Oleh: Den Herians
Setiap fi’il (kata kerja) itu adalah ‘amil (beramal), dan fi’il-fi’il dalam amalnya terbagi dua bagian, yaitu :
Ketahuilah bahwa fi’il yang ma’ruf itu ada yang lazim (tidak memerlukan objek) dan ada yang muta’addi (memerlukan objek).
Amalnya fi'il yaitu merafa'kan fa’il, misalnya : قَامَ زَيْدٌ , dan menashabkan isim-isim yang enam, yaitu :
1. المفعول المطلق (Maf’ul Muthlaq)
Misalnya :
قَامَ زَيْدٌ قِيَامًا , ضَرَبَ زَيْدٌ ضَرْبًا
2. المفعول فيه (Maf’ul Fiih)
Misalnya :
صُمْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ, جَلَسْتُ فَوْقَكَ
3. المفعول معه (Maf’ul Ma’ah)
Misalnya :
جَاءَ الْبَرْدُ وَالْجُبَّاتِ
yaitu maksudnya: مَعَ الْجُبَّاتِ
4. المفعول له (Maf’ul Lah)
Misalnya :
قُمْتُ إِكْرَامًا لِّزَيْدٍ, ضَرَبْتُهُ تَأْدِيْبًا
5. الحال (Hal)
Misalnya :
جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا
6. التمييز (Tamyiz) apabila terjadi ketidak jelasan pada hubungan fi’il kepada fa’ilnya.
Misalnya : طَابَ زَيْدٌ نَفْسًا
Adapun fi’il muta’addi maka menashabkan Maf’ul bih.
Misalnya : ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًو , maka berbeda amalnya dengan fi’il lazim.
Misalnya : ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًو , maka berbeda amalnya dengan fi’il lazim.
Selanjutnya perlu kita ketahui bahwa Fa’il adalah isim yang terdapat fi’il sebelumnya dan menjadi musnad ilaih, sebagai pelaku (subjek).
Misalnya : زَيْدٌ pada jumlah : ضَرَبَ زَيْدٌ
Maf’ul Muthlaq yaitu mashdar yang menjadi sumber (kata dasar) makna fi’il, yang terletak setelah pilih.
Misalnya : ضَرْبًا pada jumlah : ضَرَبْتُ ضَرْبًا
atau : قِيَامًا pada jumlah : قُمْتُ قِيَامًا
Maf’ul Fiih yaitu isim yang terkena padanya fi’il yang disebut (yang dikerjakan padanya), dan dinamakan pula zharaf, dan zharaf itu terdapat dua macam:
1. Zharaf Zaman ( ظَرفُ زَمَانٍ )
Yaitu Keterangan Waktu
Contoh : يَوْمَ pada jumlah : صُمْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ
2. Zharaf Makan ( ظَرفُ مَكَانٍ )
Yaitu Keterangan Tempat
Contoh : عِنْدَكَ pada jumlah : جَلَسْتُ عِنْدَكَ
Maf’ul Ma’ah yaitu isim yang disebut setelah wawu yang bermakna مع (wawu ma’iyah).
Misalnya : وَالْجُبَّاتِ
Pada jumlah : جَاءَ الْبَرْدُ وَالْجُبَّاتِ , yaitu : مَعَ الْجُبَّاتِ
Dan Maf’ul Lah yaitu isim yang menunjukan kepada sesuatu yang menjadi sebab bagi fi’il yang disebutkan.[1] Misalnya : إِكْرَامًا
Pada jumlah : قُمْتُ إِكْرَامًا لِزَيْدٍ
Dan Hal yaitu isim nakirah yang menunjukan atas kondisi fa’il.
Misalnya : رَاكِبًا
Pada jumlah: جَاءَ زَيْدٌ رَاكِبًا
Atau kondisi maf’ul,
Misalnya : مَشْدُوْدًا
pada jumlah: ضَرَبْتُ زَيْدًا مَشْدُوْدًا ,
Atau menunjukan berdua
Misalnya : رَاكِبَيْنِ
pada jumlah: لَقِيْتُ زَيْدًا رَاكِبَيْنِ
Fa’il dan Maf’ul dinamakan Dzul Hal (ذو الحال / pemilik hal), dan keadaan dzul hal biasanya ma’rifat, namun jika keadaan dzul hal nya nakirah, maka posisi hal didahulukan atas dzul hal.
Misalnya : جَاءَنِيْ رَاكِبًا رَّجُلٌ
Namun terkadang hal juga berbentuk jumlah.
Misalnya :
رَأَيْتُ الْأَمِيْرَ وَهُوَ رَاكِبٌ [2]
Tamyiz yaitu isim yang menghilangkan ketidakjelasan jumlah bilangan.
Misalnya :
atau ketidakjelasan wazan (timbangan),
misalnya:
atau ketidakjelasan kail (takaran),
misalnya :
atau ketidakjelasan misaahah (area),
misalnya :
Adapun Maf’ul bih yaitu isim yang terdapat padanya fi’il fa’il.
Misalnya :
ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا
Perlu diketahui bahwa isim-isim yang manshub tersebut terletak setelah sempurnanya jumlah (kalimat), dan pada dasarnya jumlah itu disempurnakan dengan fi’il dan fa’il [7], oleh karena itulah para ahli nahwu berkata: اَلْمَنْصُوْبُ فَضْلَةٌ (isim yang dinashab itu adalah fadlah [kelebihan/sisa]).
Ketahuilah bahwa Fa’il itu ada dua macam, yaitu :
1. مَظهَرٌ (zhahir)
Misalnya : ضَرَبَ زَيْدٌ
2. مُضمَرٌ بَارِزٌ (dhamir yang nampak)
Misalnya: ضَرَبْتُ
Dan مُضمَرٌ مُستَتِرٌ (dhamir yang tersembunyi)
Misalnya : زَيْدٌ ضَرَبَ , maka fa’il dari ضَرَبَ adalah mustatir (tersembunyi), yakni هو[8]
Perlu diketahui jika keadaan fa’il itu mu'annats hakiki atau dhamir bagi mu'annats (atau dhamir jama’ taksir bagi mudzakar yang tidak berakal) maka wajib menta'nits fi’il.
Misalnya : قَامَتْ هِنْدٌ dan هِنْدٌ قَامَتْ , yaitu هِيَ ,
dan misalnya : الأَيَّامُ بِك ابتَهَجَتْ
Kemudian jika keadaan fa'ilnya itu zhahir mu'annats ghair hakiki atau pada zhahir jama’ taksir (atau mu'annats hakiki yang dipisah dari fi’ilnya tanpa إلَّا atau keadaan fi’ilnya dari bab نِعمَ ), maka boleh disini tadzkir atau ta'nits.
Misalnya : طَلَعَ الشَّمْسُ atau طَلَعَتِ الشَّمْسُ
dan قَالَ الرِّجَالُ atau قَالَتِ الرِّجَالُ ,
dan قَالَ الْخَبَرَ فَاطِمَةُ atau قَالَتْ dan نِعمَ هندٌ atau نِعمَت هندٌ .
Ketahuilah bahwa fi’il yang majhul itu merofakan maf’ul bih yang menempati tempat fa’il dan menashabkan sisanya.
Misalnya :
ضُرِبَ زَيْدٌ يَوْمَ الْجُمْعَةِ، أَمَامَ الْأَمِيْرِ، ضَرْبًا شَدِيْدًا، فِيْ دَارِهِ، تَأْدِيْبًا، وَالْخَشْبَةَ
Fi’il nya disebut dan fa’ilnya tidak disebut, dan maf’ul yang dimarfu’kan tidak disebut fa’il, tetatpi dinamakanlah na’ibul fa’il.
Ketahuilah bahwa fi’il yang muta’addi terdapat empat macam, yaitu :
1. يَتَعَدَّي إِلَى مَفعُولٍ وَاحِدٍ
Yang memuta’addikan kepada satu maf’ul.
Misalnya : ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا
2. يَتَعَدَّي إِلَى مَفعُولَينِ، يَجُوزُ فِيهِ الِاقتِصَارُ عَلَى أَحَدِهِمَا
Yang memuta’addikan kepada dua maf’ul, namun diperbolehkan mengurangi salah satunya.
Misalnya : أَعْطَى dan yang semacamnya [9],
Contoh: أَعْطَيْتُ زَيْدًا دِرْهَمًا , boleh juga : أَعْطَيْتُ دِرْهَمًا
3. يَتَعَدَّي إِلَى مَفعُولَينِ وَلَا يَجُوزُ الاِقتِصَارُ عَلَى أَحَدِهِمَا
Yang memuta’addikan kepada dua maf’ul, namun tidak diperbolehkan mengurangi salah satunya[10]. Dan ini terdapat pada Af’alul Qulub[11].
Misalnya :
عَلِمْتُ، وظَنَنْتُ، وحَسِبْتُ، وخِلْتُ، وزَعَمْتُ، ورَأَيْتُ، ووَجَدْتُ[12]
Contoh : عَلِمْتُ زَيْدًا فَاضِلًا، ظَنَنْتُ زَيْدًا قَائِمًا.
4. يَتَعَدَّي إِلَى ثَلَاثَةِ مَفَاعِيلَ
yang memuta’addikan kepada tiga maf’ul.
Misalnya : أَعْلَمَ، أَرَى، أَنْبَأَ، أَخْبَرَ، خَبَّرَ، نَبَّأَ، حَدَّثَ.
Contoh : أَعْلَمَ اللهُ زَيْدًا عَمْرًا فَاضِلًا.
Yaitu ada tujuh belas (bahkan 20) fi’il, yaitu:
كَانَ ، صَارَ ، ظَلَّ ، بَاتَ ، أَصْبَحَ ، أَضْحَى ، أَمْسَى ، عَادَ ، آضَ ، غَدَا ، رَاحَ ، مَا زَالَ ، مَا أَنْفَكَّ ، مَا بَرِحَ ، مَا فَتِيَ ، مَا دَامَ ، لَيْسَ ، ) اسْتَحَالَ، قَعَدَ، حَارَ(.
Dan fi’il-fi’il ini tidak cukup dengan fa’il semata, akan tetapi memerlukan khabar, oleh karena itulah fi’il-fi’il ini disebut naqish, dan masuk kepada jumlah ismiyah, maka ia memarfu’kan musnad ilaih dan memanshubkan musnad. Contoh : كَانَ زَيْدٌ قَائِمًا, dan dinamakan yang marfu’ tersebut isim kana (اسم كَانَ) dan isim yang manshubnya khabarnya, demikian pula yang lainnya.
Namun sebagiannya terkadang sudah cukup sempurna dengan adanya fa’il saja, misalnya : كَانَ مَطَرٌ , yaitu حَصَلَ (berlangsung/terjadi). Maka dinamakanlah كَانَ تَامَّةً(kana yang sempurna). Dan kadang-kadang terdapat pula kana sebagai tambahan (كَانَ زَائِدَةً) [13].
Kita ketahui Af’alul Muqorobah [14] ada empat macam , yaitu : عَسَى ، كَادَ ، كَرَبَ ، أَوْشَكَ. Fi’il-fi’il ini masuk pada jumlah ismiyah semisal كَانَ yakni merafa'kan isim dan menashabkan khabar, kecuali jika khabarnya berupa fi’il mudhari’ yang disertai أَنْ [15], misalnya : عَسَى زَيْدٌ أَنْ يَّخْرُجَ, atau tanpa أَنْ, misalnya : عَسَى زَيْدٌ يَخْرُجُ, dan fi’il mudhari’ yang disertai أَنْ boleh menjadi fa’il bagi عَسَى dan tidak memerlukan khabar, misalnya: عَسَى أَنْ يَّخْرُجَ زَيْدٌ , maka kedudukannya: فِي مَحَلِّ الرَّفعِ بِتَأوِيلِ الْمَصدَرِ (berkedudukan rofa' dengan takwil mashdar).
Jenis dari fi’il-fi’il ini ada empat, yaitu :
نِعْمَ، حَبَّذَا ini untuk mad-hi/sanjungan (لِلْمَدح), dan: بِئْسَ، سَاءَ untuk dzammi/celaan ( لِلذَّمِّ).
Setiap isim yang terletak setelah fa’il dari fi'il mad-hi disebut makhsushan bil mad-hi ( مخصوصًا بالمدح) dan yang terletak setelah fa’il dari fi'il dzammi disebut makhsushan bidzdzammi ( مخصوصا بالذم). Adapun syaratnya yaitu :
1. Keadaan fa’ilnya itu harus مُعَرَّفًا بِاللَّامِ (dima’rifatkan dengan lam), misalnya : نِعْمَ الرَّجُلُ زَيْدٌ .
2. Atau fa’ilnya menjadi mudhaf kepada isim yang ma’rifat dengan lam ta'rif ( مُضَافًا إِلَى الْمَعرِفَةِ بِاللَّامِ),
misalnya : نِعْمَ صَاحِبُ الْقَوْمِ زيْدٌ .
3. Fa’ilnya berupa dhamir mustatir yang dibedakan dengan nakirah manshubah (ضَمِيرًا مُستَتِرًا مُمَيَّزًا بِنَكِرَةٍ مَنصُوبَةٍ).
Misalnya : نِعْمَ رَجُلًا زَيْدٌ , pada contoh ini fa’ilnya نِعْمَ adalah هُوَ yaitu mustatirun fiih (مستتر فيه) dan رَجُلًا berkedudukan mansub atas tamyiz, karena هُوَ tersebut masih samar/ mubham (مبهم).
Contoh lain : حَبَذَّا زَيْدٌ , maka حَبَّ adalah fi’lul mad-hi, dan ذَا adalah fa’ilnya, kemudian زَيْدٌ ia itu makhshush bilmad-hi (مخصوص بالمدح) [16],
demikian pula contoh : بِئْسَ الرَّجُلُ زَيْدٌ dan سَاءَ الرَّجُلُ عَمْرٌو.
Ketahuilah bahwa أَفْعَلَ pada ta’ajub itu ada dua bentuk dari mashdar fi’il tsulatsi mujarrad :
1. ما أَفْعَلَهُ
Misalnya : مَا أَحْسَنَ زَيْدًا ,
yang takdirnya : أَيُّ شَيْءٍ أَحْسَنَ زَيْدًا.
Maka i’rabnya :
«مَا» بِمَعنَى شَيءٍ فِي مَحَلِّ الرَّفعِ بِالِابتِدَاءِ، وَ «أَحْسَنَ» فِي مَحَلِّ الرَّفعِ خَبَرُ المُبتَدَأِ ، وَفَاعِلُ أَحْسَنَ» «هُوَ» ضَمِيرٌ مُستَتِرٌ فِيهِ وُجُوبًا، وَ «زَيْدًا» مَفعُولٌ بِهِ. [17]
2. أَفْعِلْ بِهِ [18]
Misalnya : أَحْسِنْ بِزَيْدٍ , lafazh أَحْسِنْ merupakan bentuk amr (صِيغَةُ الأَمرِ) yang bermakna khabar, dan takdirnya : أَحسَنَ زَيْدٌ , yakni : صَارَ ذَا حُسْنٍ, dan ب merupakan tambahan (زائدة).
Back to : Daftar Isi, Qaidah Bahasa dan I'rab
[1] Disebut juga maf'ul li ajlih.
[2]. Jumlah hal berbentuk jumlah ismiyah sebagaimana pada contoh, atau jumlah fi’liyah, misalnya : ولا تمنن تستكثر , maka jumlah : تستكثر i’rabnya : في محل نصب حال , contoh lain: جاء خالد يحمل كتابا .
[3] . Saya mempunyai 11 dirham .
[4] . Saya mempunyai 1 pon zaitun.
[5] . Saya mempunyai 2 genggam gandum.
[6] Atau menghapuskan ketidakjelasan dari nisbah, misal pada FirmanNya Ta’ala : وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا (سورة مريم (19): 4 ), dan FirmanNya : وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا (سورة القمر (54): 12 ).
[7] Jumlah (kalimat) itu ada yang ismiyah dan ada yang fi’liyah, maka yang berupa jumlah ismiyah terbentuk dari 2 elemen dasar, yaitu Mubtada' dan Khabar. Dan Jumlah Fi’liyah terbentuk dari fi’il dan fa’il.
[8]. Dan termasuk disini Fa’il yang mu'awwal (yang dita'wil), yaitu أن yang datang kepada fi’il , dan fa’ilnya berupa mashdar yang mafhum (telah difahami) yang berasal dari huruf mashdariy : أن , إن, ما, لو, كي yang disertai isim yang masuk padanya, misalnya: يَحسُنُ أَن تَجتَهِدَ, maka fa’ilnya adalah mashdar yang dita'wil (mu'awwal) dari أن dan fi’il تجتهد , yaitu : يَحسُنُ إِجتِهَادُكَ.Kemudian jika keadaan fa’ilnya dhamir mustatir, maka ini terdapat dua bentuk:
1. Mustatir Jawazan, terdapat pada fi’il madhi dan mudhari’ yang disandarkan pada orang ketiga tunggal yang ghaib atau ghaibah, misalnya : جاء، يجيء.
2. Mustatir Wujuban, terdapat pada Fi’il Mudhari’ dan Amr yang disandarkan kepada mukhatab tunggal, misalnya:تَكتُبُ، أُكتُب dan pada fi’il mudhari’ yang disandarkan kepada mutakallim mufrad atau jamak, misalnya : أَكتُبُ، نَكتُبُ dan pada isim fi’il yang disandarkan kepada mutakallim atau mukhatab, misalnya : أُف، صَه dan pada fi’il ta’ajub atas wazan أفعل , misalnya : مَا أَحسَنَ العِلمَ ,dan pada fi’il-fi’il istitsna, yaitu : خلا، عدا، حاش, misalnya: جَاءَ القَومُ مَا خَالَا سَعِيدًا.
[9] . Ini merupakan fi’il-fi’il yang memanshubkan dua maf’ul yang asalnya bukan mubtada' dan khabar,dan dinamakan af’alul manhi atau man’i, diantaranya : أعطى ,سأل، منح، كسا، ألبس، علم.
Misalnya:
مَنَحتُ الْمُجتَهِدَ جَائِزَةً، مَنَعتُ الكَسلَانَ التَّنَزُّهَ, كَسَوتُ الفَقِيرَ ثَوبًا، أَلبَستُ الْمُجتَهِدَ وَسَامًا، عَلَّمتُ الطُّلَّابَ الأَدَبَ.
[10].Memanshubkan dua maf’ul yang asalnya mubtada' dan khabar, yaitu yang masuk kepada jumlah ismiyah, kemudian memanshubkan mubtada' dan khabar menjadikannya dua maf’ul.
[11].Demikian juga pada Af’alut-Tahwil, yaitu: fi’il-fi’il yang mempunyai makna menjadi, terdapat 7 macam : صير، ورد، أخذ، اتخذ، جعل، وهب، ترك , misalnya : صَيَّرتُ العَدُوَّ صَدِيقًا, dan perkataan penyair:
«فَرَدَّ شُعُورَهُنَّ السُّودَ بِيْضًا ... وَرَدَّ وُجُوهَهُنَّ البِيْضَ سُوْدَا»,
«وَرَبَّيْتُهُ حَتَّى إِذَا مَا تَرَكْتُهُ ... أَخَا الْقَوْمِ وَاسْتَغْنَى عَنِ الْمَسْحِ شَارِبُهْ» ,
dan FirmanNya Ta’ala : «وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلًا» (Q.S: AnNisa:125) ,
«فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنْثُوْرًا»(Q.S: AlFurqan:23).
[12]. Af’alulQulub ada dua macam,satu macam yang bermakna yakin, yaitu:
رأي، علم، دري، تعلم، وجد، ألفي,
contoh: FirmanNya Ta’ala : «فَإِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ» (Q.S;60:10),
perkataan penyair:
«دريت الوفى العهد يا عمرو فاغتبط ... فإن اغتباط بالوفاء حميد»
«تعلم شِفَاء النَّفس قهر عدوها ... فَبَالغ بلطف فِي التحيل وَالْمَكْر»
contoh lain: وجدت الصدق زينة العقلاء وألفيت قولك صوابًا
Satu macam lagi yang berfaidah zhan, ada dua macam, yaitu : 1. Untuk zhan dan yakin : ظن، حسب، خال. 2. Untuk zhan saja, yaitu : جعل, misalnya FirmanNya ta’ala : وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا (Q.S;43:19), dan حجا , misal:
قد كنت أحجو أبا عمرو أخا ثقة ... حتى المت بناء يومًا ملمات, dan عد , misal: فلا تعدد المولى شريكك في الغنى, dan زعم , misalnya: «زعمتني شيخا ولست بشيخ ... إنما الشيخ من يدب دبيبًا» , dan هب dengan lafazh perintah, misalnya: «فقلت أجرني أبا خالد ... وإلا فهبني أمراء هالكًا».
[13] . Kana sebagai tambahan ada dua syarat:
1.Ditambahkan adanya lafazh madhi, contoh: مَا كَانَ أَصَحَّ عِلمٌ مِن تَقَدُّمٍ.
2.Berada diantara dua lafazh yang saling terkait yang bukan jar majrur, contoh: مَا كَانَ اَعدَلَ عُمَرَ, maka ditambahkan diantara ما dan fi’il ta’ajub. Dan ditambahkan diantara نِعمَ dan fa’ilnya, dan diantara fi’il dan naib fa’il dan diantara sifat dan maushufnya, ketika ditambahkan maka dia tidak beramal dan maknanya menjadi taukid.
[14] . Af’alul Muqarabah : كاد وأخواتها, dan tidak semuanya berfaidah muqarrabah, adapun semuanya ditetapkan dengan nama demikian sebagai keumuman bagi jenis diantara jenis-jenis pada bab ini terhadap yang lainnya untuk membiasakan penggunaannya, dan terdapat 3 macam, yaitu :
1. Af’alul muqarabah , yakni : كاد، أوشك، كرب,
2. Af’alul Raja' : عسى، حرى، أخلولق,
3. Af’alusySyuru’, yakni : أنشا، علق، طفق، أخذ، هب، بدأ، ابتدأ، جعل، قام، انبري.
[15] . Yaitu mashdar mu'awwal dari أَنْ dan fi’il mudhari’.
[16]Almakhshus bil madhi atau dzammi di i’rab adakalanya mubtada' muakhar, khabarnya jumlah fi’liyah yang dibentuk dari fi’lul madhi (فعل المدح) atau dzammi (الذم) beserta fa’ilnya, dan adakalanya berupa khabar bagi mubtada' yang dibuang yang takdirnya : الممدوح atau المذموم.
[17] . Di i’rab contoh ini sebagaimana berikut:
مَا : نَكِرَةٌ مَبنِيَّةٌ فِي مَحَلِّ رَفعٍ مُبتَدَأٌ . أَحْسَنَ : فِعلٌ مَاضٍ جَامِدٌ مَبنِيٌّ ، وَفَاعِلُهُ ضَمِيرٌ مُستَتِرٌ فِيهِ وُجُوبًا، تَقدِيرُهُ هُوَ.
زَيْدًا: مَفعُولٌ بِهِ مَنصُوبٌ. وَجُملَةُ أَحْسَنَ زَيْدًا فِي مَحَلِّ رَفعٍ خَبَرُ الْمُبتَدَأِ مَا
[18] . Di i’rab contoh ini sebagaimana berikut:
أَحْسِنْ : فِعلٌ مَاضٍ جَامِدٌ جَاءَ عَلَى صِيغَةِ الأَمرِ مَبنِيٌّ. اَلبَاءُ : حَرفُ جَرٍّ زَائِدٌ. زَيْدٍ : فَاعِلٌ مَرفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفعِهِ الضَّمَّةُ الْمُقَدَّرَةُ.

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik