Lintasan
Memuat artikel terbaru...

Penyebab Manusia Menyelisihi Kebenaran

Penyebab Manusia Menyelisihi Kebenaran: Antara Kedengkian dan Kezaliman Hati

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahmannirahim.

Pada artikel sebelumnya, kita telah mengulas awal mula terjadinya perselisihan manusia dalam beragama. Kita memahami bahwa pada mulanya seluruh manusia berada di atas satu standar fitrah yang sama, yaitu agama tauhid (Islam).

Namun, sebuah pertanyaan besar kerap mengusik pikiran kita: Mengapa manusia bisa berpaling dan menyelisihi kebenaran (al-Haq), padahal petunjuk Ilahi sudah sangat jelas? Apa faktor utama yang membuat hati manusia enggan menerima kebenaran tersebut?

1 Akar Masalah: Kedengkian dan Kezaliman (Baghyan Bainahum)

Al-Qur'an secara eksplisit mengidentifikasi bahwa pemicu utama perselisihan akidah, mazhab, dan akhlak di antara manusia bukanlah karena samar-samarnya petunjuk, melainkan karena dorongan internal hati manusia itu sendiri, yakni baghyan bainahum (kedengkian dan kezaliman di antara mereka).

Mengenai hal ini, Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan yang sangat bernas:

ูˆَู‚َูˆู„ُู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ : «baghyan bainahum» ุงَูŠْ ุญَุณَุฏุงً ูˆَุธَู„ِู…ًุง . ุซُู…َّ ุฃَุฑุดَุฏَ ุฅِู„َู‰ ุงู„ِุงูŠู…َุงู†ِ ุงู„ุตَّุญِูŠุญِ ูŠَู‡ุฏِูŠ ุงู„ู†َّุงุณَ ุงِู„َู‰ ุงู„ุญَู‚ِّ ูِูŠ ู‚َูˆู„ِู‡ِ (ูَู‡َุฏَู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠู† ุขู…َู†ُูˆุงْ . . .) ูَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ูŠَู‡ุชَุฏُูˆู†َ ุงِู„َู‰ ู…َุง ุงุฎุชَู„َูَ ุงู„ู†َّุงุณُ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَู‚ِّ . ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„َّุฐِูŠ ูŠُูˆَูِّู‚ُู‡ُู…ْ ุงِุฐَุง ุงَุฎู„َุตُูˆุง
Terjemahan dan Penafsiran:
"Firman Allah Ta’ala: 'Baghyan bainahum' bermakna kedengkian (hasad) dan kezaliman. Kemudian Allah membimbing kepada iman yang benar yang menuntun manusia kepada al-Haq (kebenaran), sebagaimana firman-Nya: 'Fahadallฤhulladhฤซna ฤmanลซ...' (Maka Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman). Orang-orang beriman akan memperoleh petunjuk menuju kebenaran atas apa yang diperselisihkan oleh manusia. Dan Allah-lah yang memberikan taufik kepada mereka apabila mereka benar-benar ikhlas."
— Tafsir Al-Qaththan (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
2 Konteks Modern: Mengapa Hati Menolak Kebenaran?

๐Ÿ“Œ Relevansi Sosiologis dan Bias Informasi Modern

Jika ditarik ke dalam konteks zaman sekarang, sifat baghyan (kedengkian dan ego kezaliman) bermetamorfosis menjadi fenomena psikologis seperti confirmation bias (kecenderungan hanya mau menerima informasi yang disukai) dan echo chamber (situasi terisolasi dalam kelompok yang sependapat untuk membenarkan prasangka sendiri).

Di era media sosial saat ini, seseorang sering kali menolak kebenaran bukan karena kurangnya data atau argumen ilmiah, melainkan karena gengsi sosial, kesombongan kelompok, atau kedengkian terhadap pihak yang membawakan kebenaran tersebut. Hawa nafsu dan ke-ego-an inilah yang menjadi benteng terkuat yang memisahkan manusia dari petunjuk kebenaran.

Sejak masa manusia pertama, Allah Ta’ala tidak pernah menurunkan petunjuk melainkan kepada murni tauhidullah. Namun, ketika penyakit hasad dan kezaliman menguasai hati, manusia mulai menyelisihi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Dampaknya, manusia terjerumus menjadi makhluk yang menganiaya dirinya sendiri dan sesamanya.

3 Kunci Meraih Taufik: Keikhlasan Hati

Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qaththan, jalan keluar dari penyesatan baghyan ini adalah Keikhlasan (Ikhlas). Allah hanya akan memberikan taufik-Nya kepada hamba-hamba yang membersihkan hatinya dari kepentingan ego, kesombongan, dan kedengkian.

Ciri-ciri orang yang mendapatkan taufik kebenaran di tengah perselisihan:

  • Memiliki Ketundukan pada Dalil: Senantiasa menempatkan kebenaran wahyu di atas hawa nafsu dan opini pribadi.
  • Pembersihan Hati (Tazkiyatun Nafs): Bebas dari sifat hasad, iri dengki, dan fanatisme kelompok yang buta.
  • Keikhlasan Meminta Petunjuk: Secara konsisten memohon petunjuk (hidayah) hanya kepada Allah Ta'ala.
4 Penutup & Maraji' (Referensi)

Kesimpulannya, menyelisihi kebenaran bukanlah masalah ketidakmampuan akal dalam berpikir, melainkan masalah penyakit hati. Untuk tetap teguh di atas al-Haq, kita perlu senantiasa meluruskan niat dan menjaga hati dari kedengkian.

Bagi Anda yang ingin membaca topik serial agama ini secara lengkap, silakan kunjungi artikel terkait:

Semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan taufik dan mengokohkan hati kita di atas kebenaran. Wa Allahu al-Muwaffiq.

Maraji' (Referensi):
  1. Al-Qaththan, Manna'. Tafsir Al-Qaththan. Terintegrasi dalam Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  2. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Baqarah ayat 213.
Kategori Pilihan

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik