13.5.18

7 Golongan Yang Dinaungi Allah Di Akhirat
Oleh : Den Herians
      Semua makhluq didunia ini tidak bisa hidup sendiri, mesti saling membutuhkan bahkan saling menaungi dan melindungi, sebagaimana halnya manusia pelaku kebaikan mereka saling melindungi, demikian juga sebaliknya.

       Boleh jadi di dunia ini, pelaku kejahatan lebih memiliki perlindungan dan penjagaan daripada pelaku kebenaran, sebagai contoh yang sering dan sudah biasa terjadi di dalam satu negara yang rusak, bobrok akibat penyakit korup dan krisis akhlak yang menjangkit dan mewabah para petingginya, yakni mereka para koruptor dibiarkan bahkan dilindungi, sedangkan pelaku kebenaran dan kejujuran malah ditindas dan dizhalimi karena kesewenang-wenangan para pemegang jabatan, sehingga hukum dengan mudah dipermainkan.
Gbr. 7 Golongan Yang Dinaungi Allah

Namun lain hal di negeri akhirat, bagi siapa saja yang beriman kepada kerasulan Muhammad saw, yang beriman dan menyakini apa yang disabdakannya, maka ketahuilah bahwa tiada sedikitpun perlindungan di akhirat kecuali hanya pelindungan-Nya Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits shahih :
عَن أَبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه. متفق عليه.
Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda :
Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka dalam Naungan-Nya, pada hari tiada naungan kecuali hanya Naungan-Nya :
1.      Imam/Pemimpin yang adil.
2.      Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-nya.
3.      Seorang yang hatinya terkait ke masjid.
4.   Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena Allah.
5.     Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh perempuan yang mempunyai kedudukan lagi cantik, kemudian ia berkata : " Sungguh Aku takut kepada Allah" .
6.     Seorang yang bershadaqah, ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu yang di infaqkan tangan kanannya.
7.  Dan seorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesunyian, lalu berlinang air matanya.
(H.R Bukhari dan Muslim)
       Mengenai 7 golongan yang mendapat naungan di akhirat ini, Syaikh Muhammad 'Ali asShaabuuni menjelaskan dalam kitab Min Kunuuzissunnah bahwa yang dimaksud ظِلَّ (naungan) pada hadits di atas yaitu naungan secara hakiki, dimana mereka orang-orang yang mendapat kebahagiaan, berada dibawah naungan 'arasy pada hari kiamat, berdasarkan keterangan sabda nabi saw :
يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
"Hari yang tidak ada naungan kecuali Naungan-Nya"
, maka sinar dan teriknya panas matahari tidak akan menyentuh mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud naungan, yaitu karomah (kemuliaan) dan himayah(perlindungan), lafazh tersebut merupakan kinayah dari ri'aayah (penjagaan, perlindungan) dan himayah. Namun pendapat yang paling rajih adalah pendapat yang pertama.
Lafazh   فِي ظِلِّهِ  , disandarkan kepada Allah, merupakan  idhofatu tasyriif  , yakni untuk memuliakan dan mengagungkan-Nya.
      Dan yang dimaksud الإِمَامُ العَادِلُ (Imam/pemimpin yang adil) yaitu penguasa atau hakim, mencakup alqadhiy (yang mengadili) dan setiap orang yang dikuasakan jabatan kepadanya, dan orang yang adil dalam menghukumi dan memutuskan perkara diantara manusia bukan dengan hawa nafsu yang condong kepada harta (suap/sogok).
      Kemudian seorang yang hatinya terpaut ke masjid (مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ), yaitu ia yang sangat mencintai masjid, ia menunggu sholat setelah sholat dan selalu berjama'ah, tidak mengakhir-akhirkan waktu sholat, sebagai mana Allah Ta'ala menyebutkan klasifikasinya dalam firman-Nya :
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ
" dan orang-orang yang memelihara shalatnya" (Q.S. alMa'aarij:34).
      Kemudian orang yang saling mencintai karena Allah,
تَحَابَّا فِي اللَّهِ
Yakni karena mengharap Allah bukan karena tujuan duniawi. Mereka bertemu dan berpisah karena kecintaan berada di jalan Allah, sebagai isyarat bahwa kecintaan yang kuat dari hati kedua orang tersebut  menguatkan kecintaan karena Allah 'Azza wa Jalla, sebagai mana dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda :
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
"Siapa yang mencintai karena Allah dan membenci karena Allah ,memberi karena Allah dan menahan karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan keimanannya". (Sunan Abu Dawud, AlBaniy menshahihkannya).
     Dan ke 5 yang mendapat naungan Allah di akhirat, yaitu seorang laki-laki yang tidak jatuh pada rayuan perempuan, lafazh ذَاتُ مَنْصِبٍ , yaitu perempuan yang memiliki prestise dan kedudukan tinggi dari segi nasab (keturunan)atau kehormatan, atau kekuasaan dan harta.
Kemudian lafazh أَخَافُ اللَّهَ  yakni laki-laki tersebut memiliki sifat Rahbah, ia merasa takut akan adzab Allah, dan ini sebagai simbol keimanan, sebagaimana Firman-Nya Ta'ala :
وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
".. tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar beriman" (Q.S. Ali Imran : 175).
      Kemudian orang yang berinfaq sehingga tangan kirinya tidak tahu yang di infaqkan tangan kanannya,
lafazh شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ , asysyimal dan alyamin, kedua tangan yang ada di sisi manusia, ini merupakan ungkapan matsal (perumpamaan) sebagai taudhih (illustrasi). Jika kita asumsikan, tangan kiri tersebut sebagai seseorang yang terjaga, dan ada seseorang bershadaqah dengan tangan kanannya, maka seseorang yang ada di sebelah kiri tersebut tidak menyadarinya.
     Dan yang ke 7 yang akan mendapat naungan Allah di akhirat yaitu seorang yang mengingat Allah. Lafazh ذَكَرَ اللَّهَ ,dari lafazh الذِّكر , dengan mengkasrah huruf dzal berarti berdzikir dengan lisan, dan dari lafazh التَّذَكُّر yakni berdzikir dengan pikiran dan hati, yaitu mengingat dan menyebut-nyebut keagungan Allah dan ketinggian dan kebesaran-Nya lalu ia mengangis karena takut kepada-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Maka yang dimaksud dengan dzikir di sini adalah adzdzikrul qalbiy (dzikir dengan hati).  Adapun lafazh خَالِيًا  yakni di kesunyian, jauh dari orang-orang supaya menjadi lebih dekat kepada ikhlash dan lebih jauh dari riya. 
Dan lafazh فَفَاضَتْ عَيْنَاه  (mengalir air matanya), sekali lagi ini merupakan gambaran ketakutan kepada Allah dan kuatnya keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda :
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
"Dua mata yang tak akan disentuh api neraka : Mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang begadang karena berjaga dijalan Allah "
(Sunan Tirmidzi, albani mensahihkannya).
      Hadits 7 naungan Allah di akhirat tersebut diriwayatkan oleh seorang sahabat yang mulia yaitu Abu Hurairah r.a, nama Abu Hurairah merupakan kunyah (julukan) dari Rasulullah saw, nama hakikinya adalah 'Abdurrahman bin Shakhr adDausiy, beliau radhiyallaahu 'anhu merupakan salah satu shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi saw karena beliau selalu menemani Rasulullah saw. Abu Hurairah r.a memeluk Islam pada tahun ke 7 hijrah ditahun Khaibar, dan beliau r.a meninggal di Madinah Munawarah pada tahun 57 H.
      Dalam hadits yang mulia tersebut terdapat pembagian kriteria dan penjelasan yang tinggi lagi mulia kepada mereka yang beruntung dan taat, yaitu orang-orang yang mengalir bagi mereka karomah ilahiyah (kemuliaan ilahi), kebahagiaan yang abadi didalam tempat tinggal yang kekal penuh kenikmatan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan di dunia berupa keshalihan-keshalihan amal, dan mereka disifati dengan keindahan sifat-sifat tersebut.
     Rasulullah saw menerangkan kepada kita tentang pertolongan Allah dan Rahmat-Nya berupa naungan dibawah 'arasy Allah Yang Maha Mulia, bagi tiap-tiap orang yang disifati dengan salah satu sifat dari 7 golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Beliau saw telah merincinya dengan jelas, supaya jiwa orang-orang beriman terbakar semangatnya dan segera bergerak serta bangkit ruhul jihadnya untuk beramal shalih dengan bersungguh-sungguh  dan ikhlash, agar mereka menempuh jalan yang lurus, agar mereka meneladani hamba-hamba Allah yang terpilih dan suci dari hamba-hamba- Nya yang shalih.
     Sejatinya Rasulullah saw menyeru untuk menjaga keadilan dan menjauhi perbuatan zhalim dan menjaga perkara-perkara kaum muslimin baik itu dalam wilyah secara umum ataupun khusus. Maka berlaku adil itu adalah syari'at Allah sebagaimana Allah perintahkan, dan Allah swt murka dan benci kepada semua kezhaliman bagaimanapun bentuknya. Maha benar Allah dengan Firman-Nya :
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
" Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (Q.S Shaad : 26).
     Yang kedua Rasulullah saw menyeru dan mengajak kepada para pemuda untuk bersegera menuju ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya, dari semenjak permulaan hidup mereka, demi kebahagiaan dan kesuksesan, supaya mereka menjadi lelaki yang memiliki masa depan gemilang menjadi generasi yang ideal sebagai suriteladan yang akan menyuarakan Islam. Sebagaimana alQuran menyanjung para pemuda Kahfi, Firman-Nya Ta'ala :
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
".. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk"  (Q.S. AlKahfi : 13).
Para pemuda adalah tumpuan harapan dan penerus masa depan.
     Kriteria yang ketiga adalah sanjungan terhadap lelaki yang shalih yang hatinya makmur dengan keimanan, hati dan anggota tubuhnya selalu terkait dan terikat dengan dzikrullaah dengan jalan memelihara sholat sebagai tiang agama, kecintaannya memakmurkan masjid meresap dalam hatinya, sangat mencintai untuk selalu bergabung dalam barisan shaf di rumah-rumah Allah. Dan Allah menyanjung kriteria ini dalam alQuran :
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
" Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.  Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sholat..." (Q.S. AnNuur : 36-37).
    Kemudian kriteria yang ke-4 , Nabi saw menyeru untuk saling mencintai di jalan Allah, hanya untuk mengharap wajah Allah, tidak bertujuan untuk nilai duniawi atau menuntut yang bersifat material atau keuntungan dengan jalan yang hina. Dan tiada lain perkara agama itu adalah kecintaan berada di jalan Allah, bertemu dan berkumpul diatas keridhoan-Nya, bertemu diatas jalan dakwah yang haq yang mana Rasulullah saw datang membawanya, agar cinta tersebut menjadi suci bersih dan murni.
   Kriteria selanjutnya dalam hadits tersebut memperlihatkan ketinggian gambaran manusia dalam kesucian, kemurnian dan kebersihannya. Yakni kesucian perasaan dan jiwa, kesucian iman yang menjaga pemeluknya dari tergelincir kedalam jurang kehinaan, apakah itu berupa fitnah ataupun syahwat seksual yang secara realita ada pada tampilan perempuan yang cantik, bergelimang harta dan kedudukan, ia mengajak dan merayu seorang lelaki kepada syahwatnya, ia menggoda nya untuk berbuat fahsya, akan tetapi kesucian iman menjauhkan lelaki tersebut dari semua godaan fahisyah karena keimanannya membuat dia takut kepada Allah. Subhaanallaah... Allaahu Akbar..
     Kriteria yang ke-6 yang akan mendapat naungan Allah di akhirat, telah kita lihat dalam penjelasan diatas, kemuliaan bayan dari Rasulullah saw, begitu indahnya illustrasi yang beliau sampaikan bagaimana ihsannya seseorang yang bershadaqah dengan shodaqah yang tersembunyi dari penglihatan manusia, tiada lain hanya demi mengharap keridhoan Allah swt, sehingga dilukiskan dengan tangan kiri yang paling dekat dengannya saja tidak menyadari shodaqah tangan kanannya di jalan Allah.
   Dan yang terakhir yang akan mendapat naungan Allah di akhirat, Rasulullah saw menutup sabdanya dengan menyampaikan keutamaan menangis karena takut kepada Allah. Maka milik Allah lah sebaik-baik petunjuk rasul dan sebaik-baik hikmah dan pengertian, itulah petunjuk kenabian dan hikmah nya.
   Demikian secara ringkas syarah hadits 7 Golongan Yang Dinaungi Allah Di Akhirat , semoga kita termasuk salah satunya dari golongan yang berbahagia tersebut..aamiin.
Wallaahulmusta'aan..
__________________
Disarikan dari kitab :
من كنوز السنة , محمد علي الصابوني

2 Comments - 7 Golongan Yang Dinaungi Allah

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik

  1. Saya Baru sempat membaca buku abi :),,,
    Ke-7 ciri2 diatas sangat dekat dengan kehidupan kita ya, semoga saya dijauhkan dari perbuatan buruknya karena ingin tergolong kepada orang² yang dinaungi Allah SWT.
    Saya akan terus belajar menanamkan dalam diri supaya menjadi manusia yang bermanfaat selama hidup didunia.
    Ada beberapa kata yang belum mengerti tapi thanks bacaannya bermanfaat sekali.

    BalasHapus