17.4.17

Gbr. Niyat, Lurusnya Jarum Hati
Lurusnya Jarum Hati (niyat)
Oleh : Den Herians
     Dalam setiap tarikan nafas, dalam setiap perbuatan, semua manusia yang  sempurna akalnya, tentu memiliki tujuan-tujuan tertentu yang didalam ilmu Islam disebut dengan niyat. Dan seorang muslim diajarkan bagaimana mengelola niyat tersebut agar sesuai dengan fitrah, sehingga apa yang dia kerjakan bernilai pahala di Sisi Allah Ta'ala, itulah lurusnya niyat yakni lurusnya jarum hati.
Rasulullah saw bersabda :
إِنَّمَا الأَعمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى، فَمَن كَانَت هِجرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَن كَانَت هِجرَتُهُ لِدُنيَا يُصِيبُهَا أَو امرَأَةٍ يَنكِحُهَا فَهِجرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيهِ  [1]
“Sesungguhnya semua amal itu hanya berdasarkan niyat dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niyatkan, siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya , maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya ,dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraihnya atau kepada perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia (niyatkan) berhijrah kepadanya”.
    Imam Bukhari Rahimahullahu, salah satu mukharij hadits  memulai penulisan kitab Jami’ush Shahihnya dengan bab bagaimana permulaan wahyu turun kepada Rasulullah saw, kemudian bab tersebut dimulai dengan mencantumkan hadits mengenai niyat. Ini menunjukan bahwa  penulisan kitabnya itu hanyalah semata-mata  demi mengharap Wajah Allah ‘Azza wa Jalla.
  Faidah dari makna ini adalah sebagai perhatian bagi setiap orang yang membaca kitabnya supaya berniat dalam membaca dan mempelajarinya demi mengharap Wajah Allah, sebagaimana maksud Imam Bukhari dalam penulisannya. Beliau menjadikan hadits ini diawal kitabnya sebagai ganti dari khutbah yang para penulis biasa memulai dengan hadits tersebut. Kemudian banyak diantara ‘ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiganya keislaman, sepertiganya ilmu. Yang dengannya lah Nabi saw memulai khutbah ketika beliau saw tiba di negeri hijrah dan pendeklarasian Islam.
  Penyebutan hadits diatas dalam bab permulaan wahyu, berkaitan dengan ayat yang di interpretasikan oleh Imam Bukhari dalam permulaan kitabnya tersebut, dan makna yang mencakup diantara keduanya yaitu bahwa sesungguhnya Allah swt menurunkan wahyu kepada Muhammad saw dan nabi-nabi sebelumnya, dan sesungguhnya segala amal tergantung niyatnya. Ini berkaitan bahwa wahyu Allah berisi perintah untuk menyembah-Nya dan tidak MenyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan amal-amal yang dilakukan haruslah berdasarkan niyat yang lurus yaitu hanya demi menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Sebagaimana pada ayat 5 surat alBayinah menjadi hujjah atas hal ini, FirmanNya :
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
Dan dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِى أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ
“Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama” (Q.S AsySyuuraa:13).
Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla mewasiatkan kepada mereka (para Rasul) agar meluruskan jarum hati, yaitu mengikhlaskan niyat kepada Allah dan menyembah-Nya tanpa ada kemusyrikan sedikitpun. Dapat kita lihat dalam ayat ini bahwa Allah Ta’ala mewahyukan inti ajaran yang sama kepada para rasul yaitu ” Aqiimuddiin ” syari’at tauhidullah. Maka tidaklah ada pada diri para nabi dan rasul sedikitpun niyat yang kotor dalam menyampaikan wahyu-Nya.
    Selanjutnya diantara faidah yang dapat diambil dari hadits diatas yaitu penukilan yang mutawatir dari para imam ahli hadits mengenai ketinggian dan keagungan hadits tersebut. Sehingga ahli ilmu ada yang mengatakan bahwa diantara banyaknya khabar Nabi saw tidak terdapat hadits yang lebih mencakup, lebih kaya dan lebih banyak faidahnya dari hadits ini. Kemudian para ahli ilmu seperti ‘Abdurrahman bin Mahdi, AsySyafi’i, Ahmad bin Hambal, ‘Ali bin alMadini, Abu Dawud, AtTirmidzi, AdDaraqutniy, Hamzah alKinaniy, mereka bersepakat bahwa hadits ini adalah sepertiga Islam, dan sebagiannya mengatakan seperempatnya. ‘Abdurrahman bin Mahdi mengatakan bahwa sudah seyogyanya hadits ini menjadi kepala/induk setiap bab.
    Kemudian berdasarkan sudut pandang alBaihaqi bahwa hadits ini adalah menjadi sepertiga ilmu, sebab usaha dan perbuatan seorang hamba itu berlangsung dengan qalbunya, lisannya dan anggota tubuhnya, adapun niyat merupakan bagian dari yang tiga ini yaitu berkaitan dengan qalbu.
    Dengan demikian maka niyatnya seorang hamba yang beriman itu ditandai dengan lurusnya jarum hati karena mengharap Wajah Allah semata, sehingga berpengaruh lurus terhadap amalnya.
Wallaahu a’laam.


[1] رواه البخاري أول صحيحه,وفي الإيمان(باب ما جاء أن الأعمال بالنية الحسنة ولكل امرئ ما نوى) وخمسة مواضع أخرى من صحيحه. ومسلم في الإمارة (باب قوله صلى الله عليه و سلم : إِنَّمَا الأَعمَالُ بِالنِّيَّاتِ) , ورواه أبو داود في كتاب الطلاق (باب فيما عني به الطلاق والنيات), والترمذي في كتاب فضائل الجهاد (باب ما جاء فيمن يقاتل رياء وللدنيا), وابن ماجه في كتاب الزهد (باب النية), والنسائي في كتاب الطهارة (باب النية في الوضوء) وهو في المسند,والدارقطني وابن حبان والبيهقي. __ الوافي في شرح الأربعين النووية , تأليف الدكتور مصطفى البغا __ .  

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik