24.5.18

Gbr. Yahudi Mengingkari Janji
Yahudi Mengingkari Janji
Q.S. Albaqarah: 83
Kebiasaan melanggar dan mengingkari janji tidak boleh ada dalam diri setiap muslim, oleh karena itu Allah swt mengingatkan kita agar jangan seperti kaum pembangkang dan suka mengingkari janji, ya merekalah Yahudi la’natullahi ‘alaihim, perjanjian dengan Allah saja dilanggar apalagi perjanjian dengan manusia. Jika ada yang mengaku beriman namun selalu menyalahi janji, apa bedanya ia dengan kaum yang di murkai Allah?, wal’iyaadzu billah.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
"dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling".
            Almitsaq (الميثاق) adalah العَهدُ الشَّدِيدُ المَؤَكَّدُ , yaitu suatu perjanjian yang sangat kuat yang telah ditetapkan. Dan terdapat dua macam, yaitu:
1. Perjanjian Khilqah dan Fitrah, dan  
2. Perjanjian Nubuwwah dan Risalah, inilah perjanjian yang dimaksud ayat diatas (‘Ahdu Nubuwah wa Risalah). Perjanjian inilah yang telah diambil atas mereka (Yahudi Bani Israil) melalui lisan Musa dan yang lainnya diantara para Nabi.[1]
            Allah swt telah mengambil perjanjian dari mereka dengan memerintahkan agar mereka tidak menyembah selain Allah. Allah berfirman: لا تعبدون إلا الله.
Makna العبادة (ibadah) adalah الذُّلُّ (kerendahan, kehinaan), dan  الخُضُوعُ (tunduk, merendahkan diri) [2]. Baca juga tentang pengertian ibadah di sini.
Hak Allah swt adalah senantiasa diibadahi dengan tidak menyekutukan kepada-Nya sesuatu apapun, kemudian setelah itu barulah hak sesama makhluq, dan yang paling ditekankan dan yang paling utama adalah hak kedua orang tua, oleh sebab itulah pada ayat diatas Allah swt menggandengkan antara Hak-Nya dan hak kedua orang tua, sebagaimana Firman-Nya [3] :
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
" dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu"  [4].
Dan Firman-Nya :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
" dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia "  [5]
Hingga sampai kepada ayat:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
" dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros".[6]
وَفِي الصَّحِيحَينِ عَنِ ابنِ مَسْعُودٍ، قُلتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ العَمَلِ أَفضَلُ؟ قَالَ «الصَّلَاةُ عَلَى وَقتِهَا» قُلتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ «بِرُّ الوَالِدَينِ» قُلتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
 وَلِهَذَا جَاءَ فِي الحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَن أَبِرُّ؟ قَالَ «أُمَّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَن؟ قَالَ «أُمَّكَ» قَالَ: ثُمَّ من؟ قال: «أباك»  ثم أدناك ثم أدناك» .[7]
Dan terdapat dalam hadits riwayat Shahihain (Bukhari & muslim) dari Ibnu Mas’ud, aku bertanya : " Ya Rasulullah apakah ‘amal yang paling utama?, Rasulullah bersabda:" Shalat pada waktunya", aku bertanya lagi:" kemudian apa lagi?, Beliau bersabda:" Berbuat baik kepada kedua orang tua", aku bertanya lagi: " kemudian apa lagi?", beliau bersabda:"Berjihad di jalan Allah" ".
Dan terdapat pula dalam hadits yang shahih, bahwa seseorang bertanya: "Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbuat baik?", Rasulullah bersabda : " Ibumu", ia bertanya lagi:" kemudian siapa lagi?", Rasulullah bersabda : "Ibumu", ia bertanya lagi:" kemudian siapa lagi?", Rasulullah bersabda :"Bapakmu, kemudian orang yang terdekat denganmu dan seterusnya". (Tafsir Ibnu Katsir).
            Allah ta’ala pun memerintahkan agar berbuat baik kepada keluarga terdekat.
Makna إِحسَاناً بِذِي القُربَى adalah berbuat baik kepada  صَاحِبَ القُرَابَةِ  yaitu keluarga terdekat, mencakup yang terdekat dari ibu dan bapak.
Kemudian الإِحسَانُ إِلَى اليَتَامَى , makna  اليتامى  yang merupakan bentuk jamak dari يَتِيمٌ ,yaitu  orang yang ditinggal mati bapaknya sebelum usianya mencapai dewasa (baligh) baik laki-laki atau perempuan.  Allah Ta’ala berwasiat dengan anak-anak yatim, karena anak-anak yatim tersebut tidak memiliki orang yang membesarkan mereka... dan tidak memiliki tempat bersandar  disebabkan bapak mereka telah meninggal, maka mereka membutuhkan belas kasihan.., kasih sayang dan perlindungan.., Kemudian Allah swt memerintahkan berbuat baik kepada orang-orang miskin, Firman-Nya  والمَسَاكِينَ , bentuk jamak dari مِسكِينٌ ,yaitu الفَقِيرُ orang yang melarat. Sesungguhnya manusia ketika ia menjadi kaya berpotensi untuk sewenang-wenang, dan ia akan menambah kekayaannya, akan memiliki kedudukan dan berpangkat. Dan ketika ia menjadi faqir maka akan sebaliknya. Alfaqiir yaitu orang yang jauh dari kecukupan atau orang yang berpenghasilan sangat jauh dibawah standar. Dan AlMiskiin yaitu orang yang berpenghasilan separuh dari cukup tapi masih dibawah standar.[8]  Dengan demikian yang faqir itu lebih melarat dari pada yang miskin.
            Allah Ta’ala berfirman : وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسناً  "serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia".
وَأخرج ابْن أبي حَاتِم عَن ابْن عَبَّاس فِي قَوْله {وَقُولُوا للنَّاس حسنا} قَالَ: الْأَمرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنكَرِ
Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai Firman-Nya وَقُولُوا للنَّاس حسنا , Ibnu ‘Abbas berkata : yaitu perintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. [9]
وَقَالَ الإِمَامُ أَحمَدُ: حَدَّثَنَا رَوحٌ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الخَزَّاز، عَن أَبِي عِمرَانَ الجَوني، عَن عَبدِ اللَّهِ بنِ الصَّامِتِ، عَن أَبِي ذَرٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "لَا تَحقِرَنَّ مِنَ الْمَعرُوفِ شَيئًا، وَإِن لَم تَجِد فَالقَ أَخَاكَ بِوَجهٍ مُنطَلِقٍ.
Telah berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al Khazaz dari Abu ‘Imran AlJauni dari ‘Abdullah bin Shamit dari Abu Dzar dari Nabi saw, beliau bersabda: "Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, jika engkau tidak mendapatkan (sesuatu untuk bersedekah), maka temuilah saudaramu dengan wajah yang ceria." [10] (H.R. Imam Ahmad).
Allah Ta’ala berfirman :
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكاةَ
"dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat".
yaitu khitabnya (jalur pembicaraan) kepada Yahudi Bani Israil agar mereka berbuat baik dengan melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan sholat dan zakat yang mereka semua berpaling dan meninggalkan semua perintah Allah setelah mereka mengetahui ilmunya, kecuali hanya sebagian kecil diantara mereka.
 Allah Ta’ala memerintahkan mereka mendirikan sholat, karena sesungguhnya sholat itu memperbaiki jiwa dan membersihkannya dari kekotoran/keburukan moral, dan diperindah dengan berbagai macam keutamaan, sedangkan ruhnya itu adalah Ikhlas kepada Allah dan khusyu’(takut, merendahkan diri) atas Keagungan dan Kekuasaan-Nya. [11] Baca juga tentang esensi sholat di sini.
Kaum Bani israil diperintahkan untuk menunaikan zakat, yaitu Allah Ta’ala mewajibkan atas mereka yang berkecukupan agar mengeluarkan sebagian harta mereka.
Allah ta’ala telah memerintahkan hal yang serupa kepada umat ini sebagaimana tersurat dalam AlQuran surat AnNisa:36, FirmanNya:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
"sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh [12]dan teman sejawat, Ibnu sabil[13] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,".
Firman Allah Ta’ala :
ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
 "kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling",
yaitu kalian tidak memelihara perjanjian tersebut dengan mengamalkannya, bahkan kalian malah berpaling dan tidak memperdulikannya sedikitpun.[14]
Demikianlah sikap mereka Yahudi bani Israil terhadap peraturan Allah, selalu melanggarnya, mereka berbuat musyrik kepada Allah, mereka bakhil dengan hartanya, tidak mau menafkahkan hartanya dijalan Allah, tidak menegakkan sholat, tidak mau menunaikan zakat, dan mereka juga meninggalkan amar ma’ruf nahyi munkar dan segala urusan yang berkaitan dengan syari’at Allah Ta’ala, kecuali hanya sebagian kecil saja dari mereka yang mau mengamalkan syari’at Allah Ta’ala.
Dengan demikian mudah-mudahan kita dapat mengambil pelajaran dari ayat yang mulia diatas, jangan sampai kelakuan kita mencocoki orang-orang yang dimurkai Allah. Sedikitnya kita mesti cek dan ricek, apakah prilaku kita selama ini sesuai dengan aturan Allah? ataukah malah mirip dengan mereka kaum Bani Israil yang kafir dan munafiq ?...Hanya kepada Allah kita berlindung dari keburukan hawa nafsu yang condong kepada kemaksiyatan.
Semoga Allah Ta’ala membimbing hati kita agar senantiasa tunduk dan patuh terhadap syari’at-Nya. Aamiin ya Mujiibassaailiin.

[1] . Lihat Tafsir AlMaraghi.
[2] . Tafsir al’Utsaimin
[3]  . Tafsir Ibnu Katsir_Maktabah Syamilah
[4]  . Q.S. Luqman:14
[5]  . Q.S. AlIsraa:23 _Mengucapkan kata Ah kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan  mereka dengan lebih kasar daripada itu.
[6]  . Q.S AlIsraa:26.
[7]  . Tafsir Ibnu Katsir_Maktabah Syamilah.
[8]  . Tafsir Al’Utsaimin.
[9]  . Addurul Mantsur_Maktabah Syamilah.
[10] .Tafsir Ibnu Katsir_Maktabah Syamilah.
[11] . Tafsir AlMaraghi_Maktabah Syamilah.
[12]  . Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim (Quran inword).
[13]  . Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.(Quran inword).
[14]. Tafsir AlMaraghi.

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik