلَى، الْكَاف للتشبيه (ك) ، مُذْ [1] ، مُنْذُ، حَاشَا، خَلَا، عَدَا [2].
Dan terdapat 3 lagi sebagai tambahan : كَيْ، لَعَلَّ، مَتَى (dalam makna lughah). Semua huruf-huruf tersebut menjarkan isim. Misalnya :
اَلْمَالُ لِزَيْدٍ
2. الحُرُوفُ الْمُشَبَّهَةُ بِالفِعلِ
(huruf-huruf yang menyerupai fi’il).
Yaitu :
إِنَّ ، أَنَّ ، كَأَنَّ ، لَكِنَّ ، لَيْتَ ، لَعَلَّ
Dan huruf-huruf ini harus menashabkan isim dan merafa'kan khobar.
Misalnya : إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ
Maka i’rabnya :
زَيْدًا اِسمُ إِنَّ و قَائِمٌ خَبَرُهَا
(Zaid isimnya inna dan qaaimun khabarnya).
Lafazh إِنَّ dan أَنَّ bermakna لِلتَّحقِيقِ (memastikan), dan lafazh كَأَنَّ bermakna لِلتَّشبِيهِ (menyerupakan), dan lafazh لَكِنَّ bermakna لِلِاستِدرَاكِ (mengoreksi), kemudian lafazh لَيْتَbermakna لِتَمَنِّي (angan-angan) dan lafazh لَعَلَّ bermakna لِلتّرجِّي (harapan).
3. مَا dan لَا [إِنْ dan لَات ] yang menyerupai لَيْسَ [3].
Kedua-duanya beramal seperti amalnya لَيْسَ .
Misalnya : مَا زَيْدٌ قَائِمًا
Maka i’rabnya :
زَيْدٌ: اسم مَا، و قَائِما خبرها
(Zaid isimnya ma dan qaaiman khabarnya).
Contoh إِنْ :
وإِن أَحَدٌ خيرًا مِن أَحَدٍ
4. لَا الَّتِي لِنَفيِ الجِنسِ (La nafiyah liljinsi).
Biasanya menjadikan isimnya mansub dan menjadi mudhaf, dan khobarnya marfu’.
Misalnya :
لَا غُلَامَ رَجُلٍ ظَرِيْفٌ فِي الدَّارِ
Namun jika isim setelahnya berbentuk nakirah mufrodah, keadaannya mabni atas fathah.
Misalnya : لَا رَجُلَ فِي الدَّارِ
Dan jika isim setelahnya ma’rifat wajib mengulangnya bersama isim ma’rifat yang lainnya, dan tidak berlaku kaidah لَا tersebut, maka di rofa’kan isim ma’rifat tersebut sebagai mubtada'.
Misalnya : لَا زَيْدٌ عِنْدِيْ، وَلَا عَمْرٌو
Dan jika isim setelahnya berbentuk nakirah mufrodah dan juga di ulang dengan yang lainnya, maka boleh padanya dalam 5 bentuk, yaitu:
a. Difathah kedua-duanya.
Misalnya : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
b. Dirofa’kan kedua-duanya.
Misalnya : لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةٌ إِلَّا بِاللهِ
c. Difathah yang awal dan di rofa’kan yang keduanya.
Misalnya : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةٌ إِلَّا بِاللهِ
d. Dibalik, misalnya : لَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
e. Difathah yang awal dan di nashabkan yang keduanya.
Misalnya : لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاللهِ
5. حُرُوفُ النِّدَاءِ (huruf-huruf nida'/seruan).
Yaitu ada 5 macam :
يَا، إِيَّا، هَيَا، أَيْ dan الهمزة المفتوحة [4]
Huruf-huruf nida ini menashabkan munada mudhaf.
Misalnya : يَا عَبْدَ اللهِ
dan syibhun bilmudhaf (menyerupai mudhaf), misalnya: يَا طَالِعًا جَبَلًا
Dan nakirah ghair mu’ayyanah, seperti contoh perkataan orang buta: يَا رَجُلًا خُذْ بِيَدِيْ
Dan jika munada nya mufrad ma’rifat, maka mabni atas tanda rofa’.
Misalnya :
يَا زَيْدُ, يَا زَيْدَانِ, يَا مُسْلِمُوْنَ,يَا مُوْسَى, يَا قَاضِيْ
Perlu diketahui bahwa أَيْ dan الهمزة menunjukkan seruan untuk yang dekat, adapun أَيَا dan هَيَا seruan untuk yang jauh, dan يَا ini umum bagi yang dekat ataupun yang jauh.
Selanjutnya fasal ke dua.
Mengenai Penjelasan Huruf-huruf yang Beramal pada Fi’il Mudhari’. Fasal ini terbagi 2 macam :
1. الحُرُوفُ الَّتِي تَنصِبُ الفِعلَ الْمُضَارِعَ
Huruf-huruf yang menashabkan fi’il mudhari’, yaitu ada 4 macam :
a. أَنْ , misalnya : « أُرِيْدُ أَنْ تَقُوْمَ »
Maka fi’il yang disertai أَنْ bermakna mashdar, maka maknanya yaitu: أُرِيْدُ قِيَامَكَ oleh karena itu dinamakanlah أَنْ mashdariyah.
b. لَنْ , misalnya: « لَنْ يَخْرُجَ زَيْدٌ »
yaitu لِتَأكِيدِالنَّفِي
(sebagai penegas nafi [ pengingkaran/negasi ] ).
c. كَيْ , misalnya : أَسْلَمْتُ كَيْ أَدْخُلَ الْجَنَّةَ
d. إِذَنْ , misalnya : إِذَنْ أُكْرِمَكَ
Yakni sebagai jawab bagi orang yang berkata:
أَنَا آتِيْكَ غَدًا
Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa lafazh أَنْ itu menashabkan fi’il mudhari’ dalam keadaan muqaddarah (diperkirakan) setelah 6 huruf, yaitu :
1. حَتَّى , misalnya : مَرَرْتُ حَتَّى أَدْخُلَ الْبَلَدَ
2. لَامُ الجَحدِ (menyangkal)
Misalnya : مَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ [5]
3. أَوْ yang bermakna إِلَى أَنْ atau إِلَّا أَنْ
Misalnya : لَأَلْزِمَنَّكَ أَوْ تُعْطِيَنِيْ حَقِّيْ
4. وَاوُ الصَّرفِ (Wawu Sharaf) [6].
5. لَامُ كَيْ (Lam kay [agar/supaya]).
6. الفاء (ف) yang terletak pada jawab yang 6 yakni :
أَمرٌ ، نَهيٌ ، نَفيٌ ، اِستِفهَامٌ ، تَمَنِّ ، عَرضٌ
dan semisalnya yang telah masyhur. [7]
2. الحُرُوفُ الجَازِمَةُ لِلفِعلِ الْمُضَارِعِ
(Huruf-huruf yang menjazmkan fi’il mudhari’) , yaitu ada 5 macam:
لَمْ ، لَمَّا ، لَامُ الْأَمْرِ ، لَا النهي ، إن الشرطية
misalnya :
لَمْ يَنْصُرْ لَمَّا يَنْصُرْ لِيَنْصُرْ لَا تَنْصُرْ إِنْ تَنْصُرْ أَنْصُرْ
Perlu diketahui bahwa lafazh إنْ masuk pada dua jumlah, misalnya : إِنْ تَضْرِبْ أَضْرِبْ
jumlah yang pertama adalah syarat dan yang keduanya adalah balasannya yaitu lil istiqbal (sebagai jawabnya). Dan إنْ juga masuk pada fi’il madhi.
Contoh: إِنْ ضَرَبْتَ ضَرَبْتُ
dan i’rabnya adalah jazm secara taqdir karena fi’il madhi itu tidak mu’rab.
Dan perlu diketahui apabila jawab syaratnya berupa jumlah ismiyah atau أمرًا (perintah), atau نهيًا (larangan) atau دعاءً (do'a) [ atau: نفيًا بـ مَا ولَنْ (negasi dengan ma dan lan) atau: مبدوئًا بجامد (didahului dengan jamid) atau: قَدْ, atau: سين و سَوْفَ ] maka wajib ف itu sebagai jawabnya, sebagaimana dalam contoh-contoh berikut ini :
إِنْ تَأْتِنِيْ فَأَنْتَ مُكْرَمٌ , إِنْ رَأَيْتَ زَيْدًا فَأَكْرِمْهُ , إِنْ أَتَاكَ عَمْرٌو فَلَا تُهِنْهُ, إِنْ أَكْرَمْتَنِيْ فَجَزاكَ اللهُ خَيْرًا ,[ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ,[8] وَمَا يَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوْهُ [9], إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ ... ، فَعَسَى رَبِّيْ أَنْ يُّؤْتِيَنِ[10] , إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ,[11] وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللهُ [12] [
[1] Datangnya مُذْ dan مُنْذُ yang
berkaitan dengan jar, maka ketika keduanya mengikuti jumlah fi’liyah
atau ismiyah maka keduanya adalah zharaf, dan jika keduanya mengikuti
isim mufrad adakalanya menjadi huruf biasa dan adakalanya zharaf.
[2] عَدَا ,خَلَا ,حَاشَا , muncul pada 2 bentuk : 1. Didahului dengan ما mashdariyah, contoh: مَا عَدَا، مَا خَلَا، مَا حَاشَا maka semuanya adalah fi’il. 2. Jika tidak didahului ما mashdariyah , maka dapat menjadi fi’il atau huruf jar.
[3] . لات termasuk kepada yang menyerupai ليس. Sebagaimana disebutkan dalam AlQuran, FirmanNya Ta’ala : «وَلَاتَ حِيْنَ مَنَاصٍ» [القرآن الكريم, سورة ص (38): 3] , demikian pula لا , misalnya : «تَعَزَّ فَلاَ شَيْءٌ عَلَى الأَرْضِ بَاقِيَا ... وَلاَ وَزَرٌ مِمَّا قَضَى اللهُ واقِيَا».
[4] . yaitu : آ, آي untuk seruan yang jauh, وا (mengaduh). Contoh: «آمُحَمَّدٌ»، «آيْ مُحَمَّدٌ»، «وَا رَأْسِيْ».
[5]. القرآن الكريم، سورة الأنفال (8): 33
[6]. yaitu datangnya wawu sebagai ma'thuf (yang dihubungkan) kepada pembicaraan diawalnya berupa suatu peristiwa yang tidak konsekwen dengan kalimat yang di 'athafkan tersebut. (Lihat Lisanul 'Arab). Ada juga yang mengatakan wawu sharaf itu disebut juga wawu ma'iyyah.
Misalnya :
لا تَنْهَ عن خُلُقٍ وتأتيَ مِثْلَهُ ... عارٌ عليك إذا فَعَلْتَ عَظِيمُ
" Janganlah engkau melarang dari akhlaq (buruk) padahal engkau melakukannya...Aib yang besar bagimu jika engkau melakukannya"
Dan contoh lainnya : لَا تَأْكُلِ السَّمَكَ وَتَشْرَبَ اللَّبَنَ : Janganlah engkau makan ikan sambil minum susu.
[7]. أَنْ disembunyikan itu ada yang wujuban dan ada yang jawazan, maka tersembunyinya أَنْ yang wujuban yaitu bila setelah lam juhud yang didahului nafi, misalnya : «لم تكن لتكذب», dan setelah ف sababiyah dan disyaratkan baginya supaya didahului dengan nafi atau tholab.
Misalnya : «لم تحضر فتستفيد»، «ألا تصحبنا فنسر»، «هلا أكرمت الفقير فتؤجز»، «ليتك حضرت فتستمع»، «لعلك مسافر فأرافقك» ، «هل أنت سامع فأحدثك», dan setelah wawu ma’iyah, misalnya :
«لا تشرب وتضحَك», dan setelah أو yang bermakna إلى , misalnya : «أسهر أو أنهى قراءتي» , «يقتل المتهم بالخيانة أو تثبت براءته », dan setelah حتى , misalnya: «أطعتك حتى أسرك». Dan tersembunyinya أَنْ yang jawazan : Setelah lam ta’lil dan setelah salah satu huruf athaf : «الواو، الفاء، ثم، أو», misalnya: حضرت لأستفيد, dan Firman-Nya Ta’ala :
«فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَّحَزَنًا» [القرآن الكريم، القصص (28): 8]
[8] . القرآن الكريم، يونس (10): 72.
[9] . القرآن الكريم، آل عمران (3): 115
[10] . القرآن الكريم، الكهف (18): 39 - 40
[11] . القرآن الكريم، يوسف (12): 77
[12] . القرآن الكريم، التوبة (9): 28

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik