7 Golongan Yang Dinaungi Allah Di Akhirat
Oleh : Den Herians
Semua makhluq didunia ini tidak bisa hidup sendiri, mesti saling membutuhkan bahkan
saling menaungi dan melindungi, sebagaimana halnya manusia pelaku kebaikan mereka saling melindungi, demikian juga sebaliknya.
Boleh
jadi di dunia ini, pelaku kejahatan lebih memiliki perlindungan dan penjagaan daripada pelaku kebenaran, sebagai contoh
yang sering dan sudah biasa terjadi di dalam satu negara yang rusak, bobrok akibat
penyakit korup dan krisis akhlak yang menjangkit dan mewabah para petingginya,
yakni mereka para koruptor dibiarkan bahkan dilindungi, sedangkan pelaku
kebenaran dan kejujuran malah ditindas dan dizhalimi karena kesewenang-wenangan
para pemegang jabatan, sehingga hukum dengan mudah dipermainkan.
Namun lain hal di negeri akhirat, bagi siapa saja yang beriman kepada kerasulan Muhammad saw, yang beriman dan menyakini apa yang disabdakannya, maka ketahuilah bahwa tiada sedikitpun perlindungan di akhirat kecuali hanya pelindungan-Nya Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits shahih :
Namun lain hal di negeri akhirat, bagi siapa saja yang beriman kepada kerasulan Muhammad saw, yang beriman dan menyakini apa yang disabdakannya, maka ketahuilah bahwa tiada sedikitpun perlindungan di akhirat kecuali hanya pelindungan-Nya Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits shahih :
عَن أَبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ أَنَّ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ
ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ
رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا
فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ
امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ،
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه. متفق عليه.
Dari Abu Hurairah r.a,
bahwa Rasulullah saw bersabda :
Ada tujuh golongan,
Allah akan menaungi mereka dalam Naungan-Nya, pada hari tiada naungan kecuali
hanya Naungan-Nya :
1.
Imam/Pemimpin yang adil.
2.
Pemuda yang tumbuh dalam
ibadah kepada Rabb-nya.
3.
Seorang yang hatinya
terkait ke masjid.
4. Dua orang yang saling
mencintai di jalan Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.
5. Seorang laki-laki yang
diajak berzina oleh perempuan yang mempunyai kedudukan lagi cantik, kemudian ia
berkata : " Sungguh Aku takut kepada Allah" .
6. Seorang yang
bershadaqah, ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu yang di
infaqkan tangan kanannya.
7. Dan seorang yang
berdzikir kepada Allah dalam kesunyian, lalu berlinang air matanya.
(H.R Bukhari dan Muslim)
Mengenai
7 golongan yang mendapat naungan di akhirat ini, Syaikh Muhammad 'Ali
asShaabuuni menjelaskan dalam kitab Min Kunuuzissunnah bahwa yang dimaksud ظِلَّ
(naungan) pada hadits di atas yaitu naungan secara hakiki, dimana mereka
orang-orang yang mendapat kebahagiaan, berada dibawah naungan 'arasy pada hari kiamat, berdasarkan keterangan sabda
nabi saw :
يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
"Hari yang tidak ada
naungan kecuali Naungan-Nya"
, maka sinar dan teriknya
panas matahari tidak akan menyentuh mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa
yang dimaksud naungan, yaitu karomah (kemuliaan) dan himayah(perlindungan),
lafazh tersebut merupakan kinayah dari ri'aayah (penjagaan,
perlindungan) dan himayah. Namun pendapat yang paling rajih adalah
pendapat yang pertama.
Lafazh فِي ظِلِّهِ , disandarkan kepada Allah, merupakan idhofatu tasyriif , yakni untuk memuliakan dan mengagungkan-Nya.
Dan yang dimaksud الإِمَامُ العَادِلُ
(Imam/pemimpin yang adil) yaitu penguasa atau hakim, mencakup alqadhiy (yang mengadili) dan setiap orang
yang dikuasakan jabatan kepadanya, dan orang yang adil dalam menghukumi dan
memutuskan perkara diantara manusia bukan dengan hawa nafsu yang condong kepada
harta (suap/sogok).
Kemudian seorang yang
hatinya terpaut ke masjid (مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ), yaitu ia yang sangat
mencintai masjid, ia menunggu sholat setelah sholat dan selalu berjama'ah, tidak
mengakhir-akhirkan waktu sholat, sebagai mana Allah Ta'ala menyebutkan
klasifikasinya dalam firman-Nya :
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ
يُحَافِظُونَ
" dan orang-orang yang memelihara shalatnya" (Q.S. alMa'aarij:34).
Kemudian orang yang
saling mencintai karena Allah,
تَحَابَّا فِي اللَّهِ
Yakni karena mengharap
Allah bukan karena tujuan duniawi. Mereka bertemu dan berpisah karena kecintaan berada di jalan Allah, sebagai isyarat
bahwa kecintaan yang kuat dari hati kedua orang tersebut menguatkan kecintaan karena Allah 'Azza wa
Jalla, sebagai mana dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى
لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
"Siapa yang
mencintai karena Allah dan membenci karena Allah ,memberi karena Allah dan menahan karena Allah, maka
sungguh ia telah menyempurnakan keimanannya". (Sunan Abu Dawud, AlBaniy menshahihkannya).
Dan
ke 5 yang mendapat naungan Allah di akhirat, yaitu seorang laki-laki yang tidak
jatuh pada rayuan perempuan, lafazh ذَاتُ مَنْصِبٍ , yaitu perempuan yang
memiliki prestise dan kedudukan tinggi dari segi nasab (keturunan)atau
kehormatan, atau kekuasaan dan harta.
Kemudian lafazh أَخَافُ اللَّهَ yakni laki-laki tersebut memiliki sifat Rahbah,
ia merasa takut akan adzab Allah, dan ini sebagai simbol keimanan, sebagaimana
Firman-Nya Ta'ala :
وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"..
tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar beriman" (Q.S. Ali Imran : 175).
Kemudian orang yang berinfaq
sehingga tangan kirinya tidak tahu yang di infaqkan tangan kanannya,
lafazh
شِمَالُهُ
مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ,
asysyimal dan alyamin, kedua tangan yang ada di sisi manusia, ini merupakan
ungkapan matsal (perumpamaan) sebagai taudhih (illustrasi). Jika kita
asumsikan, tangan kiri tersebut sebagai seseorang yang terjaga, dan ada seseorang
bershadaqah dengan tangan kanannya, maka seseorang yang ada di sebelah kiri
tersebut tidak menyadarinya.
Dan yang ke 7 yang akan mendapat
naungan Allah di akhirat yaitu seorang yang mengingat Allah. Lafazh ذَكَرَ اللَّهَ ,dari
lafazh الذِّكر , dengan mengkasrah huruf dzal berarti berdzikir dengan
lisan, dan dari lafazh التَّذَكُّر yakni berdzikir dengan pikiran dan hati, yaitu mengingat
dan menyebut-nyebut keagungan Allah dan ketinggian dan kebesaran-Nya lalu ia
mengangis karena takut kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Maka yang dimaksud
dengan dzikir di sini adalah adzdzikrul qalbiy (dzikir dengan hati). Adapun lafazh خَالِيًا
yakni di kesunyian, jauh dari orang-orang supaya menjadi lebih dekat
kepada ikhlash dan lebih jauh dari riya.
Dan lafazh فَفَاضَتْ عَيْنَاه
(mengalir air matanya), sekali lagi ini merupakan gambaran ketakutan
kepada Allah dan kuatnya keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam
hadits yang lain Rasulullah saw bersabda :
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ
خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Dua mata yang tak akan disentuh api neraka : Mata
yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang begadang karena berjaga
dijalan Allah "
(Sunan Tirmidzi, albani
mensahihkannya).
Hadits 7
naungan Allah di akhirat tersebut diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mulia
yaitu Abu Hurairah r.a, nama Abu Hurairah merupakan kunyah (julukan) dari
Rasulullah saw, nama hakikinya adalah 'Abdurrahman bin Shakhr adDausiy, beliau
radhiyallaahu 'anhu merupakan salah satu shahabat yang paling banyak
meriwayatkan hadits Nabi saw karena beliau selalu menemani Rasulullah saw. Abu
Hurairah r.a memeluk Islam pada tahun ke 7 hijrah ditahun Khaibar, dan beliau
r.a meninggal di Madinah Munawarah pada tahun 57 H.
Dalam
hadits yang mulia tersebut terdapat pembagian kriteria dan penjelasan yang
tinggi lagi mulia kepada mereka yang beruntung dan taat, yaitu orang-orang yang
mengalir bagi mereka karomah ilahiyah (kemuliaan ilahi), kebahagiaan yang abadi
didalam tempat tinggal yang kekal penuh kenikmatan disebabkan apa yang telah
mereka kerjakan di dunia berupa keshalihan-keshalihan amal, dan mereka disifati
dengan keindahan sifat-sifat tersebut.
Rasulullah
saw menerangkan kepada kita tentang pertolongan Allah dan Rahmat-Nya berupa
naungan dibawah 'arasy Allah Yang Maha Mulia, bagi tiap-tiap orang yang
disifati dengan salah satu sifat dari 7 golongan yang akan dinaungi Allah pada
hari kiamat yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Beliau saw telah merincinya
dengan jelas, supaya jiwa orang-orang beriman terbakar
semangatnya dan segera bergerak
serta bangkit ruhul jihadnya untuk beramal shalih dengan bersungguh-sungguh dan ikhlash, agar mereka menempuh jalan yang
lurus, agar mereka meneladani hamba-hamba Allah yang terpilih dan suci dari
hamba-hamba- Nya yang shalih.
Sejatinya
Rasulullah saw menyeru untuk menjaga keadilan dan menjauhi perbuatan zhalim dan
menjaga perkara-perkara kaum muslimin baik itu dalam wilyah secara umum ataupun
khusus. Maka berlaku adil itu adalah syari'at Allah sebagaimana Allah
perintahkan, dan Allah swt murka dan benci kepada semua kezhaliman bagaimanapun
bentuknya. Maha benar Allah dengan Firman-Nya :
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ
خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى
فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
" Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia
dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan
kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah
akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (Q.S Shaad : 26).
Yang
kedua Rasulullah saw menyeru dan mengajak kepada para pemuda untuk bersegera
menuju ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya, dari semenjak permulaan
hidup mereka, demi kebahagiaan dan kesuksesan, supaya mereka menjadi lelaki
yang memiliki masa depan gemilang menjadi generasi yang ideal sebagai suriteladan
yang akan menyuarakan
Islam. Sebagaimana alQuran menyanjung para pemuda Kahfi, Firman-Nya Ta'ala :
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ
هُدًى
".. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang
beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk" (Q.S. AlKahfi : 13).
Para pemuda adalah tumpuan harapan dan penerus masa depan.
Kriteria
yang ketiga adalah sanjungan terhadap lelaki yang shalih yang hatinya makmur
dengan keimanan, hati dan anggota tubuhnya selalu terkait dan terikat dengan
dzikrullaah dengan jalan memelihara sholat sebagai tiang agama, kecintaannya
memakmurkan masjid meresap dalam hatinya, sangat mencintai untuk selalu
bergabung dalam barisan shaf di rumah-rumah Allah. Dan Allah menyanjung
kriteria ini dalam alQuran :
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ
وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا
بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
" Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah
diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu
pagi dan waktu petang. Laki-laki yang
tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sholat..." (Q.S. AnNuur : 36-37).
Kemudian kriteria yang ke-4 , Nabi
saw menyeru untuk saling mencintai di jalan Allah, hanya untuk mengharap wajah
Allah, tidak bertujuan untuk nilai duniawi atau menuntut yang bersifat material
atau keuntungan dengan jalan yang hina. Dan tiada lain perkara agama itu adalah
kecintaan berada di jalan Allah, bertemu dan berkumpul diatas keridhoan-Nya,
bertemu diatas jalan dakwah yang haq yang mana Rasulullah saw datang membawanya,
agar cinta tersebut menjadi suci bersih dan murni.
Kriteria selanjutnya dalam hadits
tersebut memperlihatkan ketinggian gambaran manusia dalam kesucian, kemurnian
dan kebersihannya. Yakni kesucian perasaan dan jiwa, kesucian iman yang menjaga
pemeluknya dari tergelincir kedalam jurang kehinaan, apakah itu berupa fitnah
ataupun syahwat seksual yang secara realita ada pada tampilan perempuan yang
cantik, bergelimang harta dan kedudukan, ia mengajak dan merayu seorang lelaki
kepada syahwatnya, ia menggoda nya untuk berbuat fahsya, akan tetapi kesucian
iman menjauhkan lelaki tersebut dari semua godaan fahisyah karena keimanannya
membuat dia takut kepada Allah. Subhaanallaah... Allaahu Akbar..
Kriteria yang ke-6 yang akan
mendapat naungan Allah di akhirat, telah kita lihat dalam penjelasan diatas,
kemuliaan bayan dari Rasulullah saw, begitu indahnya illustrasi yang beliau
sampaikan bagaimana ihsannya seseorang yang bershadaqah dengan shodaqah yang
tersembunyi dari penglihatan manusia, tiada lain hanya demi mengharap keridhoan
Allah swt, sehingga dilukiskan dengan tangan kiri yang paling dekat dengannya
saja tidak menyadari shodaqah tangan kanannya di jalan Allah.
Dan yang terakhir yang akan mendapat
naungan Allah di akhirat, Rasulullah saw menutup sabdanya dengan menyampaikan
keutamaan menangis karena takut kepada Allah. Maka milik Allah lah sebaik-baik
petunjuk rasul dan sebaik-baik hikmah dan pengertian, itulah petunjuk kenabian
dan hikmah nya.
Demikian secara ringkas syarah
hadits 7 Golongan Yang Dinaungi Allah Di Akhirat , semoga kita termasuk salah
satunya dari golongan yang berbahagia tersebut..aamiin.
Wallaahulmusta'aan..
__________________
Disarikan
dari kitab :
من كنوز السنة , محمد علي الصابوني

Saya Baru sempat membaca buku abi :),,,
BalasHapusKe-7 ciri2 diatas sangat dekat dengan kehidupan kita ya, semoga saya dijauhkan dari perbuatan buruknya karena ingin tergolong kepada orang² yang dinaungi Allah SWT.
Saya akan terus belajar menanamkan dalam diri supaya menjadi manusia yang bermanfaat selama hidup didunia.
Ada beberapa kata yang belum mengerti tapi thanks bacaannya bermanfaat sekali.
Aamiin
Hapus