Refleksi Rahmat Bagi Seluruh Ummat
Islam Rahmatan Lil Alamin
Islam Rahmatan Lil Alamin
Oleh: Den Herians
Menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain, bukan hanya milik seorang muslim. Oleh karena itu semua orang, baik ia beragama ataupun tidak, terkait dengan nilai manfaat dan nilai madharat, tergantung attitude yang tertanam dalam dirinya, keluarga dan lingkungan.
Adapun dalam ajaran Islam, setiap muslim harus menjadi manusia yang bermanfaat secara menyeluruh, tidak hanya memberi manfaat dalam segi hubungan sosial, tapi juga bermanfaat dalam segi mental spiritual yang interaksinya terkadang dianggap menyinggung sensitivitas terhadap perbedaan budaya dan agama. Disinilah pentingnya memahami secara utuh apa yang dimaksud Islam menjadi Rahmat Bagi Seluruh Ummat.
Sebagai tokoh panutan, adalah Muhammad Rasulullah saw yang merefleksikan sifat rahmat dalam kehidupan kesehariannya, ini di buktikan dalam fakta sejarah Islam, sebelum beliau diutus oleh Allah pun sebagai seorang Rasul terpilih, beliau adalah seorang manusia yang jauh dari "cacat sikap", oleh karena itu Beliau termasuk kepada orang yang dihormati sebagai seorang yang "Credible" bisa anda baca biografinya di artikel Muhammad dan Integritas Islam. Dan sifat belas kasihnya dalam kehidupan bermasyarakat, diungkapkan oleh Allah swt dalam alQuran yang menunjukan ketinggian moral yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia.
Sebagai tokoh panutan, adalah Muhammad Rasulullah saw yang merefleksikan sifat rahmat dalam kehidupan kesehariannya, ini di buktikan dalam fakta sejarah Islam, sebelum beliau diutus oleh Allah pun sebagai seorang Rasul terpilih, beliau adalah seorang manusia yang jauh dari "cacat sikap", oleh karena itu Beliau termasuk kepada orang yang dihormati sebagai seorang yang "Credible" bisa anda baca biografinya di artikel Muhammad dan Integritas Islam. Dan sifat belas kasihnya dalam kehidupan bermasyarakat, diungkapkan oleh Allah swt dalam alQuran yang menunjukan ketinggian moral yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
" sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin".
(Q.S. AtTaubah:128).
Ayat diatas melukiskan bentuk rahmat bagi seluruh ummat yang dikaruniakan Allah kepada Rasul Terkasih, yang dapat kita cermati inti dari Rahmatan lil'alamin bukan hanya belas kasih dalam segi sosial, melainkan mencakup keimanan demi keamanan dan kebahagiaan di kehidupan akhirat.
Di dalam ayat yang lain Allah Ta'ala secara tegas menyatakan bahwa Muhammad saw diutus membawa risalah Islam untuk menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam". (Q.S. AlAnbiya : 107).
Adapun yang dimaksud menjadi Rahmatan lil 'alamin, pertama ditinjau dari segi bahasa, kata الرَّحْمةُ merupakan bentuk mashdar dari رَحِمَ يَرحَمُ yang bermakna : الرِّقَّةُ والتَّعَطُّفُ والمَرْحَمَةُ ,yaitu kelembutan, kasih sayang dan belas kasih(merasa kasihan).[1]
Yang kedua, Nabi saw diutus sebagai Nabi dan Rasul terakhir adalah untuk menyempurnakan risalah Islam yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya, dan Beliau saw diutus untuk menegakkan syari'at Islam bukan hanya untuk satu kaum, melainkan untuk seluruh ummat yakni Islam rahmatan lil alamin.
Sebagaimana ahli tafsir, Prof.Dr.Wahbah Zuhaily menjelaskan makna rahmatan lil'alamin :
أَي وَمَا أَرسَلنَاكَ يَا مُحَمَّدُ بِشَرِيعَةِ القُرآنِ وَهَديِهِ وَأَحكَامِهِ إِلَّا لِرَحمَةِ جَمِيعِ العَالَمِ مِنَ الإِنسِ وَالجِنِّ فِي الدُّنيَا وَالآخِرَةِ، فَمَن قَبِلَ هَذِهِ الرَّحمَةَ، وَشَكَرَ هَذِهِ النِّعمَةَ، سَعِدَ فِي الدُّنيَا وَالآخِرَةِ، وَمَن رَدَّهَا وَجَحَدَهَا، خَسَرَ الدُّنيَا وَالآخِرَةَ.[2]
Yaitu : Dan tidaklah Kami mengutusmu hai Muhammad dengan membawa syari'at alQuran dan petunjuknya, hukum-hukumnya, melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam , dari jin dan manusia di dunia dan akhirat, maka siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukurinya, maka dia beruntung dunia akhirat, dan siapa yang menolaknya, maka dia rugi dunia akhirat.
Ahli tafsir yang lain, alQaththan memaknai ayat tersebut, yaitu :
وَمَا أَرسَلنَاكَ يَا مُحَمَّدُ بِهَذَا الدِّينِ القَوِيمِ ، وَالقُرآنِ الكَرِيمِ اِلَّا رَحمَةً عَامَّةً لِلعَالَمِينَ
"Dan tidaklah kami mengutusmu hai Muhammad dengan agama yang lurus ini (Islam) dan alQuran alKarim, melainkan sebagai rahmat yang umum bagi semesta alam".[3]
Maka demikianlah Rasulullah saw diutus bukan hanya untuk satu kaum saja seperti Nabi-nabi sebelumnya, melainkan diutus kepada seluruh ummat, artinya seluruh manusia harus beriman kepada Nabi saw dan menerima syari'at yang dibawanya, jika ingin mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan juga kepada bangsa jin, sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lain:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“ Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” ( Q.S al Furqon:1 ).
Yang para ahli tafsir menjelaskan bahwa bagi seluruh alam maksudnya adalah jin dan manusia.
Dalam ayat yang lain alQuran secara tegas menerangkan bahwa Rasulullah saw diamanati risalah Islam memang untuk seluruh alam bahkan bangsa jin, sebagaimana FirmanNya Ta'ala :
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih".(Q.S. Al Ahqof : 29-31).
Dari penjelasan 'ulama tafsir diatas dapat kita fahami bahwa Rahmat Allah swt kepada seluruh ummat itu maksudnya risalah Islam yang harus menjadi jalan hidup semua manusia bahkan jin, yang menjadi jalan keselamatan dunia akhirat. Namun bagi yang enggan dan menolak, jangankan Rahmat Allah, kasih sayang orang beriman pun tidak untuk mereka, sebagaimana FirmanNya Ta'ala :
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22).
Dengan demikian Islam sebagai rahmatan lil'alamin itu tidak berarti toleransi yang kebablasan terhadap kemunkaran, dalam penyimpangan agama, aqidah dan akhlak. Melainkan Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh ummat, karena Allah menyayangi manusia agar mereka berada didalam RahmatNya tersebut sehingga mereka menjalani hidup dalam keta'atan kepadaNya, agar mereka tidak menjatuhkan diri kedalam kebinasaan.
Maka Allah melarang orang-orang beriman menyelisihi Rahmat-Nya tersebut, Allah Ta'ala berfirman :
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar Ruum: 31-32).
Ibnu Jarir menjelaskan :
تَمَّتِ الرَّحمَةُ لِمَن آمَنَ بِهِ فِي الدُّنيَا وَالآخِرَةِ , وَمَن لَم يُؤمِن بِهِ عَوفَي مِمَّا أَصَابَ الأُمَمَ قَبلُ
Rahmat Allah itu sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang mau beriman kepada Nabi saw. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan ditahannya musibah/adzab sebagaimana yang menimpa umat terdahulu” [4].
Demikian pula penjelasan alQurtuby dengan mengutip penjelasan Ibnu 'Abbas :
كَانَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِجَمِيعِ النَّاسِ فَمَنْ آمَنَ بِهِ وَصَدَّقَ بِهِ سَعِدَ، وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ سَلِمَ مِمَّا لَحِقَ الْأُمَمَ مِنَ الْخَسْفِ وَالْغَرَقِ
“Muhammad saw adalah rahmat bagi seluruh manusia. Bagi yang beriman dan membenarkan ajarannya saw, maka akan mendapat kebahagiaan. Bagi yang tidak beriman kepada beliau, diselamatkan dari bencana yang menimpa umat terdahulu berupa ditenggelamkan ke dalam bumi atau ditenggelamkan dengan air”[5]
Sebagai kesimpulan, Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam merupakan jalan hidup yang lurus yang semua manusia seharusnya beriman dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga setiap individu saling memberi manfaat dalam aspek sosial dan spiritual.
Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam telah direfleksikan oleh Nabi saw sebagai Rasul, sebagai kepala keluarga, sekaligus sebagai kepala negara, yang juga selanjutnya di pelihara oleh para Shohabat Radhiyallaahu 'anhum. Sebagai dasar pelaksanaannya, alQuran menegaskan :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah". (Q.S. AlAhzab:21).
Maka tidak perlu mengambil uswah (teladan) kepada yang lain, karena Nabi saw sudah cukup untuk dijadikan teladan, siapa yang mengambil uswah Nabi saw dalam kehidupannya, dia lah yang patut mendapat kecintaan Allah swt.
FirmanNya Ta'ala :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
" Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku (Muhammd saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. Ali Imran:31) .
Nabi Muhammad saw sendiri pernah bersabda:
وَإِنَّه -واللهِ-لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي
" Sesungguhnya demi Allah, kalau saja Musa masih hidup di tengah-tengah kalian, tidak halal baginya kecuali harus mengikutiku".[6]
Dengan demikian seorang Muslim wajib memahami kepribadian Nabi Muhammad secara utuh dalam mengamalkan alQuran, tidak parsial, bukan hanya kepribadiannya sebagai Nabi dan Rasul, tetapi juga sebagai seorang kepala keluarga, dan juga pemimpin ummat. Maka Islam sebagai rahmat bagi seluruh ummat mengatur manusia dalam berbagai hubungan, bukan hanya dalam hal akhlak kepada setiap makhluk, melainkan juga dalam hal menerapkan syari'at Islam pada diri sendiri dan keluarga, selanjutnya tetangga hingga masyarakat, dan yang lebih luas lagi dalam negara dan semua tatanan dunia. Inilah rahmatan lil'alamin, sebagai refleksi rahmat bagi seluruh ummat, yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga [7] .
Wa Allahulmuwaffiq..
[6] Musnad Ahmad 3 : 387 dalam al-Maktabah as-Syamilah. Hadits ini dinilai hasan oleh al-Albani. Lihat Irwa`ul-Ghalil 6 : 34. (Menangkal Virus Islam Liberal; oleh : Nashrudin Syarif)
[7] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (Q.S. AtTahrim:6).

0 Comments
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik