18.5.18

Bagaimana Meraih Cinta Allah Ta'ala
Oleh : Den Herians
   Mencintai Allah swt merupakan landasan pokok dalam Islam yang menjadi kesempurnaan iman, sebagaimana Qalbu nya Rasul terkasih Muhammad saw yang dipenuhi kecintaan kepada-Nya. Dan kecintaan kepada Allah Ta'ala mustahil diraih jika tidak mencintai kekasih-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammd saw), pasti Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang" (Q.S. Ali Imran:31).
   Dengan demikian inilah tanda kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya yakni ia mencintai Rasulullah saw dengan mengikuti apa yang Beliau saw diutus dengannya dan menjauhi apa yang Beliau saw larang.
    Adapun dalam alQuran alKarim, Allah Ta'ala telah menyebutkan siapa saja orang-orang yang akan mendapatkan kecintaan-Nya dan ini menjadi petunjuk bagi orang-orang yang ingin Meraih Cinta Allah Ta'ala, yaitu :
Gbr Bagaimana Meraih Cinta Allah
1.  Ia adalah orang yang bertakwa.
فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
"Maka Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa". (Q.S. Ali Imran :76).
Muttaquun/orang-orang yang bertakwa adalah mereka orang-orang yang mengesakan Allah swt, tiada sedikitpun menyekutukan-Nya, dan mereka adalah orang-orang yang senantiasa menunaikan amanah dan menepati janjinya baik kepada sesama manusia ataupun kepada Allah Ta'ala, mereka jauh dari sifat-sifat orang munafiq, karena itulah mereka mendapatkan kecintaan dan keridloan Allah swt, sebab kecintaan Allah Ta'ala tidak diberikan-Nya kecuali kepada ahli takwa yang mana mereka menjadikan ketakwaannya itu sebagai penjaga antara mereka dan kemurkaan Allah Ta'ala, yakni mereka orang-orang yang takut dan khawatir akan kemarahan Allah dan adzabNya.
2.   Ia adalah orang yang senantiasa bertaubat dan mensucikan diri.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri ".(Q.S. AlBaqarah:222).
Yakni mereka orang-orang yang menyesal dengan perbuatan dosa, dan mereka kembali kepada Allah mengharap ampunan-Nya, mereka kembali dari bermaksiyat kepada menta'ati-Nya dengan tidak mengulangi perbuatan dosanya, dalam ayat yang lain Allah Ta'ala berfirman :
"dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (Q.S. Ali Imran :135-136).
Mereka juga orang-orang yang senantiasa mensucikan diri dari berbagai hadats dan keburukan serta kekotoran jiwa sehingga mereka termasuk kepada orang-orang yang beruntung, sebagaimana Firman-Nya Ta'ala:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu" (Q.S. AsySyams:9).
3.  Ia adalah orang yang senantiasa berbuat baik (Ihsan)
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan". (Q.S. Ali Imran:134)
Ayat tersebut merupakan sanjungan atas sifat orang-orang yang bertaqwa yang dijanjikan surga oleh Allah swt, dan urusan mereka tidak melalaikan diri mereka dari keta'atan kepada Allah dan dari berinfak fisabilillaah, mereka itulah  orang-orang yang suka berbuat ihsan kepada makhluq Allah, kepada kerabat dekat dan orang lain dengan berbagai kebaikan. Demikianlah Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Rasulullah saw pernah bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
" Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun dengan (sodaqoh) sebutir kurma " (H.R. Bukhari).
4.   Ia adalah orang yang adil.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
"..Sesungguhnya Allah mencintai  orang-orang yang adil" (Q.S. alMaaidah:42, Q.S.alHujurat:9, Q.S. alMumtahanah:8).
Allah swt mencintai orang-orang yang berbuat adil dalam perkataan dan perbuatan, dan jika ia menghukumi maka menghukumi dengan Kitabullaah, karena keadilan sejati itu hanyalah keadilan hukum Allah, Dia berfirman :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
"...Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir " (Q.S. alMaaidah:44).
5.  Orang yang berperang di jalan Allah.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
" Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh".(Q.S. Ash Shaff : 4).
Sebagaimana jika kita lihat seorang pemilik bangunan yang begitu sangat tidak sukanya ia jika melihat bangunannya berantakan, demikian pula Allah Ta'ala tidak menyukai aturan-Nya diselisihi dan diceraiberaikan. Oleh karena itu Allah mencintai orang-orang beriman yang berada dalam barisan yang terorganisir, dan lihat pula perintah shaff dalam shalat berjama'ah mencerminkan sifat dari kekuatan dan kekompakan orang-orang beriman yang seharusnya diterapkan dalam setiap lini kehidupan.
6.   Orang yang sabar.
 وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
" ...Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar".
(Q.S.Ali Imran:146)
Salah satu pelajaran sabar dari selengkapnya ayat ini bahwa Allah swt mengisyaratkan sesungguhnya orang-orang yang beriman tidak menjadi lemah atas bencana yang menimpa mereka disebabkan peperangan yang dahsyat, tidak patah semangat dan tidak pula mereka menyerah, namun mereka terus berjuang dengan segenap jiwa raga mereka, inilah yang disebut sebenar-benarnya kesabaran, dan Allah swt mencintai mereka.  
Tidaklah keimanan itu hanya berupa ucapan saja melainkan mesti teruji dengan berbagai cobaan sehingga jelas mana orang-orang yang berjihad dan mana yang bersabar, Allah Ta'ala berfirman :
" Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad* diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar " (Q.S. Ali Imran:142).
*Jihad memiliki pengertian: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang hak.
7.    Ia adalah orang yang bertawakkal kepada Allah.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya".(Q.S. Ali Imran :159).
Jangan bersandar kepada makhluk karena segala urusan berada dalam genggaman Allah, sesungguhnya hakikat tawakkal adalah pembuktian takdir dan istirahatnya hati dari susah payahnya upaya perencanaan. (Lihat: Tafsir alQusyairy)
Maka merupakan suatu keharusan melakukan perencanaan dalam urusan apa pun, namun serahkanlah hasilnya kepada Yang Maha Memiliki dan Maha Mengurus. Karena sesungguhnya tawakkal itu hanyalah kepada Allah.
Allah swt mencintai orang-orang yang sabar dan bertawakkal, sehingga mereka dimasukan ke surga tanpa hisab, Rasulullah saw pernah bersabda :
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ  ..... فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ   قَالَ هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ  وَهَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامَهُمْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ قُلْتُ وَلِمَ قَالَ كَانُوا  لَا يَكْتَوُونَ   وَلَا يَسْتَرْقُونَ  وَلَا يَتَطَيَّرُونَ   وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ .
"Beberapa umat diperlihatkan kepadaku.....[redaksi haditsnya diringkas] Tiba-tiba aku melihat ada rombongan besar. Kata Jibril; 'Itulah umatmu, dan itulah tujuh puluh ribu orang yang pertama masuk surga tanpa dihisab tanpa diadzab.' Saya (Nabi saw) bertanya; 'Mengapa mereka bisa seperti itu? ' Jibril menjawab; 'Karena mereka tidak minta di obati (dengan cara) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal."
فَقَامَ إِلَيْهِ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ  فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ آخَرُ قَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ قَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ
Kemudian 'Ukkasyah bin Mihshan berdiri dan berkata: "doakanlah aku, agar Allah menjadikan diriku diantara mereka!" Nabi berdoa; "Ya Allah, jadikanlah dia supaya diantara mereka!" Lantas laki-laki lainnya berdiri dan berkata: "Jadikanlah aku diantara mereka!" Nabi menjawab: " 'Ukkasyah telah mendahuluimu". (Shahih Bukhari).
Sedikitnya tujuh kriteria diatas yang di isyaratkan alQuran menjadi petunjuk dan bimbingan dalam meraih cinta Allah Ta'ala.
    Terdapat pula tips dan trik dalam meraih cinta Allah Ta'ala dari salah seorang 'ulama yaitu Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijussalikin, beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa terdapat beberapa sebab yang dapat mendatangkan kecintaan Allah kepada hamba-Nya dan kecintaan hamba kepada Rabbnya , setidaknya ada sepuluh hal , yaitu :
أَحَدُهَا: قِرَاءَةُ القُرآنِ بِالتَّدَبُّرِ لِمَعَانِيهِ وَمَا أُرِيدَ بِهِ.
1. Membaca alQuran dengan merenungkan makna-maknanya dan apa yang dimaksud dengannya.
الثَّانيِ: التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ تَعَالَى باِلنَّوَافِلِ بَعدَ الفَرَائِضِ كَمَا فِي الحَدِيثِ القُدسِي: "وَلَا يَزَالُ عَبدِي  يَتَقَرَّبُ  إِلَيَّ  بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ" رواه البخاري.
2. Taqarrub(mendekatkan diri) kepada Allah Ta'ala dengan ibadah-ibadah yang sunnat setelah yang fardlu-fardlu sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi : "dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, hingga Aku mencintainya.." H.R. Bukhari.
الثَّالِثُ: دَوَامُ ذِكرِهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ بِاللِّسَانِ وَالقَلبِ وَالعَمَلِ وَالحَالِ فَنَصِيبُهُ مِنَ الْمَحَبَّةِ عَلَى قَدرِ هَذَا.
3. Senantiasa dzikrullah (mengingat Allah) pada setiap keadaan dengan lisan, dengan hati dan perbuatan dalam setiap kondisi, maka bagiannya dari mahabbah Allah sesuai tingkatan ini.
الرَّابِعُ: إِيثَارُ مُحَابِهِ عَلَى مُحَابِكَ عِندَ غَلَبَاتِ الهَوَى.
4. Lebih mengutamakan apa yang dicintai Allah diatas apa yang  engkau cintai ketika memerangi hawa nafsu.
الخَامِسُ: مُطَالَعَةُ القَلبِ لِأَسمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَمُشَاهَدَتُهَا وَتَقَلَّبَهُ  فِي رِيَاضِ هَذِهِ الْمَعرِفَةِ وَمَيَادِينِهَا.
5. Pengkajian hati terhadap nama-nama Allah dan sifat-Nya serta mengamatinya dan membolak-balik hati di dalam taman dan lapangan ma'rifat ini. 
السَّادِسُ: مُشَاهَدَةُ بِرِّهِ وَإِحسَانِهِ وَنِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ.
6.Menyaksikan kebaikan-Nya, kedermawanan-Nya dan nikmat-nikmat-Nya baik lahir maupun batin.
السَابِعُ: وَهُوَ أَعجَبُهَا: اِنكِسَارُ القَلبِ بَينَ يَدَيهِ.
7. Adalah yang paling menakjubkan , yaitu : Hancur luluhnya hati dihadapan-Nya.
الثَّامِنُ: الخَلوَةُ بِهِ وَقتَ النُّزُولِ الإِلَهِي آخِرَ اللَّيلِ وَتِلَاوَةُ كِتَابِهِ ثُمَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِالاِستِغفَارِ وَالتَّوبَةِ.
8. Berkhalwat (menyepi) dengan Allah swt pada waktu Allah turun di akhir malam, membaca alQuran, kemudian menutupnya dengan memohon ampun dan bertaubat.
التَّاسِعُ: مُجَالَسَةُ الْمُحِبِّينَ الصَّادِقِينَ وَ اِلتِقَاطُ أَطَابِ ثَمَرَاتِ كَلَامِهِم، وَلَا تَتَكَلَّم  إِلَّا إِذَا  تَرَجَّحتَ مَصلَحَةَ الكلَاَمِ  وَعَلِمتَ أَنَّ فِيهِ مَزِيدًا لِحَالِكَ وَمَنفَعَةً لِغَيرِكَ.
9. Berkumpul, bergaul di majelis orang-orang yang mencintai Allah dan orang-orang yang benar serta memetik buah pembicaraan terbaik mereka, dan janganlah engkau berbicara kecuali jika engkau telah mempertimbangkan maslahatnya dan engkau mengetahui bahwa didalamnya dapat meningkatkan kondisimu dan bermanfa'at bagi yang lain.
العَاشِرُ: مُبَاعَدَةُ  كُلِّ سَبَبٍ  يُحَوِّلُ بَينَ القَلبِ وَبَينَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
10. Menjauhi setiap sebab yang dapat mengalihkan  perhatian antara qalbu dengan Allah.
Demikian beberapa hal yang dapat menjadi motivasi bagi kita dalam Meraih Cinta Allah Ta'ala, semoga Allah memudahkan dan melembutkan hati kita untuk mengamalkannya.
Wallahul Muwaffiq. 

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik