Ramadhan telah berlalu dan meninggalkan kerinduan mendalam di dalam jiwa hamba-hamba Allah yang salih. Apa sebenarnya yang mereka rindukan? Tentu pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab karena nuansa kerinduan tersebut begitu syahdu hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, Ramadhan memiliki ikatan emosional dan spiritual yang begitu khusus di dalam hati orang-orang beriman—sebuah ikatan personal yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah ‘Azza wa Jalla.
Ramadhan sejatinya memang dipenuhi dengan nuansa tarbiyah (pendidikan jiwa) yang sarat akan kepatuhan dan ketaatan. Bagaimana tidak? Seseorang yang menunaikan shaum (puasa) dengan penuh kesabaran menjaga dirinya dari segala perbuatan dosa dan kesia-siaan. Ia menahan haus dan lapar, padahal tiada satu pun manusia yang dapat mengetahui secara pasti apakah ibadah puasanya itu dilakukan secara jujur atau sekadar pura-pura di hadapan orang lain. Ia tetap melakukannya karena dilandasi keyakinan yang kuat bahwa Allah Maha Melihat. Kesadaran inilah yang membuatnya tunduk dan patuh memenuhi hak-hak-Nya demi meraih derajat takwa.
Sebagaimana telah mafhum, Allah mewajibkan puasa Ramadhan agar setiap hamba mencapai derajat ketakwaan yang sejati. Bahkan, balasan pahalanya pun tidak terhingga. Sebagaimana Rasulullah ﷺ sampaikan dalam sebuah hadis qudsi:
Artinya, nilai ketakwaan di dalam puasa memiliki keistimewaan tersendiri; pahalanya tidak diukur sekadar dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat seperti amal salih lainnya, melainkan diberikan secara mutlak tanpa batas oleh Allah SWT. Hal ini juga ditegaskan dalam riwayat lain dari Nabi ﷺ:
Selain itu, Ramadhan juga dipenuhi dengan nuansa tazkiyatunnafs (penyucian jiwa). Hari-hari di dalamnya menuntut penjagaan diri yang sangat ketat: lisan dijaga, gejolak syahwat dikekang, dan hati dibersihkan dari rasa benci, kedengkian, dendam, serta berbagai penyakit hati lainnya. Maka, sangat pantas jika seorang hamba yang sukses melalui sekolah Ramadhan—dengan kualitas salat, puasa, sedekah, dan qiyamullail yang optimal—akan berhasil meraih derajat yang paling tinggi, yakni takwa.
Seluruh unsur ibadah di bulan Ramadhan, apabila dikerjakan dengan niat yang lurus dan tata cara (kaifiyat) yang benar, terbukti mampu menyucikan jiwa pelakunya. Di dalamnya terikat proses tahdzib (pembinaan) dan ta'dib (penanaman adab) melalui tazkiyatunnafs, yang tidak bisa dipisahkan antara mujahadah amalan batin dan amalan lahir. Jiwa dan raganya berpuasa, diiringi dengan salat, zikir, tobat, serta amal-amal kebaikan lainnya.
Secara esensial, puasa Ramadhan mendidik jiwa seorang hamba untuk meninggalkan serta menjauhkan diri dari segala bentuk dosa dan keburukan yang berpotensi merusak hati serta menghalangi cahaya hidayah dan iman. Inilah perwujudan dari karakteristik takhalli dalam konsep tazkiyatunnafs, yakni mengosongkan diri dari berbagai perilaku tercela, untuk kemudian menghiasinya dengan amal-amal yang diridhai oleh Allah SWT.
Hal ini diisyaratkan pula melalui sifat wajilah (rasa takut dan gemetar penuh harap) yang melekat pada diri hamba-hamba beriman, sebagaimana firman Allah SWT:
Pernah suatu ketika, Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai siapakah sosok yang dimaksud sebagai orang-orang yang penuh rasa takut di dalam ayat tersebut:
Sungguh, nuansa sikap dan sifat mulia tersebut begitu terasa hadir membersamai hari-hari di bulan Ramadhan melalui rangkaian ibadah puasa, salat, dan sedekah yang kita tunaikan. Bahkan, indahnya penghujung Ramadhan pun ditutup secara sempurna dengan disyariatkannya zakat fitrah. Alangkah beruntungnya mereka yang mampu meresapi rasa wajilah di dalam hatinya—sebuah rasa takut bercampur harap yang justru memicu mereka untuk semakin gesit dan konsisten dalam menebar kebaikan serta amal salih.
Demikianlah Ramadhan hadir membawa misi besar berupa tarbiyah dan tazkiyatunnafs. Semoga Allah masih memberikan kita kesempatan umur panjang untuk kembali berjumpa dengannya di tahun-tahun mendatang.
Tidak ada komentar
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir di blog ini, silakan komentar dengan bijak.
Baarakallahu fiik