18.4.17

Klasifikasi Islam
Klasifikasi Islam
Tingkatan ke Islaman seseorang        , tidak bisa dilihat dan di ukur dengan apa yang nampak, sebab boleh jadi yang nampak tak seperti yang tersembunyi dalam batinnya, sebagaimana orang munafik yang menampakan keislaman , ia beramal sebagaimana orang muslim beramal, padahal hatinya busuk dan menolak hakikat ke Islaman itu sendiri. 
        Namun secara personal seorang muslim mesti mengetahui hakikat Islam dan Iman secara utuh dan lurus, agar ia tidak termasuk sebagai orang yang hanya mengaku Islam saja, melainkan dia juga menjadi seorang muslim yang beriman dan beramal shalih. Oleh karena itu penting mengetahui tingkatan/klasifikasi Islam. Dan Ilmu Tauhid mengajarkan kepada manusia untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah Ta’ala, sehingga hatinya dipenuhi dengan keimanan kepada-Nya, bersih dari segala macam kemusyrikan, bukan sekedar pengakuan keislaman, melainkan Islam yang berada diatas keimanan yang membuahkan ketunduk-patuhan kepada Aturan-Nya, yang inilah hakikat Islam sebenarnya. 
        Adapun klasifikasi Islam seseorang terdapat dua bentuk, yaitu :
  • KeIslaman yang tingkatannya dibawah Iman, yaitu hanya pengakuan dengan lisan bahwa dia seorang muslim dan dengannya jadi terlindungi darahnya, yaitu tidak boleh diperangi ,baik yang dalam ucapannya itu disertai keyakinan yang kuat ataupun tidak. Dan pengakuan seperti ini diluruskan oleh Allah Ta’ala untuk segera berbuat keta’atan agar keislamannya tidak sekedar pengakuan di lisan saja, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S AlHujurat : 14, Firman-Nya :
قَالَتِ ٱلأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوۤاْ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلإِيمَانُ فِى قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ لاَ يَلِتْكُمْ مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئاً إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah Islam', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." 
     Demikian dalam ayat diatas dijelaskan bahwa diantara orang arab badui tersebut belum masuk kepada tingkatan Islam yang sesungguhnya, oleh  karena itu Allah tidak mengakui keimanan mereka, karena mereka hanya baru mengaku islam saja, belum dibuktikan dengan Iman dan amal shalih dengan cara menta'ati Allah dan RasulNya.
  • Yang kedua yaitu Islam yang tingkatannya berada diatas keimanan, yaitu didalam pengakuan lisannya disertai dengan I’tikad / keyakinan yang kuat dari dalam hatinya dan ia menyempurnakan dengan perbuatannya serta tunduk patuh, berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala sebagaimana kepatuhan Ibrahim a.s yang dikisahkan dalam Q.S AlBaqarah : 131-132, Firman-Nya Ta’ala:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ ٱلْعَالَمِينَ  وَوَصَّىٰ بِهَآ إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِىَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنْتُم مُّسْلِمُونَ
“ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
     Islam secara bahasa pun bermakna berserah diri, tunduk dan patuh , ini menunjukan bahwa Islam mesti berada diatas pondasi keimanan kepada Allah dan rasul-Nya, dan keImanan yang benar harus dibuktikan dengan penyerahan diri seutuhnya kepada Allah, dan Allah sudah menetapkannya mesti diatas jalan Islam, makanya seseorang jangan mati kecuali dalam keadaan Islam.  Dan Rasulullah saw diutus sebagai pelanjut risalah para rasul sebelumnya kepada seluruh ummat dengan membawa risalah Islam sebagai agama Tauhid yang memutlakkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, bahwa Dia adalah Tuhan Yang Esa, tidak ada Tuhan kecuali Dia. Dan pemahaman ini tidak lahir dari pikiran, ide dan hawa nafsu Rasulullah saw, melainkan berdasarkan wahyu, Allah Ta’la berfirman:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَىٰ
" dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)".(Q.S. AnNajm:3-4).
        Oleh karena itu aqidah yang haq yang Allah turunkan dari semenjak Adam a.s tiada lain hanyalah aqidah Islam. yaitu Islam yang berada diatas keimanan. Sekali lagi untuk dicamkan bahwa seluruh nabi dan rasul diutus hanya membawa risalah Islam yang pada akhirnya ditutup dan disempurnakan bagi seluruh ummat melalui Muhammad Rasulullah saw.  Allah Ta’ala berfirman :
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلأِسْلاَمَ دِيناً
" pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama mu..." (Q.S. AlMaaidah:3).
    Demikian klasifikasi Islam seseorang, dan pengetahuan diatas tidak digunakan untuk menilai dan mengukur orang lain, melainkan sebagai penjagaan bagi seorang muslim apakah termasuk muslim yang berada diatas keimanan atau muslim yang hanya mengaku islam saja?..
Akhirnya hanya kepada Allah semata hendaknya kita memohon Hidayah dan Taufiq-Nya agar senantiasa berada pada jalan Islam yang berada diatas keimanan, yang akan  mendatangkan Rohmat dan Ridlo-Nya. Aamiin.
Baca juga : Tauhid dalam Islam 

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik