20.12.18

Isa Nabi dan rasul Allah
Isa bin Maryam[1]‘Alaihimassalaam
Oleh : denherians
Dalam salah satu buku Qashashul Anbiya, terdapat penjelasan bahwa Hannah yaitu neneknya Isa a.s, pernah direnggut darinya seorang anak sehingga beliau merasa putus harapan[2], kemudian Hannah bermuwajahah (menghadap) kepada Penentu segala hajat yakni Allah Jalla Jalaaluh, agar diberikan rizqi seorang anak, lalu Allah Yang Maha Mengijabah do’a mengabulkannya, kemudian beliau hamil, dan ketika hamil itu beliau bernadzar kepada Allah agar anaknya menjadi orang yang shalih dan berkhidmat di Baitul Maqdis , sebagaimana alQuran mengisahkan, Firman-Nya Allah Ta’ala :
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (Q.S. Ali Imran :35).
Sebagaimana disinggung diatas, nama isterinya ‘Imran adalah Hannah  binti Faqudz yang merupakan nama dalam bahasa Ibrani.[3]
Allah Yang Maha Kuasa, Dia Yang Maha Berkehendak. Apa yang kita inginkan takkan pernah terjadi kecuali apa yang telah Dia kehendaki terjadi, sebab Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk makhluq-Nya. Demikian pula yang terjadi dengan Hannah, seluruh harapan dan cita-citanya ingin melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak ia akan melihatnya hidup di Baitul Maqdis diantara orang-orang yang shalih sebagai laki-laki yang mendirikan sholat, akan tetapi ia terkejut atas apa yang Allah karuniakan, sebagaimana dikisahkan alQuran, Allah Ta’ala berfirman :
فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“ Maka tatkala isteri ´Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan  - dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu - dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan, Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau, dari syaitan yang terkutuk" (Q.S. Ali Imran:36).
            Maka nampaklah keilmuan yang ada dalam diri wanita shalihah ini dengan kemulyaan pengetahuannya, Hannah tidak berdo’a untuk anak perempuannya itu dengan do’a sebagaimana biasa do’a bagi seorang anak laki-laki berupa panjang umur, luasnya rizqi, kesehatan dan kebahagiaan, akan tetapi Ia berdo’a dengan segala keagungan lebih daripada itu semua, yaitu Ia memperlindungkan anak perempuannya kepada Allah dari gangguan syaitan yang terkutuk.
        Allah Jalla Jalaaluh menjawab do’a seorang wanita yang shalihah, maka anak perempuannya dijauhkan oleh Allah dari syaitan, bahkan Ia dijadikan oleh Allah termasuk kepada salah seorang wanita yang diberikan karunia sebagai wanita yang memiliki keutamaan diatas seluruh wanita di alam semesta ini. Ia lah Maryam Radhiyallaahu ‘anha .  
Adapun mengenai keutamaan Maryam, diantaranya dijelaskan dalam hadits yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a berkata :
خَطَّ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ خُطُوطٍ، وَقَالَ: "أَتُدْرُونَ مَا هَذَا ؟ , قَالُوا: اَللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ: خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ .[4]
Rasulullah saw menulis diatas tanah 4 tulisan, dan Beliau bertanya: “Tahukah kalian apakah ini?”, Para sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “ Seutama-utamanya perempuan ahli surga adalah: Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Maryam putrinya ‘Imran serta Asiyah binti Muzaahim yaitu istrinya Fir’aun”.
            Sebagaimana Allah Ta’ala telah mengijabah do’a Hannah untuk anak perempuannya, Allah juga mengijabah do’a Hannah untuk cucu laki-lakinya yakni puteranya Maryam, yaitu ‘Isa a.s.
Peristiwa Agung Yang Menimpa Maryam
Adalah Nabi Zakariya a.s (atas kehendak Allah menjadi Ayah Asuh Maryam) telah menentukan tempat khusus bagi Maryam di Baitul Maqdis agar ia beribadah dengan tenang didalamnya, dan tidak diperbolehkan seorangpun masuk kedalamnya. Lalu pada suatu hari Maryam keluar untuk suatu kepentingan, kemudian ditunjukanlah sesuatu kepadanya, dan Maryam merasa ketakutan, lalu Maryam berlindung kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dikisahkan dalam Q.S. Maryam, Allah Ta’ala berfirman :
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا
“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur “
Yakni sebelah timur Baitul Maqdis[5]
فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجاباً فَأَرْسَلْنا إِلَيْها رُوحَنا فَتَمَثَّلَ لَها بَشَراً سَوِيًّا
“maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus Ruh (Jibril) Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”
قالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا
“ Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa".
            Kemudian Maryam semakin terkejut ketika utusan Allah tersebut  berkata, Allah berfirman :
قالَ إِنَّما أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلامًا زَكِيًّا
“Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu karunia seorang anak laki-laki yang suci"
            Lalu terjadilah peristiwa besar menimpa Maryam sebagai seorang perempuan perawan yang suci yang tiada pernah disentuh seorang laki-laki pun, hingga Maryam pun menyangkal berita akan kehamilannya. Firman-Nya Ta’ala mengisahkan :
قالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
“ Maryam berkata: "Bagaimana bisa ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina!”
            Terlukiskan betapa sesaknya jiwa seorang Maryam ketika kebenaran itu terjadi, Allah Ta’ala berfirman :
فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْياً مَنْسِيًّا
“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan" (Q.S. Maryam:23).
Peristiwa Kelahiran Nabi Isa a.s
            Ditempat tersebut, dibawah pohon kurma, Maryam r.a melahirkan Nabi Isa a.s sebagai karunia sekaligus ujian yang berat, terlukis dalam ayat diatas bagaimana kesedihan maryam, namun keikhlasan dan keyakinannya akan kebenaran yang datang kepadanya, Maryam menghadapinya dengan penuh kesabaran dan keteguhan, beliau menghadap kepada Allah ‘Azza wa jalla memohon pertolongan-Nya. Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang shalih.
            Demikianlah kehendak Ilahi, apa yang Dia kehendaki cukuplah hanya dengan perintah : كُن , maka terjadilah.  Alquran telah menyebutkan lebih dari sekali kalam tersebut. Diantaranya dalam surat Maryam sebagai penjelasan bahwa Isa a.s adalah makhluq Allah bukan anak Allah, Firman-Nya :
ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ  مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia” (Q.S. Maryam:34-35).
Isa bin Maryam, alQuran senantiasa menyebut dengan nisbah kepada ibunya karena memang lahir tanpa seorang ayah, ini sekaligus untuk menunjukkan bahwa Nabi Isa bukanlah anak Allah. Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.
        Sebagaimana dikisahkan alQuran bahwa Maryam Radhiyallahu anha ketika mengandung, Beliau mengasingkan diri ke tempat yang jauh dari keluarganya, alQuran menjelaskan:
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا  فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
“ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia memisahkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan" (Q.S. Maryam :22-23).
Ayat ini diantaranya sebagai dalil bolehnya mengharap kematian ketika mendapatkan fitnah yang besar, sebagaimana yang dialami Maryam, Ia mengetahui bahwa orang-orang pasti akan menuduhnya dan tidak akan membenarkannya, bahkan mereka pasti akan mendustakannya.
       Yang masyhur berdasarkan penjelasan jumhur ‘ulama, bahwasanya Maryam mengandung sebagaimana normalnya wanita mengandung selama 9 bulan, ada juga yang berpendapat 8 bulan.[6] Adapun tempat kelahiran Nabi Isa tersebut adalah disuatu lembah yang jauh, di Baitulahmi. Sebagaimana yang dijelaskan para mufassir, wallaahu a’lam. [7]
 Albaghawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya :
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَقْصَى الْوَادِي، وَهُوَ وَادِي بَيْتِ لَحْمٍ، فِرَارًا مِنْ قَوْمِهَا أَنْ يُعَيِّرُوهَا بِوِلَادَتِهَا مِنْ غَيْرِ زَوْجٍ، وَاخْتَلَفُوا فِي مُدَّةِ حَمْلِهَا وَوَقْتِ وَضْعِهَا.[8]
Ibnu ‘Abbas r.a berkata : “Aqshol wadi yakni lembahnya Betlehem, Maryam mengasingkan diri karena khawatir kaumnya akan menghinanya akibat beliau melahirkan tanpa seorang suami. Adapun masalah ditiupkannya ruh, waktu kehamilan dan proses melahirkannya, para ‘ulama telah berbeda pendapat”.
            Mengenai perbedaan akan kejelasan tempat, cara dan proses ditiupkannya ruh dari Allah ke dalam rahim Maryam, dalam hal ini sungguh tepat komentar AlMaraghi , beliau menjelaskan :
وَلَم يُعَيَّن مَوضِعُ النَّفخِ فَلَا نَجزِمُ بِشَىءٍ مِن ذَلِكَ إِلَّا بِالدَّلِيلِ القَاطِعِ [9]
“Dan tidak dijelaskan pasti dimana tempat/posisi ditiupkannya ruh dari Allah tersebut, maka tiada kepentingan kita harus mengetahui sedikitpun tentang itu, kecuali dengan dalil yang qath’i (absolut/mutlak)”.
AlMaraghi juga menyebutkan bahwa alQuranul Kariim juga tidak menjelaskan secara rinci mengenai cara, waktu dan tempat kehamilan Maryam, yang artinya tidak ada kebutuhan mendesak untuk mengetahui hal tersebut yang dapat menjadi ibroh (yang dapat dijadikan pelajaran) bagi kita. Dan tentu tidak tepat jika kita asal mengira-ngira tanpa adanya validitas data.
Dalam ayat diatas dikisahkan bahwa rasa sakit yang diderita saat melahirkan membuat Maryam bersandar ke pohon kurma, dan ucapannya melukiskan betapa berat penderitaannya sehingga mengharapkan kematian, karena rasa malu dan khawatir terhadap orang-orang yang akan menuduhnya telah berbuat mesum.  Dan Allah Ta’ala menghibur Maryam, Allah Ta’ala berfirman :
فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
“ Maka  Ia menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini" “. (Q.S: Maryam;24-26).
            Telah berbeda para ahli tafsir mengenai subjek yang menyeru Maryam tersebut, ada yang mengatakan Jibril, dan menurut pendapat yang lain adalah Isa a.s yang baru saja lahir.  Wallaahu A’lam.
             Setelah itu kemudian Maryam membawa puteranya, yakni Nabi Isa a.s kepada kaumnya, dan terjadilah fitnah yang dikhawatirkan Maryam. Sebagaimana dikisahkan, Allah berfirman:
فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا
“ Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar” (Q.S: Maryam;27).
Kejadian tersebut yakni ketika Maryam diperintahkan oleh Allah agar melaksanakan shaum untuk tidak berbicara dengan seorang pun. Dan manakala kaumnya melihat Maryam mengendong seorang anak bayi, maka mereka mencela Maryam, sebagaimana dikisahkan :
يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا
“ Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina". (Q.S. Maryam:28).
Yang dimaksud Harun disini bukan Harun saudaranya Musa a.s (penting diketahui), melainkan Ia seorang yang salih dari kalangan Bani Israil, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Muslim :
عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: لَمَّا قَدِمْتُ نَجْرَانَ سَأَلُونِي فَقَالُوا: إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ: يَا أُخْتَ هَارُونَ، وَمُوسَى قَبْلُ عِيسَى بِكَذَا وَكَذَا، فَلَمَّا قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: «إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ»[10]
Dari alMughirah bin Syu’bah ia berkata : “ ketika aku tiba di Najran, mereka (penduduk Najran) bertanya kepadaku : “Sungguh kalian membaca : يَا أُخْتَ هَارُونَ  dan Musa sebelum Isa begini dan begitu”, maka ketika aku datang kepada Rasululah saw, aku bertanya kepada beliau mengenai hal tersebut, lalu beliau bersabda : “ Sesungguhnya mereka biasa memberi nama dengan para nabi dan orang-orang salih sebelum mereka”.
            Adapun yang dimaksud dengan memanggil Maryam sebagai saudaranya Harun tersebut adalah menyerupakannya dalam hal ibadah dan ketakwaannya, karena Maryam adalah seorang yang ahli ibadah dan bertakwa sebagaimana Harun, yakni orang yang salih tersebut. Dan ungkapan kata “saudara” dalam alQuran sudah biasa sebagai ungkapan penyerupaan, sebagaimana dalam ayat yang lain Allah berfirman :
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudaranya syaitan”  (Q.S. Al-Isra:27).
            Demikian Maryam dicela oleh kaumnya tersebut karena mereka menganggap bagaimana bisa seorang yang shalihah dan terjaga bisa berbuat mesum sehingga melahirkan anak tanpa suami. Dalam kondisi demikian lalu Maryam memberi isyarat kepada kaumnya agar bertanya kepada bayi yang digendongnya, sebagaimana alQuran mengisahkan :
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
“maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?”
Kemudian Isa a.s yang masih dalam buaian menjawabnya :
قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا  وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (Q.S. Maryam :30-33).
            Nampaklah mukjizat yang besar dari Allah Ta’ala kepada Isa a.s. Dan terdapat pelajaran yang sangat penting dari perkataan Isa a.s tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Wahbah Zuhaili dalam AlMuniir, yang intisarinya yaitu :
1. Pertama-tama yang Beliau a.s ucapkan adalah pengakuan atas ubudiyah (penghambaan diri) nya kepada Allah Ta’ala, yakni Isa a.s tidaklah menyembah kepada selain Allah, dan membersihkan-Nya dari sifat memiliki anak, sebagai peringatan kepada kaum Nashrani atas kekeliruan mereka dalam anggapannya terhadap Rububiyahnya Allah.
2.      Isa a.s diberikan kitab Injil, menunjukan bahwa Isa a.s adalah Rasul Allah.
3.    Allah menjadikan Isa a.s sebagai nabi dan rasul, ini menunjukan sucinya Maryam dari perbuatan fahisyah, karena Allah Ta’ala tidak akan menjadikan para nabi dari anak hasil perzinahan. Dan seorang Nabi itu maksum (dijaga dari aib, dosa dan kesalahan).
4.   Allah menjadikan Isa a.s sebagai manusia yang bermanfa’at bagi hamba-hambaNya, mengajarkan kebaikan, memberi petunjuk dan bimbingan dimana saja beliau berada.
5.   Allah Ta’ala mewasiyatkan kepada Isa a.s dengan sholat dan zakat agar ditunaikan selama hidupnya. Allah memerintahkan sholat sebagai ikatan antara hamba dengan Rabbnya dan sebagai pensucian jiwa, dan mencegahnya dari berbuat fahisyah (perbuatan keji).
6.  Isa a.s dijadikan oleh Allah sebagai manusia yang senantiasa berbuat baik dan senantiasa ta’at kepada ibunya.
7.      Allah Ta’ala menjaga Isa a.s dari sifat sombong dan durhaka.
8.    Allah Ta’ala menjadikan Isa ibnu Maryam ‘alaihimassalam selamat dari setiap keburukan pada hari beliau dilahirkan, dan syaitan tidak dapat memberi madharat kepadanya, dan tidak bisa memperdayanya disaat sakratul maut, tidak juga ketika hari berbangkit. Isa a.s dalam keadaan aman tiada seorangpun yang kuasa untuk memberi kecelakaan kepadanya.
Ini juga sebagai penyangkalan atas mereka yang menganggap bahwa Nabi Isa a.s dibunuh dan di salib.
Demikian kelahiran Isa bin Maryam semata-mata adalah sebagai Nabi dan Rasul Allah.
Penghormatan Nabi Yahya a.s kepada Nabi Isa a.s saat masih dalam kandungan
            Ibnu Katsir menjelaskan dengan menukil riwayat dari AsSudiy yang sanadnya bersambung kepada sahabat :
أَنَّ مَريَمَ دَخَلَت يَومًا عَلَى أُختِهَا فَقَالَت لَهَا أُختُهُا: أَشَعَرتِ أَنِّي حُبلَى؟ فَقَالَت مَريَمُ : وَشَعَرتِ أَيضًا أَنِّي حُبلَى؟ فَاعتَنَقَتهَا وَقَالَت لَهَا أُمُّ يَحيَى: إِنِّي أَرَى مَا فِي بَطنِي يَسجُدُ لِمَا فِي بَطنِكَ وَذَلِكَ قَولُهُ {مُصَدِّقاً بِكَلِمَةٍ مِنْ اللَّهِ} وَمَعنَى السُّجُودِ هَاهُنَا الخُضُوعُ وَالتَّعظِيمُ، كَالسُّجُودِ عِندَ الْمُوَاجَهَةِ لِلسَّلَامِ كَمَا كَانَ فِي شَرعِ مَن قَبلُنَا، وَكَمَا أَمَرَ الله الْمَلَائِكَةِ بِالسُّجُودِ لِآدَمَ. [11]
Bahwa pada suatu hari Maryam datang kepada saudarinya, kemudian saudarinya bertanya kepadanya : “apakah kau merasakan apa yang terjadi pada kandungan ku?”, kemudian Maryam juga bertanya hal yang sama : “apa kau juga merasakan sesungguhnya yang terjadi pada kandunganku?”, kemudian Ummu Yahya (istri Nabi zakariya) memeluk Maryam dan berkata: “Sesungguhnya aku melihat bayi yang ada dalam perutku ini bersujud kepada bayi yang ada dalam perutmu”. Dan demikian itu terdapat dalam Firman-Nya Ta’ala :
أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنْ اللَّهِ
"Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah..."(Q.S. Ali Imran :39).
Adapun pengertian sujud disini yaitu sujud penghormatan seperti sujud (membungkuk) nya ketika bertemu untuk mengucapkan salam, sebagaimana kebiasaan orang-orang sebelum kita dan sebagaimana perintah Allah kepada Malaikat agar bersujud kepada Adam a.s.
Hakikat Nabi Isa a.s
Allah Ta’ala  telah menjelaskan dalam alQuran dengan penjelasan yang terang bagaimana kesucian Isa a.s, bahwa sanya tidak diperbolehkan mengkultuskan Isa a.s lebih dari pada kenabian dan kerasulannya, Allah Ta’ala berfirman :
ذلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآياتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ  إِنَّ مَثَلَ عِيسى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرابٍ ثُمَّ قالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ  فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعالَوْا نَدْعُ أَبْناءَنا وَأَبْناءَكُمْ وَنِساءَنا وَنِساءَكُمْ وَأَنْفُسَنا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكاذِبِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَما مِنْ إِلهٍ إِلاَّ اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ
“Demikianlah (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Ali Imran : 58-63) [12]
            AlBukhari telah memasukan dalam Jami’ushshahihnya hadits Nabi saw yang memberikan bimbingan dalam mengimani Isa a.s sebagai Nabi dan Rasul Allah, Nabi saw bersabda :
مَن شَهِدَ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبدُ اللهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلقَاهَا إِلَى مَريَمَ وَرُوحٌ مِنهُ وَالجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ العَمَلِ. [13]
“Siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, dan bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya, kalimat-Nya yang Dia berikan kepada Maryam dan juga ruh dari-Nya, (dan siapa yang bersaksi) bahwa surga itu benar, neraka itu benar. Maka Allah masukan ia ke surga atas apa yang telah ia lakukan tersebut”.
Dalam ajaran Islam, mengimani Isa a.s sebagai nabi dan Rasul Allah adalah perbuatan yang mutlak benar, sedangkan meyakini bahwa Allah memiliki anak maka ini adalah perbuatan yang munkar dan jelas-jelas termasuk dosa yang teramat besar. Allah Ta’ala berfirman :
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا  أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا  إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا  وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“ Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,karena mereka mengklaim Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”.( Q.S. Maryam:88-95).
            Allah Ta’ala Yang Maha Suci, Dialah Pencipta segala sesuatu dan Pemiliknya. Maka segala sesuatu selain Allah adalah faqir. Oleh karena itu Allah Ta’ala menjelaskan secara mutlak sifat diri-Nya dalam alQuran, Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
“ Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia" (Q.S. Al-Ikhlash).
            Dalam ayat yang lainpun Allah telah menegaskan ke Maha Sucian-Nya sebagai Tuhan Yang Esa :
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلاَّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابن مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انتَهُوا خَيْراً لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً، لَنْ يَسْتَنكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْداً لِلَّهِ وَلا الْمَلائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ وَمَنْ يَسْتَنكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعاً، فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً أَلِيماً وَلا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيّاً وَلا نَصِيرًا
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah”. (AnNisaa : 171-173).
            Demikian hakikat Isa a.s, derajat kemuliaannya bukanlah sebagai Allah atau anak Allah, melainkan adalah sebagai Nabi dan Rasul Allah yang wajib kita imani sesuai dengan perintah-Nya.
Siapa saja yang keluar dari ketentuan Allah dan syari’at-Nya dan membuat-buat suatu ketetapan yang jatuh kedalam kekafiran dan kemusyrikan,  maka wajib laknat Allah menimpanya. Sebagaimana Allah telah melaknat Yahudi dan Nashrani atas kelancangan mereka terhadap Allah, Firman-Nya :
وَقَالَتْ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابن اللَّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابن اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu anak Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu anak Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknati Allah, bagaimana mereka sampai berpaling” (Q.S. Al-Taubah:30).
            Mengenai hakikat Isa a.s, banyak penjelasannya dalam alQuran, yang semuanya menjelaskan kesucian Isa sebagai Nabi dan Rasul Allah, bahkan Allah Ta’ala menghukumi kafir kepada siapa saja yang mengatakan bahwa Isa itu Tuhan, perhatikan Firman-Nya :
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابن مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنْ اللَّهِ شَيْئاً إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابن مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأَرْضِ جَمِيعاً وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata: "Bahwa sesungguhnya Allah itu ialah AlMasih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika seandainya Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi keseluruhannya?". Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. AlMaidah:17).
            Sungguh kebenaran ayat-ayat alQuran adalah kebenaran yang hakiki. Jika anda masih meragukannya, maka alQuran sendiri sudah memberikan tantangan untuk memperhatikan dan meneliti alQuran dengan penelitian yang seksama dan sungguh-sungguh. Allah Ta’ala berfirman :
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan AlQuran? Kalau kiranya AlQuran itu bukan dari sisi Allah, pasti mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (Q.S. AnNisaa:82).
            Namun bagi anda yang tetap menyangkal dan menutup diri dari kebenaran alQuran, silakan tunggu saja sampai ajal datang menjemput, maka itulah awal penyesalan abadi. Wal ‘iyaadzu billaah.
Kesaksian Nabi Isa a.s Pada Hari Kiamat
Kelak pada hari kiamat, Isa a.s akan ditanya oleh Allah sebagai bukti persaksian atas ke Esaan Allah, dan Nabi Isa a.s sendiri akan menyangkal semua perkataan dan anggapan manusia yang meyakini bahwa Beliau a.s itu Allah atau anak Allah. Kondisi ini dikabarkan oleh Allah dalam alQuran, Firman-Nya Ta’ala :
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابن مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ، مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنْ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيد، إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan ingatlah ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (AlMaaidah:116-118).
            Silakan perhatikan ayat tersebut, Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan segala Firman-Nya. Isa a.s sebagai Nabi dan Rasul Allah, tidak memiliki kewenangan sedikitpun untuk menghalangi seseorang dari adzab Allah, apalagi sebagai penebus dosa bagi semua manusia.
Kebenaran ini telah disampaikan oleh Rasul terakhir Muhammad saw lebih dari 14 abad yang lalu, dan Beliau saw telah banyak pula didustakan kebenarannya. Dan bagi mereka yang mendustakan para rasul serta membuat kedustaan terhadap Allah, maka Allah telah menyiapkan balasannya, Firman-Nya Ta’ala :
قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ، مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمْ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ
“Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung". (Bagi mereka) ada kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka”. (Q.S. Yunus : 69-70).
Dakwah Nabi Isa a.s
Isa a.s adalah Nabi terakhir kaum Bani Israil, dan setelahnya Beliau a.s diangkat oleh Allah ke langit, berlalulah masa yang panjang dalam kekosongan dari kenabian, hingga tibalah saat diutusnya Nabi akhir zaman yang lahir dari bani Isma’il, yang nubuwwahnya telah diberitakan dalam kitab-kitab sebelum alQuran, baik Taurat ataupun Injil, bahwa akan datang setelah Isa a.s, Nabi dan Rasul terakhir sebagai penutup para Nabi dan Rasul, yakni Nabi Muhammad saw yang Allah taqdirkan lahir bukan dari bani Israil (Kisah Rasulullah saw telah ditulis di artikel: Muhammad dan Integritas Islam).
Perjalanan dakwah Nabi Isa a.s kepada kaumnya sungguh telah dimulai dari sejak buaian, Beliau a.s menyampaikan kebenaran kepada kaumnya yakni bani Israil sebagaimana dikisahkan alQuran dalam surat Maryam ayat 30-33 :
“Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab Injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali"
Itulah kalimat alhaq pertama yang keluar dari lisan Isa a.s kepada kaumnya. Dan disebutkan dalam salah satu riwayat, bahwa Nabi Isa a.s telah diajarkan oleh Allah Ta’ala kitab Injil saat masih dalam kandungan, wallaahu a’lam, berikut redaksi haditsnya:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ عِيسَى بنُ مَريَمَ قَد دَرَسَ الإِنجِيلَ وَأَحكَمَهَ فِي بَطنِ أُمِّهِ، فَذَلِكَ قَولُهُ: إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا [14]
Dari Anas bin Malik r.a, beliau berkata : “Adalah Isa bin Maryam sungguh telah mempelajari Kitab Injil dan hukum-hukumnya saat berada dalam perut Ibunya, karena itu ucapan Beliau a.s “ :  Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku AlKitab Injil dan Dia telah menjadikan aku seorang nabi...”.
            AlQuran mengabarkan ucapan Isa a.s tersebut sebagai teguran kepada mereka yang menganggap Isa sebagai Allah atau anak Allah. Tidak sepantasnya mereka berbuat kebatilan sedemikian rupa. Padahal Isa a.s telah menunjukkan mukjizat kenabiannya saat masih bayi dan menyampaikan kepada mereka bahwa Isa adalah hamba dan rasul Allah.
            Bahkan Nabi Isa a.s dalam dakwahnya, menyeru kepada kaumnya untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, Firman-Nya :
وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
“...Al Masih berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" (Q.S. AlMaidah:72).
Ayat diatas menjelaskan bahwa Isa a.s diutus oleh Allah sebagai rasul, adalah untuk mengajak bani Israil agar menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, apalagi menjadikan Isa a.s sebagai Tuhan. Dan memang apa yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s, intinya sama dengan yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya, juga oleh Nabi Muhammad saw, yakni mengajarkan Tauhidullah.
            Dan sesungguhnya Allah Ta’ala memilih para rasul diantara makhluq-makhluqNya sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana alQuran menyebutkan :
اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
“Allah memilih para utusan dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. alHajj:75).
Yakni Allah telah memilih utusan dari malaikat sebagai penyampai wahyu kepada para Nabi dan Rasul yang Allah pilih dari kalangan manusia, untuk mengemban tugas mengajak manusia dengan wahyu Ilahi tersebut agar beribadah kepada-Nya dan berbuat sesuai dengan keridloan-Nya.
            Demikian pula Nabi Isa a.s telah dipilih oleh Allah Jalla jalaaluh sebagai Nabi dan Rasul-Nya, bertugas untuk berdakwah, mengajarkan Tauhidullah kepada kaumnya yakni bani Israil, serta menyampaikan berita gembira akan kedatangan Nabi dan Rasul terakhir. Sebagaimana AlQuran mengisahkan :
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan ingatlah ketika Isa bin Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata". (Q.S. AsShaff : 6).
Penjelasan yang sangat menarik dari Imam Qurtuby mengenai makna ayat ini, Nabi Isa a.s menyeru kaumnya tidak dengan perkataan “ يَا قَوْمِ “ sebagaimana Nabi Musa a.s menyeru kaumnya, melainkan dengan perkataan “ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ “ ,ini karena Isa a.s tidak bernasab kepada mereka dari seorang ayah. Kemudian dalam dakwahnya kepada bani Israil tersebut, Isa a.s membenarkan kitab sebelumnya yakni Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa a.s, dan Isa a.s sendiri diutus dengan membawa kitab Injil, yang didalam kitab-kitab tersebut terdapat berita mengenai kelahiran Nabi dan Rasul terakhir yang tertulis namanya Ahmad. AlQurtuby menjelaskan bahwa Ahmad (أَحْمَدُ) merupakan nama yang dinukil dari sifat bukan dari perbuatan (fi’lun), kata sifat ini berbentuk isim tafdhil (menunjukkan yang lebih/yang paling), dan makna “أَحْمَدُ ” yaitu “أَحْمَدُ الْحَامِدِينَ لِرَبِّهِ ” yakni yang paling terpuji diantara orang-orang yang suka memuji Rabbnya, maksudnya yaitu bahwa para Nabi sholawatullahi ‘alaihim mereka semuanya adalah para nabi yang senantiasa memuji dan menyanjung Allah ‘Azza wa Jalla, dan “أَحْمَدُ ” yakni Nabi Muhammad saw, adalah Nabi yang paling banyak memuji Allah lebih daripada nabi-nabi yang lain. Dan nama Muhammad (مُحَمَّدٌ), juga diambil dari kata sifat yang bermakna مَحْمُود ( terpuji/yang dipuji ) dan didalamnya memuat makna mubalaghah (yang dilebihkan), dan ini merupakan nama diantara nama-nama nubuwwah (kenabian). Dan Muhammad Rasulullah saw adalah yang dipuji diakhirat dengan syafa’atnya.
Oleh karena itu ayat diatas menjelaskan bahwa dalam Taurat dan Injil telah disebutkan sifat dari Nabi dan Rasul terakhir dengan karakteristik bernama “Ahmad”.
Nabi Isa a.s juga mengabarkan kepada bani Israil mengenai kondisi yang akan terjadi kepada Nabi Muhammad saw ketika diutus membawa bukti-bukti kebenaran yang jelas dan terang, bahwa Nabi saw akan didustakan, dimusuhi bahkan dituduh sebagai tukang sihir.
            Dengan demikian dapat kita petik intisari dari dakwah Nabi Isa a.s, bahwa apa yang dibawa, didakwahkan, dan disampaikan oleh Nabi Isa a.s tidaklah menyelisihi Kitab Taurat bahkan justru menguatkan isi Taurat, demikian pula dakwah Nabi Muhammad saw tidaklah menyelisihi Taurat dan Injil, bahkan justru menguatkan dan menyempurnakan keduanya. Maka siapa yang beriman kepada kerasulan Muhammad saw artinya ia telah beriman pula kepada Risalah Isa a.s dan para rasul sebelumnya, dan siapa yang ingkar kepada Muhammad saw maka hakikatnya ia pun sudah mengingkari Nabi dan Rasul sebelumnya. Maka sudah seharusnya kita beriman kepada kenabian dan kerasulan Muhammad saw jika kita mengaku orang yang beriman, wallaahulmuwaffiq.
            Isa a.s mempunyai tugas dakwah kepada dua ummat yang berbeda, pada dua masa yang berbeda pula, yang pertama yaitu ummat bani Israil yang telah berlalu, dan yang kedua adalah ummat Nabi Muhammad saw di akhir zaman [15] , yakni saat Nabi Isa a.s kelak diturunkan kembali oleh Allah kedunia ini untuk memimpin ummat manusia dan memerangi almasih addajjal, lalu menetapkan hukum dengan alQuran dan Sunnah Nabi saw. Berikut penjelasannya :
I.    Dakwah Nabi Isa a.s kepada bani Israil
AlQuran telah menjelaskan secara umum risalah dakwah Isa a.s kepada bani Israil, diantaranya pada ayat berikut ini :
وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil” (Ali Imran : 49).
Dan Firman-Nya :
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم
 “Dan (ingatlah) ketika Isa bin Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu..” (AsShaff : 6)
            Mengenai ummat bani Israil ini, Allah Ta’ala dalam alQuran telah banyak menjelaskannya, dan Rasulullah saw pun menyebutkan karakteristik mereka yang mana mereka itu adalah ummat yang banyak mendustakan para Nabi dan Rasul, suka mentahrif (merubah-rubah) isi Kitabullah dan suka membunuh para nabi, membangkang kepada Allah dan rasul-Nya. Kekafiran mereka kepada Allah dan rasul-Nya semakin menjadi sampai-sampai mereka gemar mencampur adukan yang haq dengan yang batil, bahkan mereka suka menyembunyikan kebenaran. AlQuran menyebutkan :
يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ , يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui kebenarannya. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya” (Ali Imran : 70-71).
            Kaum bani Israil ini, mereka tak sungkan menghina Allah Ta’ala, begitu sombong, begitu angkuhnya mereka, selalu berbuat kerusakan dan menebar kebencian dan permusuhan, kelakuan mereka ini akan senantiasa demikian hingga hari kiamat, la’natullah ‘alaihim. Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan” (AlMaaidah:64).
Dan mereka juga adalah kaum yang suka mengingkari janji, terutama para pemuka mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Firman-Nya Ta’ala :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
“ Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”(AlBaqarah:246).
            Disebabkan keburukan, kejahatan, dan kekafiran Bani Israil maka mereka itu dilaknati melalui lisan Daud a.s dan Isa a.s, Allah berfirman :
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknati dengan lisan Daud dan Isa bin Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas”(AlMaaidah:78).
            AlQurtubi menjelaskan, ayat ini sebagai dalil bolehnya melaknat orang-orang kafir sekalipun mereka itu adalah keturunan Nabi, karena kemulyaan nasab (silsilah keturunan) tidak menghalangi laknat dalam kenyataannya. Adapun makna “dilaknat melalui lisan Daud a.s dan Isa a.s” yaitu mereka dilaknat didalam kitab Zabur dan Kitab Injil, karena Zabur disampaikan dengan lisan Daud a.s dan Injil disampaikan dengan lisan Isa a.s, yakni Allah Ta’ala melaknat bani Israil didalam dua kitab tersebut. Dan diantara bentuk laknatnya sebagian diterangkan bahwa mereka ada yang dilaknat oleh Allah menjadi kera dan babi, yang dilaknat melalui lisan Daud maka mereka menjadi kera, sedangkan yang dilaknat melalui lisan Isa maka mereka menjadi babi. Dan Ibnu ‘Abbas mengatakan :
الَّذِينَ لُعِنُوا عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ أَصْحَابُ السَّبْتِ، وَالَّذِينَ لُعِنُوا عَلَى لِسَانِ عِيسَى الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْمَائِدَةِ بَعْدَ نُزُولِهَا
Orang-orang yang dilaknat melalui lisan Daud, mereka adalah orang yang melanggar larangan hari sabtu, dan orang-orang yang dilaknat melalui lisan Isa adalah orang-orang yang ingkar terhadap “maaidah”(hidangan) setelah diturunkannya hidangan tersebut. [16]
Dan ada juga yang menjelaskan, bahwasanya dilaknat pula orang-orang yang terdahulu dan yang sesudahnya diantara mereka yang kafir kepada Nabi Muhammad saw melalui lisan Daud dan Isa, sebab Nabi Daud dan Nabi Isa telah memberitahu mereka bahwa Muhammad saw adalah seorang Nabi yang diutus, maka dilaknat siapa yang kafir kepada Beliau saw.  [17]
            Itulah bani Israil dan ahli Kitab mereka yang dijelaskan dalam alQuran, dan masih banyak ayat yang menjelaskan sifat-sifat mereka, kebanyakan dari mereka adalah demikian, hanya sedikit yang mau taat dan beramal shalih serta mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Dan bagi mereka yang mau beriman, AlQuran menegaskan :
وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya”.(Ali Imran:199).
            Bani Israil pun didakwahi oleh Isa a.s untuk melaksanakan sholat dan shaum
            Dalam dakwahnya, Nabi Isa a.s tidak pernah mengatakan dan mengajak ummatnya berdasarkan hawa nafsunya, melainkan Beliau a.s berbicara berdasarkan perintah Allah Ta’ala dengan syari’at Tauhid, sebagaimana AlQuran mengisahkan :
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Aku (Isa a.s) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya, yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu” (AlMaaidah:117).
            Demikian dakwah Isa bin Maryam ‘alaihimassalam kepada bani Israil adalah untuk mengajarkan ketauhidan sebagaimana para rasul sebelumnya, untuk menguatkan kitab sebelumnya dan memberi kabar gembira akan kedatangan nabi dan rasul terakhir.
II.   Dakwah Isa a.s kepada ummat Muhammad saw
Dijelaskan dalam Hadits shahih bahwa Nabi Isa a.s akan turun kepada ummat Muhammad saw di akhir zaman, Rasulullah saw bersabda :
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»، قَالَ: " فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُولُ: لَا، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ  
“Akan senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang berperang diatas kebenaran, mereka akan selalu nampak hingga hari kiamat." Beliau saw bersabda lagi: "Lalu turunlah Isa bin Maryam, lalu pemimpin mereka berkata, 'Kemarilah, pimpinlah kami shalat." Lalu Isa berkata: 'Tidak, sesungguhnya sebagian kalian atas sebagian yang lain adalah pemimpin, sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap umat ini'." [18]
            Hadits ini menunjukan bahwa Isa a.s turun tidak membawa syari’at baru, melainkan Beliau a.s berdakwah kepada ummat akhir zaman untuk melaksanakan dan melanjutkan syari’at Nabi Muhammad saw, dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Isa menjadi imam sholat, ini kelak akan terjadi di Masjid Baitul Maqdis. Wallaahu a’lam. Kemudian Nabi Isa a.s setelah membunuh Dajjal, Beliau menetap di bumi sesuai kehendak Allah untuk memutuskan hukum dengan adil sesuai dengan hukum alQuran dan Sunnah Nabi saw, dan Isa a.s akan menyeru, mendakwahi manusia kepada Islam, lalu akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah (pajak).
            Cukup banyak nash yang menyebutkan kondisi dan peristiwa yang akan terjadi pada waktu Isa a.s turun lagi kedunia ini, in syaa Allah berikut ini ane sampaikan beberapa dalil-dalilnya.
AlQuran mengisyaratkan akan turunnya Nabi Isa a.s, Firman-Nya Ta’ala:
إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ  وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُونَ وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat kenabian dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti kekuasaan Allah untuk Bani lsrail. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus” (Q.S. AlZukhruf:59-61).
            AlQurtuby menjelaskan bahwa dengan ayat ini Allah Ta’ala menjadikan Isa a.s sebagai matsal (contoh) bagi bani Israil, yaitu sebagai tanda dan pelajaran yang menunjukkan Qudrah (kekuasaan) nya Allah Ta’ala yang telah menciptakan Isa a.s tanpa seorang ayah, lalu diberikan mu’jizat sehingga dapat menghidupkan yang mati, menyembuhkan yang buta, mengobati penyakit kusta dan berbagai penyakit, semua itu tidak diberikan kepada nabi-nabi yang lain. Lalu Isa a.s akan turun lagi ke bumi yang di isyaratkan pada ayat :
وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ
sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, Mujahid, AdhDhahak, AsSuddiy dan Qatadah, bahwa ayat ini menunjukkan keluarnya Isa a.s nanti adalah sebagai tanda terjadinya kiamat, karena Allah akan menurunkan Isa a.s dari langit tepat ketika sangat dekatnya terjadi hari kiamat, sebagaimana juga keluarnya addajjal sebagai tanda dekatnya kiamat.
            Dan berdasarkan hadits riwayat Ibnu Mas’ud dijelaskan bahwa ketika malam Nabi saw di isra kan, Beliau saw berjumpa dengan Ibrahim, Musa dan Isa ‘alaihimussalaam, lalu mereka saling berbicara tentang hari kiamat, di mulai dari Nabi Ibrahim a.s, Nabi saw bertanya kepadanya namun Ibrahim a.s tidak mengetahui ilmunya demikian juga kepada Musa a.s tidak mengetahuinya, lalu bertanya kepada Isa bin Maryam, lalu Isa a.s berkata :
قَدْ عُهِدَ إِلَيَّ فِيمَا دُونَ وَجْبَتِهَا فَأَمَّا وَجْبَتُهَا فَلَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَذَكَرَ خُرُوجَ الدَّجَّالِ- قَالَ: فَأَنْزِلُ فَأَقْتُلُهُ.
"Sungguh telah diikrarkan kepadaku berbagai hal selain kejadian Kiamat, adapun terjadinya maka tidak seorang pun yang mengetahuinya melainkan hanya Allah, lalu Isa menyebutkan tentang keluarnya Dajjal, Isa berkata, "Kemudian aku diturunkan dan aku membunuhnya”. (Hadits ini diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunannya). [19]
            Di isyaratkan pula dalam alQuran surat Annisaa ayat 157-159 tentang turunnya Nabi Isa a.s, bahkan Allah Ta’ala menyangkal mereka yang menganggap bahwa Nabi Isa a.s wafat dibunuh dan disalib, Allah berfirman:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
“ dan ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi ia adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa, benar-benar berada dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”.
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“ Sebenarnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Ayat ini merupakan penegasan bahwa Isa a.s tidaklah dibunuh ataupun disalib, melainkan Allah telah mengangkat Isa a.s kepada-Nya dan menolongnya dari musuh-musuhnya, dan Allah itu Maha Perkasa takkan dapat dikalahkan, dan Allah akan buktikan bahwa Isa itu belum wafat dengan menurunkannya lagi dari langit ke dunia ini, di isyaratkan dalam ayat berikutnya, Allah berfirman :
وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.
Semua ahli kitab yang mengetahui turunnya Nabi Isa a.s di akhir zaman, mereka semuanya akan beriman kepada Nabi Isa sebelum Beliau wafat. [20]
Terdapat dalam Hadits riwayat alBukhari, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: " وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً ".
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dekat akan turun kepada kalian 'Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghentikan pajak, dan harta benda melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerima, hingga pada masa itu satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan isinya". Kemudian Abu Hurairah r.a berkata; "Bacalah firman Allah jika kamu mau: "Dan tidak ada satu pun dari Ahli Kitab kecuali pasti akan beriman kepadanya sebelum kematiannya, dan pada hari qiyamat nanti 'Isa akan menjadi saksi bagi mereka" (An-Nisaa:159).
Dan dalam Hadits riwayat Ahmad disebutkan dari jalur Hanzhalah dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda :
يَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَمْحُو الصَّلِيبَ وَتُجْمَعُ لَهُ الصَّلَاةُ وَيُعْطَى الْمَالُ حَتَّى لَا يُقْبَلَ وَيَضَعُ الْخَرَاجَ وَيَنْزِلُ الرَّوْحَاءَ فَيَحُجُّ مِنْهَا أَوْ يَعْتَمِرُ أَوْ يَجْمَعُهُمَا قَالَ وَتَلَا أَبُو هُرَيْرَةَ : وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا.
"Isa bin Maryam akan turun, lalu membunuh babi dan menghancurkan salib, karena itu maka shalat akan dijama', harta akan diberikan sehingga tidak ada lagi orang yang menerimanya, lalu pajak akan dihapuskan. Dan Ia akan singgah di Rauha` lalu melaksanakan haji dari sana, atau umrah atau haji dan umrah sekaligus." Lalu Abu Hurairah berkata dan membaca ayat: "Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti 'Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka."
Hanzhalah menyatakan bahwasanya Abu Hurairah berkata :” Mereka akan beriman kepada Isa a.s sebelum wafatnya Isa a.s”. [21]
            Beberapa dalil diatas sesungguhnya telah cukup menjelaskan akan turunnya Nabi Isa a.s.  
Berita mengenai kondisi ummat akhir zaman ketika keluarnya addajjal dan turunnya Nabi Isa a.s hingga terjadinya kiamat, telah disampaikan oleh Rasulullah saw, sebagaimana disebutkan salah satunya dalam Hadits riwayat Muslim dengan jalur yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Amr  bahwa Nabi saw bersabda:
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِي أُمَّتِي فَيَمْكُثُ أَرْبَعِينَ
"AdDajjal akan keluar ditengah-tengah ummatku lalu ia tinggal selama empatpuluh;
لَا أَدْرِي أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ أَرْبَعِينَ شَهْرًا أَوْ أَرْبَعِينَ عَامًا
aku tidak tahu apakah empat puluh hari, bulan ataukah tahun
 فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ
kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam, Beliau itu mirip Urwah bin Mas'ud, Beliau mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu manusia tinggal selama tujuh tahun, tanpa ada permusuhan diantara dua orang pun.
 ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلَا يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلَّا قَبَضَتْهُ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ دَخَلَ فِي كَبَدِ جَبَلٍ لَدَخَلَتْهُ عَلَيْهِ حَتَّى تَقْبِضَهُ
Kemudian Allah mengirim angin sejuk dari arah Syam, maka tiadalah akan tersisa diatas muka bumi ini seorangpun yang didalam hatinya ada kebaikan atau keimanan walaupun sebesar dzarrah kecuali dicabut nyawanya melalui angin tersebut, hingga jika pun salah seorang dari kalian masuk ke dalam gunung pasti angin itu memasukinya lalu mencabut nyawanya."
 قَالَ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ فِي خِفَّةِ الطَّيْرِ وَأَحْلَامِ السِّبَاعِ لَا يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا فَيَتَمَثَّلُ لَهُمْ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ أَلَا تَسْتَجِيبُونَ فَيَقُولُونَ فَمَا تَأْمُرُنَا فَيَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَهُمْ فِي ذَلِكَ دَارٌّ رِزْقُهُمْ حَسَنٌ عَيْشُهُمْ
Ia berkata: Aku mendengarnya dari Rasulullah saw bersabda: "Yang tersisa hanyalah seburuk-buruknya manusia bagaikan ringannya burung dan berperilaku binatang, mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran. Maka syaitan menggambarkan untuk mereka sebagai contoh lalu berkata: 'Apa kalian tidak menjawab?, Mereka bertanya: 'Apa yang kau perintahkan pada kami? ', lalu syaitan menyuruh mereka menyembah patung, dan mereka dalam kondisi demikian, Rizki mereka lancar dan kehidupan mereka baik.
 ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا قَالَ وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ قَالَ فَيَصْعَقُ وَيَصْعَقُ النَّاسُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللَّهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ نُعْمَانُ الشَّاكُّ فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ
Kemudian sangkakala ditiup, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan memiringkan leher dan mengangkat leher." Beliau bersabda: "Dan orang pertama yang mendengarnya adalah seseorang yang sedang merenovasi kolam untuk untanya." Nabi bersabda: "Ia mati dan orang-orang pun mati. Setelah itu Allah mengirim -atau Beliau bersabda: Menurunkan hujan lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia,
 ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ {وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ} قَالَ ثُمَّ يُقَالُ أَخْرِجُوا بَعْثَ النَّارِ فَيُقَالُ مِنْ كَمْ فَيُقَالُ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ قَالَ فَذَاكَ يَوْمَ {يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا} وَذَلِكَ {يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ}
'Kemudian sangkakala ditiup lagi , Maka seketika mereka berdiri menunggu keputusan. Kemudian dikatakanlah : "Wahai manusia, kemarilah menuju Rabb kalian (Dan tahanlah mereka di tempat perhentian, Karena Sesungguhnya mereka akan ditanya) “(Ash Shaaffaat: 24). Lalu Nabi bersabda: Kemudian dikatakan:"Keluarkanlah utusan api.' Dikatakan: Dari berapa? Dijawab: Sembilanratus sembilanpuluh sembilan untuk setiap seribu." Beliau bersabda: " Itulah 'hari yang menjadikan anak-anak beruban.' (Al Muzzammil: 17) dan itulah 'Hari betis disingkapkan'." (Al Qalam: 42). –alHadits-
            Dari penjelasan Hadits diatas, dapat diketahui bahwa sebelum turunnya Nabi Isa a.s, akan keluar dahulu dajjal yang akan menimbulkan fitnah kepada manusia , untuk membujuk dan mengajak mereka supaya kafir kepada Allah Ta’ala, karena dajjal memiliki kekuatan dan kemampuan luar biasa yang telah Allah taqdirkan. Dajjal akan menjelajahi seluruh negeri, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Nabi saw bersabda :
لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ، إِلَّا مَكَّةَ، وَالْمَدِينَةَ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ، إِلَّا عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا، ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ بِأَهْلِهَا ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ، فَيُخْرِجُ اللَّهُ كُلَّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ [22]
Tiada satu negeri pun melainkan Dajjal akan menjejakkan kakinya disana, kecuali Makkah dan Madinah, sebab tiada satupun pintu masuknya melainkan ada malaikat berbaris menjaganya. Kemudian Madinah dan penduduknya berguncang 3 kali guncangan, lalu Allah mengeluarkan setiap orang kafir dan munafiq.
Disebutkan pula dalam Hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud, bahwa Nabi saw bersabda:
إِنْ يَخْرُجْ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوهُ وَإِنْ يَخْرُجْ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا حَتَّى الشَّامِ مَدِينَةٍ بِفِلَسْطِينَ بِبَابِ لُدٍّ
"Jika dajjal telah keluar dan Aku masih hidup maka Aku akan membela kalian, namun Dajjal keluar sesudahku, maka sesungguhnya Rabb kalian 'Azza wa Jalla tidaklah buta sebelah (bermata satu) dan Dajjal akan keluar di Yahudi Ashbahan hingga ia datang ke Madinah dan turun di tepinya yang mana Madinah pada waktu itu memiliki tujuh pintu, pada setiap pintu terdapat malaikat yang menjaga, lalu sejelek-jelek penduduk madinah akan menuju kepada Dajjal hingga ke Syam tepat di kota palestina di pintu Lud."   
            Kemudian Nabi Isa a.s turun ke bumi, dan setelah membunuh Dajjal, Beliau a.s menetap di bumi selama 40 tahun menjadi imam dan hakim yang adil.  Abu Daud berkata:
حَتَّى يَأْتِيَ فِلَسْطِينَ بَابَ لُدٍّ فَيَنْزِلَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام فَيَقْتُلَهُ ثُمَّ يَمْكُثَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً إِمَامًا عَدْلًا وَحَكَمًا مُقْسِطًا
"Hingga dajjal datang di palestina di pintu Lud, lalu Isa a.s turun dan membunuhnya, kemudian Isa a.s tinggal di bumi selama empat puluh tahun dan menjadi imam yang adil dan hakim yang adil.
            Demikian urgensi dakwah Nabi Isa a.s kepada dua ummat tersebut adalah mengajak manusia kepada Agama Tauhid yakni Islam, yang esensi dakwahnya telah dijelaskan dalam hadits Nabi saw yang menerangkan bahwa Nabi Yahya a.s dan Isa a.s diperintahkan oleh Allah untuk memerintahkan kepada ummatnya dengan 5 perkara  [23], yakni :
أَوَّلُهُنَّ أنْ تَعْبَدُوا الله وَلا تُشْركُوا بِهِ شَيْئَاً، وَمَثَلُ ذلِكَ مَثَلُ رَجُلٍ اشْتَرَى عَبْداً بِخَالِصِ مَالِهِ، بِذَهَبٍ أَوْ وَرِقٍ، فَقَالَ لَهُ: هذِهِ دَارِي وَهذَا عَمَلِي، فَجَعَلَ الْعَبْدُ يَعْمَلُ وَيُؤَدِّي إلى غَيْرِ سَيِّدِهِ، فَأَيُّكُمْ يَسُرُّهُ أَنْ يَكُونَ عَبْدُهُ هكَذَا؟ وَإن اللهَ خَلَقَكُم وَرَزَقَكُمْ، فَاعْبُدُوهُ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً
1. Yang pertama, hendaklah kalian beribadah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Perumpamaan orang yang menyekutukan Allah sama seperti seseorang yang membeli budak dengan hartanya yang bersih , baik uang emas atau lembaran lalu ia berkata; Ini rumahku dan ini pekerjaanku, bekerjalah dan tunaikan untukku. Tapi budak itu malah bekerja dan menunaikan untuk orang lain, siapa di antara kalian yang mau budaknya seperti itu?. Sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian dan memberi kalian rizqi, maka sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya sedikitpun.
 وَآمُرُكُمْ بِالصَّلاَةِ، فَإِذَا صَلَّيْتُمْ، فَلاَ تَلْتَفِتُوا، فَإنَّ الْعَبْدَ إذَا لَمْ يَلْتَفِتِ ، اسْتَقْبَلَهُ -جَلَّ وَعَلاَ- بِوَجْهِهِ.
2.  Dan Aku perintahkan kalian dengan sholat, maka jika kalian sholat janganlah berpaling kesana kemari, sesungguhnya seorang hamba ketika ia tidak memalingkan wajahnya, maka Allah Jalla wa ‘Ala menghadapkan “wajah-Nya” kepadanya.
 وَآمُرُكُمْ بالصِّيام، وَإنَّما مَثَلُ ذلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ مَعَهُ صُرَّةٌ فِيهَا مِسْكٌ وَعِنْدَهُ عِصَابَةٌ يَسُرُّهُ أَنْ يَجِدُوا رِيحَهَا، فَإنَّ رِيحَ الصَّائِمِ عِنْدَ الله أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ.
3. Aku perintahkan kalian dengan shaum, sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti seseorang yang membawa misk (minyak wangi) dan bersamanya ada sekelompok orang yang senang bersamanya karena mereka mendapatkan wanginya, maka sesungguhnya bau (mulutnya) nya orang yang shaum di Sisi Allah adalah lebih wangi daripada wangi kesturi.
 وَآمُرُكُمْ بالصَّدَقَةِ، وَإنَّ مَثَلَ ذلِكَ كَمَثَلِ رَجُل أَسَرَهُ الْعَدُوُّ فَاأَوْثَقُوا يدَهُ إلَى عُنُقِهِ وَأرَادُوا أَنْ يَضْرِبُوا عُنُقَهُ، فَقَالَ: هَلْ لَكُمْ أَنْ أَفْدِيَ نَفْسِي؟ فَجَعَلَ يُعْطِيهِمُ الْقَلِيلَ وَالْكَثِيرَ لِيَفُكَّ نَفْسَهُ مِنْهُمْ.
4.  Aku perintahkan kalian agar bershadaqah, sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti seseorang yang ditawan oleh musuh lalu tangannya diikat ke lehernya, lalu mereka hendak memenggal lehernya, maka seseorang tersebut berkata : “Bisakah aku tebus dengan diriku untuk kalian?. Kemudian dia memberi mereka sedikit dan banyak untuk membebaskan dirinya dari mereka”.
 وَآمُرُكُمْ بِذِكْرِ الله، فَإنَّ مَثَلَ ذلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ طَلَبَهُ الْعَدُوُّ سِرَاعاً فِي أَثَرِهِ فَأَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ فِيهِ، فَكَذلِكَ الْعَبْدُ لايُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ الله"
5.   Aku perintahkan kalian dengan dzikrullaah, sesungguhnya perumpamaan orang yang berdzikir adalah seperti seseorang yang dikejar oleh musuh dengan cepat, kemudian ia tiba dibenteng yang kokoh lalu memperlindungkan dirinya, maka begitulah pula seorang hamba, tidak  ada yang dapat menjaga dirinya dari Syaitan kecuali dengan dzikrullaah.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa dakwahnya Isa a.s kepada ummat Muhammad saw yakni mengajak manusia seluruhnya kembali kepada kesucian Islam, sehingga saat itu tidak ada lagi penganut Yahudi juga Nashrani, hanya ada satu dakwah saja yakni dakwah kepada Islam. Ini disebutkan dalam satu hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya yang bersumber dari Abu Hurairah r.a, bahwa Nabi saw bersabda :
يُوشِكُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ أَنْ يَنْزِلَ حَكَمًا قِسْطًا، وَإِمَامًا عَدْلًا، فَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَتَكُونَ الدَّعْوَةُ وَاحِدَةً [24]
“Isa bin Maryam nyaris akan turun sebagai Hakim dan Imam yang adil, kemudian membunuh babi, menghancurkan salib. Dan akan ada satu dakwah saja”.
Demikian sekelumit kisah  Isa a.s yang dapat tersaji dalam artikel sederhana ini. Wallaahu a’lam
In Syaa Allah bersambung ke akhlaq Nabi Isa a.s.
 
MARAJI'

[1]  Para ‘Ulama berbeda penjelasan mengenai Maryam apakah beliau itu termasuk Nabi ataukah bukan, adapun jumhur ‘ulama telah menyebutkan sebagaimana yang dihikayatkan Abul Hasan al Asy’ari dan yang lainnya dari kalangan Ahlu Sunnah walJama’ah, bahwa kenabian itu khusus bagi laki-laki, tidak untuk wanita. Adapun kedudukan Maryam, Allah telah meninggikannya sebagaimana disebutkan dalam Firman-Nya :
مَاالْمَسِيحُ ابن مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ
“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul,yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya adalah seorang yang sangat benar...” (Q.S. AlMaidah:75).
Atas dasar ayat inilah maka sebagaian ‘Ulama menyebutkan bahwa Maryam tidak termasuk seorang Nabi. (Lihat : قَصَصُ الأنْبِيَاءِ-للإمام الحافظ ابن كثير )
[2]   Lihat : قصص الأنبياء – علي محمد علي دخيّل , namun sebagai catatan khusus : saya pernah mendapatkan dalam satu literatur bahwa kitab ini dan pengarang nya (Ali Muhammad Ali Dakhayyal) termasuk kedalam buku-buku yang bermadzhab syi’ah. Allaahu A’lam. Dan saya menukil ini untuk menunjukan bahwa ada pendapat yang menjelaskan tentang ibunya Maryam itu demikian sebagaimana yang saya kutip.
[3] Lih tafsir Surat Ali Imran ayat 33 dalam kitab : البحر المحيط في التفسير 3/ 113
[4]  Lihat : المسند (1/293) وقال الهيثمي في المجمع (9/223) : "رجاله رجال الصحيح"
[5]  Lih : تفسير المراغي
[6]  Lih: تفسير القرآن العظيم
[7] Lih:  الهداية إلى بلوغ النهاية في علم معاني القرآن, الوجيز في تفسير الكتاب العزيز
[8]  Lih:  تفسير البغوي - إحياء التراث 3/ 229
[9] Lih: تفسير المراغي 16/ 44
[10] Lih : أضواء البيان في إيضاح القرآن بالقرآن 3/ 414
[11]  Lih : الهداية الى بلوغ النهاية 7/ 4515
[12]  Lihat Sababunnuzul Surat Ali Imran : https://www.wijad.com/2018/04/tarif-surat-ali-imran.html
[13] صحيح البخاري- بابُ قَوْلِهِ: يَا أَهْلَ الكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
[14]  تفسير ابن أبي حاتم (7/2408)
[16]  Kisah bani Israil yang meminta kepada Nabi Isa a.s agar Allah menurunkan hidangan dari langit disebutkan dalam alQuran surat alMaaidah ayat 112-115, silakan dirujuk.
[17] Lihat : ( تفسير القرطبي (6/ 252
[18] H.R. Muslim dalam bab : بَيَان نُزُولِ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ حَاكِمًا
[19]  Lihat : تفسير القرطبي
[20]  Lihat : تفسير القاسمي = محاسن التأويل (3\442)
[21] Ibid.
[22]  صحيح البخاري - بَابٌ: لاَ يَدْخُلُ الدَّجَّالُ المَدِينَةَ

[23]  Lihat :
موارد الظمآن إلى زوائد ابن حبان (4\133) باب فيما أمر الله تعالى به الأنبياء صلى الله عليهم أن يبلغوه العباد
[24]   مسند الإمام أحمد بن حنبل (15/ 62)- المكتبة الشاملة

0 Comments

Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik