15.5.18

Ta’rif (Definisi) Surat An-Nisaa’
سورة النِّسَاء
Sababu Tasmiyah  (Sebab Penamaan) Surat anNisaa’
Gbr. Ta'rif Surat AnNisaaDinamakan Surat anNisaa’ (Perempuan), karena didalamnya banyak disebutkan hukum-hukum yang berkaitan dengan perempuan dengan derajat yang tidak ditemukan di surat-surat yang lain. Oleh karena itu  disebut pula dengan surat AnNisa alKubra sebagai perbandingan dengan surat AnNisa asShugra yang dikenal dalam alQuran dengan nama surat AthThalaq.
Ta’rif Surat
Adapun  ta’rif  surat anNisa yaitu :
1.      Surat Makiyah.
2.      Termasuk surat yang panjang.
3.      Jumlah ayatnya 176 ayat.
4.      Merupakan surat ke 4 berdasarkan tartib Mushaf.
5.      Turun setelah surat alMumtahanah.
6.      Surat anNisa dimulai dengan salah satu gaya bahasa Nidaa’ (seruan) “ياأيها الناس
7.      Juz 5,  Hizb(8,9,10), Rubu’ ( 1,2,3,4,5,6,7,8).
Pokok-pokok Pembahasan
     Surat anNisa merupakan salah satu surat madaniyah yang panjang, penuh dengan muatan hukum-hukum Tasyri’ (perundangan) yang mengatur urusan internal dan eksternal kaum muslimin , yakni dari aspek tasyri sebagaimana kondisi surat-surat madaniyah pada umumnya. Surat ini membicarakan perkara-perkara penting yang berkaitan dengan wanita, rumah, keluarga (rumah tangga), daulah (pemerintahan), kemasyarakatan. Namun kebanyakan membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita oleh karena itulah di sebut surat AnNisaa’.
Sebab Turunnya Surat
1.      Allah Ta’ala berfirman :
وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ
“ Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka... “ (AnNisaa’ : 2).
Muqatil dan alKalbiy berkata :
نَزَلَت فِي رَجُلٍ مِن غَطَفَانَ كَانَ عِندَهُ مَالٌ كَثِيرٌ لِابِن أَخٍ لَهُ يَتِيمٍ فَلَمَّا بَلَغَ  طَلَبَ الْمَالَ فَمَنَعَهُ عَمُّهُ فَتَرَافَعَا إِلَى النَّبِيِّ صلي الله عليه و سلم.
Ayat tersebut turun mengenai seorang laki-laki dari Ghathafan, ia memegang harta yang banyak milik keponakannya yang yatim, maka ketika keponakannya telah baligh, ia menuntut hartanya dan pamannya menahannya. Kemudian keduanya mengadukan kepada Nabi saw.
2.      Kemudian sehubungan dengan Firman-Nya Ta’ala :
وَإِنْ خِفْتُم ألا تُقْسِطُوا
“ Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil...” (AnNisaa’ : 3).
أُنزِلَت هَذِهِ فِي الرَّجُلِ يَكُونُ لَهُ اليَتِيمَةَ وَهُوَ وَلِيُّهَا وَلَهَا مَالٌ وَلَيسَ لَهَا أَحَدٌ يُخَاصِمُ دُونَهَا فَلَا يَنكِحُهَا حُبًّا لِمَالِهَا وَيَضرِبُهَا وَيُسِئُ صُحبَتَهَا فَقَالَ الله تعالى : "وَإِن خِفتُم أَلَّا تُقسِطُوا فِي اليَتَامَى فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِنَ النِّسَاءِ "يَقُولُ مَا أَحلَلتُ لَكُم وَدَع هَذِهِ . رواه مسلم .
Ayat ini diturunkan mengenai laki-laki yang menjadi wali seorang perempuan yatim, dan anak tersebut mempunyai harta dan tidak ada seorang pun yang menjaganya selain dirinya sendiri, kemudian laki-laki tersebut tidak ingin menikahinya karena menyukai hartanya, dan dia khawatir akan berbuat buruk kepadanya, Kemudian Allah Ta’ala berfirman :
وَإِن خِفتُم أَلَّا تُقسِطُوا فِي اليَتَامَى فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُم مِنَ النِّسَاءِ
“ Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita lain...” (AnNisaa’ : 3).  Ayat ini mengatakan “ Ambillah yang Aku bolehkan untuk kamu dan tinggalkan yang memadharatkan”. (Lihat: Riwayat Muslim).
3.      Firman-Nya Ta’ala :
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى
“ Dan ujilah anak yatim itu...” (AnNisaa’ : 6).
نَزَلَت فِي ثَابِتِ بنِ رِفَاعَةَ وَ فِي عَمِّهِ وَذَلِكَ أَنَّ رِفَاعَةَ تُوَفِّيَ وَتَرَكَ ابنَهُ ثَابِتًا وَهُوَ صَغِيرٌ فَأَتَى عَمُّ ثَابِتٍ إِلَى النَّبِيِّ صلي الله عليه و سلم فَقَالَ إِنَّ ابنَ أَخِي يَتِيمٌ فِي حِجرِي فَمَا يَحِلُّ لِي مِن مَالِهِ وَمَتَى أَدفَعُ إِلَيهِ مَالَهُ فَأَنزَلَ اللهُ تَعَالَى هَذِهِ الآيَةَ.
Ayat ini turun mengenai Tsabit bi Rifaa’ah dan pamannya, dan demikian bahwa Rifaa’ah meninggal dunia meninggalkan anaknya yakni Tsabit dan ia masih kecil, kemudian pamannya Tsabit datang kepada Nabi saw, ia berkata : Sesungguhnya keponakanku ini yatim dalam pengasuhanku, maka apakah sebagian hartanya halal untukku? Dan kapankah aku menyerahkan hartanya kepadanya?, kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat tersebut.
Next : Surat AlMaidah
Baca juga : 1. Surat alFatihah
                       2. Surat alBaqarah
                       3. Surat Ali Imran

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik